Kolom

FOMO atau Tak Ada Waktu: Mengapa Tetap Liburan Meski Tahu Akan Berdesakan?

FOMO atau Tak Ada Waktu: Mengapa Tetap Liburan Meski Tahu Akan Berdesakan?
Ilustrasi perkotaan (Pixabay/ahundt)

Setiap kali libur panjang datang, kita seperti sedang menonton adegan yang berulang tanpa banyak perubahan. Jalan menuju destinasi wisata tersendat, tempat-tempat populer dipadati manusia, harga melonjak, dan keluhan bermunculan di mana-mana. Anehnya, semua itu bukan hal baru. Kita sudah tahu pola ini, bahkan bisa memprediksinya dengan cukup akurat. Namun pengetahuan itu tidak pernah benar-benar berfungsi sebagai rem. Kita tetap pergi.

Di sinilah paradoks itu bekerja. Ada jarak antara apa yang kita ketahui dan apa yang kita lakukan. Dalam banyak kasus, keputusan untuk tetap berangkat bukan didasarkan pada pertimbangan rasional semata, melainkan pada dorongan yang lebih dalam, yang sering kali sulit diartikulasikan. Kita tidak sekadar ingin liburan, tetapi juga ingin merasa tidak tertinggal. Ketika linimasa mulai dipenuhi foto perjalanan orang lain, muncul semacam kegelisahan halus yang mendorong kita untuk ikut bergerak.

Fenomena ini mencerminkan apa yang bisa disebut sebagai penyangkalan kolektif. Kita tahu akan macet, tetapi membayangkan bahwa mungkin kali ini tidak akan seburuk itu. Kita sadar akan keramaian, tetapi tetap berharap bisa menemukan celah kenyamanan. Harapan-harapan kecil ini menjadi justifikasi yang cukup untuk mengambil keputusan yang, secara logika, sebenarnya bisa ditunda atau dihindari.

Libur sebagai Katup Tekanan Sosial dan Ekonomi

Untuk memahami mengapa orang tetap pergi, kita perlu melihat libur panjang bukan hanya sebagai momen rekreasi, tetapi sebagai katup tekanan. Dalam ritme kerja yang semakin padat dan sering kali tidak memberi ruang jeda yang memadai, libur panjang menjadi satu-satunya waktu yang tersedia untuk bernapas. Pilihannya menjadi terbatas: pergi sekarang atau tidak sama sekali dalam waktu dekat.

Kondisi ini diperparah oleh struktur kerja yang tidak fleksibel. Banyak pekerja tidak memiliki keleluasaan untuk mengambil cuti di luar kalender yang sudah ditentukan. Akibatnya, jutaan orang bergerak dalam waktu yang hampir bersamaan, menciptakan kepadatan yang sulit dihindari. Dalam situasi seperti ini, keputusan individu sebenarnya adalah bagian dari pola yang lebih besar, yang dibentuk oleh sistem.

Di sisi lain, ada pula dimensi ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Industri pariwisata, dari transportasi hingga akomodasi, justru bergantung pada momen-momen puncak seperti ini. Promosi, diskon, dan paket liburan dirancang untuk menarik sebanyak mungkin orang dalam periode yang sama. Kita didorong untuk merasa bahwa ini adalah waktu yang “tepat” untuk pergi, bahkan ketika semua indikator menunjukkan sebaliknya.

Lebih jauh lagi, liburan telah menjadi bagian dari identitas kelas menengah urban. Pergi ke destinasi tertentu bukan hanya soal melepas penat, tetapi juga tentang menunjukkan bahwa kita mampu mengakses pengalaman tersebut. Dalam konteks ini, kepadatan dan ketidaknyamanan sering kali dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima demi mempertahankan posisi dalam lanskap sosial yang kompetitif.

Mencari Alternatif di Tengah Arus yang Seragam

Jika semua orang tahu bahwa libur panjang identik dengan kepadatan, lalu mengapa sulit sekali mengubah pola ini. Salah satu jawabannya adalah karena kita jarang benar-benar mempertanyakan pilihan yang tersedia. Kita cenderung menerima bahwa liburan harus dilakukan dengan cara tertentu, pada waktu tertentu, dan di tempat-tempat tertentu.

Padahal, selalu ada kemungkinan untuk membayangkan alternatif. Liburan tidak harus berarti pergi jauh atau mengikuti arus utama. Mengunjungi tempat yang lebih dekat, memilih waktu yang tidak populer, atau bahkan menciptakan ruang jeda di rumah bisa menjadi pilihan yang sama validnya. Namun pilihan-pilihan ini sering kali kalah menarik karena tidak menawarkan nilai simbolik yang sama.

Perubahan memang tidak mudah, terutama ketika kita berada dalam sistem yang terus mendorong perilaku seragam. Tetapi kesadaran adalah langkah awal yang penting. Dengan memahami bahwa keputusan kita adalah bagian dari pola kolektif, kita bisa mulai mengambil jarak dan mempertimbangkan opsi lain yang mungkin lebih sesuai dengan kebutuhan kita sebagai individu.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang mengapa kita tetap pergi meski tahu akan macet dan penuh bukan hanya soal liburan, tetapi juga soal bagaimana kita membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita benar-benar memilih, atau sekadar mengikuti arus yang sudah terbentuk. Dalam keramaian itu, mungkin yang paling jarang kita temukan justru adalah ruang untuk bertanya pada diri sendiri: kita sebenarnya sedang mencari apa?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda