Kolom
April Mop: Selain Bukan Budaya, Juga Tak Cocok dengan Rakyat Indonesia yang Nanggung Literasinya
Bagi sebagian masyarakat, terutama yang berada di kawasan Eropa dan Amerika, kedatangan bulan April hampir selalu disambut dengan tradisi yang bernama "April Mop" atau "April Fools".
Menurut informasi dari laman britishcouncil.org, April Mop sendiri didefinisikan sebagai hari di mana membuat kebohongan-kebohongan atau berita tak benar dengan tujuan senang-senang menjadi hal yang legal.
"On this day, people traditionally play practical jokes on each other and have fun trying to make other people believe things that are not true," tulis Britishcouncil di laman resmi mereka.
Namun sayangnya, tradisi ini tidak akan pernah cocok dengan masyarakat Indonesia. Selain karena bukan budaya asli, April Mop ini juga sangat tidak matching dengan kultur rakyat di negeri ini yang serba nanggung.
Patut digarisbawahi, saya tidak akan membahas ketidakcocokan April Mop dengan masyarakat Indonesia ini dari sudut pandang agama.
Karena saya tahu pasti, apa pun agama yang ada di Indonesia, tidak ada satu pun yang membenarkan praktik-praktik untuk melakukan kebohongan, meski hal itu ditujukan untuk kesenangan belaka.
Jadi, kalau saya membahas ketidakcocokan April Mop ini dari kacamata agama, maka sudah pasti akan mandeg pembahasannya karena setiap agama sudah pasti akan melarang hal itu untuk dilakukan.
Namun, saya justru menyoroti April Mop ini tidak cocok dengan kultur masyarakat Indonesia yang serba nanggung, terutama dalam hal berliterasi dan pengolahan informasi yang mereka dapatkan dari dunia maya.
Harus kita akui, tingkat literasi kebanyakan masyarakat di Indonesia saat ini masih terbilang cukup rendah, di mana menurut penelitian dari Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2022 lalu, skor membaca di negeri ini berada di angka 358.
Skor domain membaca tersebut menjadi yang terendah dari tiga domain utama yang diteliti, yang mana dua kategori lain yang juga diteliti, yakni Matematika mendapatkan skor 366 dan Sains yang mendapatkan skor 383.
Dan hal inilah yang menjadikan April Mop di Indonesia kerap menjadi awal dari penyebaran hoax yang lebih besar. Dengan bekal literasi yang nanggung, yang tidak tinggi-tinggi amat dan tak rendah-rendah amat, informasi yang mereka dapatkan dari internet tak jarang langsung ditelan mentah-mentah.
Jika hanya ditelan mentah-mentah untuk diri sendiri sih tak masalah. Namun yang membuat runyam adalah, seliweran berita April Mop yang mereka temukan di internet, tak sedikit yang langsung mereka sebarkan ke khalayak, sehingga membangun narasi-narasi baru yang tentunya sangat berbeda dengan niat awal sang pembuat informasi.
Misalpun tak menyebarkan, tak jarang mereka juga langsung memenuhi kolom komentar dengan ketikan-ketikan yang tak sesuai, bahkan dengan kalimat-kalimat lain yang berkebalikan dengan apa yang disampaikan dalam unggahan informasi.
Sebuah sifat yang membuat Komdigi memberikan label untuk rakyatnya sendiri, sebagai kelompok orang yang malas membaca, tapi cerewet di media sosial.
Sehingga, ketika ada informasi-informasi yang sengaja dibuat salah -karena bertepatan dengan momen April Mop-, kelompok orang-orang Indonesia yang nanggung seperti ini langsung menelannya mentah-mentah dan percaya dengan hal tersebut.
Padahal, tak jarang dalam postingan April Mop itu, juga sudah dituliskan keterangan, bahwa informasi tersebut hanyalah informasi yang salah dan tidak benar.
Namun apa yang terjadi kemudian? Tentunya informasi sepenting itu, yang menyatakan bahwa unggahan yang buat itu adalah sesuatu yang salah, akan terlewatkan oleh kebanyakan orang Indonesia, karena mereka malas untuk membacanya sampai akhir.
Sehingga, seringkali terjadi "pemutusan informasi" karena orang-orang nanggung ini tak membaca informasi dengan utuh, dan lebih senang untuk memberikan reaksi lain seperti menuliskan komentar khas orang-orang "sumbu pendek", hingga menyebarluaskan apa yang barusan mereka dapatkan.
Contohnya? Tentu saja tak sedikit. Seperti pagi ini, ketika saya iseng-iseng membuka media sosial, saya menemukan sebuah postingan instagram yang menampilkan berita Surya Insomnia sedang marahan dengan tim kreatif salah satu program kuis yang laris di TV dan akan digantikan oleh Ignasius Jonan.
Sudah bisa menebak apa yang terjadi? Yap, benar! Dalam postingan tersebut, terdapat banyak komentar negatif dari warganet yang saya yakin mereka tak membaca takarir unggahan itu hingga tuntas.
Padahal jelas-jelas sang pengunggah sudah menuliskan, bahkan dengan huruf kapital sebuah kalimat "WADUH. SEMOGA BISA CEPAT BAIKAN DEHH. #aprilmop post (berita diatas adalah tidak benar)", yang seharusnya sudah cukup untuk mengedukasi siapa pun yang membacanya mengategorikan unggahan ini sebagai berita yang tak benar.
Ah, sudahlah, akan lebih baik jika di Indonesia tak perlu ada "April Mop-April Mopan" seperti Orang-orang Barat sana!