Kolom

Glorified Internships: Saat Magang Berubah Menjadi Perbudakan Modern

Glorified Internships: Saat Magang Berubah Menjadi Perbudakan Modern
Ilustrasi pekerja magang (Pexels/Ron Lach)

Bagi banyak dari kita yang baru saja melempar toga ke udara, dunia kerja sering kali dibayangkan sebagai gerbang menuju kemandirian finansial. Kita membayangkan meja kantor yang rapi, kartu nama dengan jabatan mentereng, dan gaji pertama yang bisa digunakan untuk mentraktir orang tua.

Namun, realitas yang menyambut di depan pintu kantor sering kali jauh dari ekspektasi tersebut. Alih-alih mendapatkan kontrak kerja tetap, banyak lulusan baru justru terjebak dalam pusaran tanpa akhir yang kini dikenal sebagai glorified internships. Fenomena ini, Sobat Yoursay, adalah sebuah anomali di mana posisi magang yang seharusnya menjadi tempat belajar, justru berubah fungsi menjadi tenaga kerja penuh waktu dengan harga diskon besar-besaran.

Program magang atau internship secara filosofis memang diciptakan sebagai jembatan antara dunia akademis dan industri. Di sana, kita seharusnya menjadi pengamat yang belajar, dibimbing oleh mentor, dan diberikan beban kerja yang sesuai dengan kapasitas sebagai pemula. Namun, yang terjadi belakangan ini justru sebaliknya.

Banyak perusahaan, terutama di kota-kota besar, mulai memanfaatkan label "magang" untuk mengisi posisi-posisi penting. Kamu mungkin pernah mendengar, atau bahkan mengalami sendiri, seorang pemagang yang memegang tanggung jawab mengelola seluruh media sosial perusahaan, membuat laporan bulanan yang rumit, hingga lembur sampai tengah malam untuk mengejar deadline klien, namun hanya dibayar dengan "uang transport" yang bahkan tidak cukup untuk membayar biaya kos dan makan siang selama sebulan.

Eksploitasi berkedok "cari pengalaman" ini telah menjadi rahasia umum yang seolah-olah divalidasi oleh keadaan pasar kerja yang sulit. Perusahaan sering kali menggunakan narasi bahwa pengalaman jauh lebih berharga daripada materi. Memang benar bahwa pengalaman adalah guru terbaik, tapi pengalaman tidak bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik atau membeli beras. Sobat Yoursay harus jeli melihat batasannya, kapan sebuah magang berhenti menjadi proses edukasi dan kapan mulai berubah menjadi bentuk perbudakan modern.

Data di lapangan sering kali menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Banyak program magang yang berlangsung hingga enam bulan, bahkan setahun, tanpa kejelasan jenjang karier setelahnya. Begitu masa magang habis, perusahaan bukannya mengangkat si pemagang menjadi karyawan tetap, melainkan membuka lowongan magang baru untuk posisi yang sama.

Ini adalah pola yang sangat menguntungkan bagi perusahaan—mereka mendapatkan tenaga kerja muda yang enerjik, memiliki skill terkini, dan sangat bersemangat untuk membuktikan diri, tanpa harus memenuhi kewajiban hukum seperti membayar jaminan kesehatan, THR, atau upah sesuai standar minimum.

Masalah ini semakin pelik bagi mereka yang tidak datang dari keluarga mampu. Magang tanpa bayaran atau dengan upah minimalis hanya bisa dinikmati oleh mereka yang masih memiliki dukungan finansial dari orang tua.

Bagi anak muda yang harus mandiri atau bahkan membantu ekonomi keluarga, glorified internships adalah tembok besar yang menghalangi mobilitas sosial mereka. Hal ini menciptakan ketimpangan baru di dunia kerja; di mana posisi-posisi di perusahaan bergengsi hanya bisa diakses oleh mereka yang "mampu untuk tidak dibayar."

Jika ini terus dibiarkan, dunia kerja kita hanya akan diisi oleh kelompok elit, sementara mereka yang berbakat namun terbatas secara finansial akan terus terpinggirkan karena tidak sanggup menjalani masa magang abadi.

Sudah saatnya kita mengubah narasi bahwa menjadi pemagang berarti harus mau dieksploitasi. Pemerintah dan regulator memiliki peran besar untuk memperketat aturan mengenai magang, memastikan ada batasan jelas mengenai beban kerja dan standar kompensasi minimum yang manusiawi.

Perusahaan pun harus mulai sadar bahwa investasi terbaik bukan pada penghematan gaji lewat jalur magang, melainkan pada pengembangan talenta yang dihargai secara adil sejak hari pertama. Pekerja yang merasa dihargai akan memberikan loyalitas dan kreativitas yang jauh melampaui mereka yang bekerja di bawah tekanan rasa takut dan kekurangan finansial.

Bagi kamu, Sobat Yoursay, yang mungkin saat ini sedang berada di posisi tersebut, penting untuk tetap kritis. Jangan ragu untuk bertanya secara detail mengenai job description dan hak-hak yang akan diterima sebelum menandatangani kontrak magang. Evaluasi secara berkala, apakah kamu masih mendapatkan ilmu baru, atau kamu hanya sedang melakukan pekerjaan administratif yang membosankan tanpa ada mentor yang mendampingi?

Momentum Hari Buruh ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perjuangan kolektif para pekerja tidak boleh meninggalkan barisan anak muda yang terjebak dalam skema magang semu ini. Menuntut regulasi magang yang lebih manusiawi adalah bentuk nyata dari semangat May Day di era modern. Karena kesejahteraan buruh adalah tentang memastikan bahwa setiap tetes keringat dan ide yang kita berikan tidak dibayar dengan janji kosong "pengalaman", melainkan dengan keadilan yang nyata bagi masa depan generasi muda.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda