Kolom
Jebakan 'Aji Mumpung' Lebaran: Saat Harga Ikan Bakar Setara Fine Dining
Sobat Yoursay, pernah tidak kamu merasa seperti sedang dirampok secara halus saat sedang asyik-asyiknya menikmati liburan? Saya baru saja mengalaminya kemarin, dan rasanya masih ada "nyut-nyutan" sedikit di dada—dan tentu saja di dompet.
Ceritanya, setelah sebulan penuh berpuasa, saya beserta keluarga memutuskan untuk jalan-jalan ke sebuah pantai yang cukup populer di daerah sebelah. Bayangannya sih bisa duduk di pinggir pantai, tiupan angin sepoi-sepoi, sambil menikmati kelapa muda dan ikan bakar. Tapi nyatanya, realitas lapangan jauh lebih "bertenaga" daripada ekspektasi saya.
Baru saja masuk area parkir, saya sudah disapa oleh oknum pemuda setempat yang menyodorkan secarik kertas fotokopian buram bertuliskan Rp20.000 untuk parkir mobil. Padahal, di papan resmi Dinas Perhubungan yang terpampang agak jauh di belakang, tarifnya jelas tertulis Rp5.000. Saat saya mencoba bertanya, jawabannya: "Ini tarif hari raya, Mbak."
Sobat Yoursay, di momen seperti itu, kita sering kali berada di posisi dilematis. Mau protes keras, takut merusak suasana liburan keluarga. Mau bayar begitu saja, batin ini berontak karena merasa akal sehat kita sedang dikepras habis-habisan. Akhirnya, dengan berat hati, lembaran dua puluh ribu itu berpindah tangan.
Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai saat kami duduk di sebuah warung lesehan. Tanpa pikir panjang—karena perut sudah keroncongan—kami memesan dua porsi ikan bakar dan empat gelas es jeruk. Kesalahan fatal saya adalah tidak menanyakan harga terlebih dahulu karena menganggap ini warung biasa di pinggir jalan. Begitu tagihan datang, saya nyaris tersedak karena angka yang tertera di nota tulis tangan itu mencapai ratusan ribu rupiah. Harga ikan bakarnya mendadak setara dengan menu fine dining di pusat kota!
Fenomena getok harga ini sebenarnya adalah pola klasik "panen raya" yang salah kaprah. Banyak pedagang musiman yang merasa Lebaran adalah satu-satunya kesempatan untuk menutup sepinya pendapatan di hari biasa. Mereka menggunakan logika "aji mumpung": mumpung ramai, mumpung orang sedang pegang uang THR, dan mumpung orang malas berdebat saat liburan.
Masalahnya, Sobat Yoursay, mereka lupa bahwa satu kuitansi gila-gilaan yang difoto dan diunggah ke media sosial bisa menghancurkan reputasi seluruh kawasan wisata tersebut dalam hitungan menit. Kita sudah sering melihat berita viral tentang warung yang akhirnya sepi atau bahkan ditutup paksa karena mematok harga yang tidak masuk akal.
Dampaknya bukan cuma ke kantong kita, tapi ke citra daerah itu sendiri. Wisatawan yang kapok seperti saya mungkin tidak akan pernah mau kembali lagi ke sana. Bayangkan jika ribuan orang merasakan hal yang sama. Ini namanya "bunuh diri ekonomi".
Pemerintah daerah mungkin sudah membangun jalan yang mulus dan fasilitas yang bagus, tapi semua itu runtuh hanya karena segelintir oknum yang rakus. Sobat Yoursay, bukankah sangat disayangkan jika potensi wisata kita yang indah-indah ini harus tercoreng karena etika berdagang yang hilang?
Pengalaman kemarin benar-benar memberi saya pelajaran berharga. Sekarang, saya punya aturan pribadi yang tidak boleh dilanggar, bahwa seberapa pun laparnya, selalu tanya harga atau minta buku menu di awal. Jika pedagangnya bilang "harganya standar kok, Mbak", maka itu adalah red flag alias sinyal bahaya bagi saya.
Jangan pernah malu untuk terlihat "perhitungan" di depan pedagang, karena menjadi wisatawan yang cerdas adalah hak kita. Kita bekerja keras untuk mencari uang, dan kita berhak mendapatkan layanan yang sebanding dengan apa yang kita bayarkan.
Selain itu, saya merasa pengawasan di lapangan memang harus lebih galak. Tidak cukup hanya dengan imbauan di media massa. Harus ada petugas yang benar-benar berkeliling atau setidaknya ada nomor pengaduan yang terpampang besar-besar di setiap sudut objek wisata.
Sobat Yoursay, liburan Lebaran seharusnya menjadi momen untuk membasuh lelah, bukan justru menambah stres karena merasa diperas. Kita ingin pulang membawa kenangan manis tentang senja di pantai, bukan kenangan pahit tentang harga es jeruk yang harganya seperti emas cair.
Jadi, Sobat Yoursay, adakah yang punya pengalaman serupa atau bahkan lebih "ajaib" dari saya selama libur Lebaran ini? Bagaimana cara kamu menghadapi pedagang atau tukang parkir yang harganya mendadak selangit?
Mari kita lebih berani bersuara jika menemukan hal seperti ini, bukan untuk menjatuhkan usaha orang lain, tapi demi kebaikan ekosistem wisata kita sendiri dalam jangka panjang.