Kolom
Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Marsinah: Sejarah yang Terasa Berulang
Sejak saya mengikuti perkembangan kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, ada sesuatu yang tak bisa diabaikan. Bukan sekadar karena kekerasannya yang brutal, yang dengan mudah mengguncang nurani siapa pun, melainkan karena lapisan-lapisan peristiwa yang menyertainya terasa seperti tidak sepenuhnya terbuka. Seolah ada bagian dari cerita yang bergerak di balik tirai, samar, namun nyata.
Kondisi Andrie Yunus hari ini bukan hanya persoalan medis. Ia adalah gambaran manusia yang dipaksa bernegosiasi ulang dengan tubuhnya sendiri. Luka yang ia tanggung bukan hanya pada kulit, tetapi juga pada rasa aman, pada kepercayaan terhadap dunia di sekitarnya.
Dalam titik ini, negara seharusnya hadir dengan penuh empati, bukan hanya melalui perawatan, tetapi juga lewat jaminan bahwa keadilan akan ditegakkan secara terang-benderang.
Namun yang muncul justru kesan sebaliknya. Perhatian publik seperti dialihkan dari penderitaan korban menuju prosedur hukum yang terasa kaku dan tidak sepenuhnya transparan.
Di ruang sidang, kejanggalan-kejanggalan itu semakin terasa. Alur peristiwa yang tidak utuh, kesaksian yang membuka kemungkinan baru, hingga munculnya nama-nama dengan latar belakang institusi negara. Semuanya menciptakan tanda tanya yang sulit diabaikan.
Ini bukan lagi sekadar perkara kriminal biasa. Ketika ada indikasi keterlibatan pihak yang memiliki relasi dengan kekuasaan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nasib satu korban, tetapi juga kredibilitas sistem hukum itu sendiri.
Kemunculan sejumlah saksi yang berani berbicara justru memperdalam kegelisahan. Mereka seperti membuka celah pada dinding yang selama ini tampak kokoh. Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan yang lebih besar, apakah celah ini akan benar-benar diperlebar hingga kebenaran terungkap sepenuhnya, atau justru akan segera ditutup kembali atas nama stabilitas?
Terdapat kesan kuat bahwa proses ini tidak sepenuhnya bergerak bebas, melainkan berada dalam tarik-menarik kepentingan yang tidak kasat mata.
Di titik ini, narasi yang mulai menyandingkan kasus Andrie Yunus dengan Marsinah terasa bukan sekadar perbandingan historis, melainkan sebuah peringatan. Marsinah menjadi simbol dari keadilan yang tersendat, dari kebenaran yang pernah terkubur di bawah kepentingan yang lebih besar.
Ketika nama itu kembali disebut, publik tidak sedang bernostalgia. Mereka sedang mengingat kemungkinan terburuk bahwa sejarah bisa saja berulang, dengan wajah yang berbeda.
Perbandingan ini tentu tidak bisa disederhanakan. Setiap kasus memiliki konteksnya sendiri. Namun, kemunculan rasa khawatir itu menunjukkan satu hal penting, yakni kepercayaan publik sedang diuji. Dan kepercayaan, sekali retak, tidak mudah diperbaiki.
Saya melihat ada dua kemungkinan yang berjalan beriringan dalam kasus ini. Di satu sisi, ada upaya untuk benar-benar mengungkap kebenaran, didorong oleh keberanian saksi dan tekanan publik. Di sisi lain, ada potensi pengelolaan narasi, di mana fakta-fakta tertentu dipilih, disusun, atau bahkan disisihkan demi menjaga batas-batas tertentu yang dianggap aman.
Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar, apakah yang kita saksikan ini proses pencarian keadilan, atau justru pengendalian persepsi?
Keadilan sejatinya tidak hanya diukur dari putusan akhir. Ia hidup dalam setiap tahap proses, dalam keterbukaan informasi, dalam keberanian menghadirkan fakta, dan dalam kesediaan untuk menindak siapa pun yang terlibat tanpa pandang bulu. Jika prosesnya sudah diliputi keraguan, maka bahkan vonis yang paling tegas pun bisa kehilangan maknanya.
Kasus Andrie Yunus seharusnya menjadi ujian sekaligus kesempatan. Ujian untuk melihat sejauh mana hukum mampu berdiri independen di tengah tekanan. Kesempatan untuk membuktikan bahwa negara tidak hanya hadir dalam retorika, tetapi juga dalam keberanian moral.
Namun jika yang terus muncul justru kejanggalan demi kejanggalan, maka wajar apabila publik mulai bertanya, mulai meragukan, bahkan mulai menjaga jarak dari kepercayaan yang dulu mereka berikan.
Dan dalam kegelisahan itu, saya tidak sendiri lho.