Kolom
Mental Inlander dan Luka Panjang Kolonialisme dalam Buku Max Havelaar
Banyak orang Indonesia menganggap penjajahan Belanda hanyalah masa lalu. Seolah-olah setelah proklamasi 1945, seluruh pengaruh kolonial ikut lenyap bersama turunnya bendera Belanda.
Padahal kolonialisme tidak hanya meninggalkan bangunan tua, jalur kereta, atau arsip sejarah. Ia juga meninggalkan cara berpikir. Dan sering kali, warisan paling berbahaya justru bukan yang tampak di mata, melainkan yang hidup dalam kebiasaan sehari-hari.
Hal itulah yang terasa kuat ketika membaca Max Havelaar karya Multatuli. Novel yang pertama kali terbit tahun 1860 ini bukan sekadar karya sastra klasik tentang Hindia Belanda. Ia adalah gugatan keras terhadap kemunafikan kolonialisme.
Dalam edisi Indonesia yang diterbitkan Qanita, pembaca diajak melihat bagaimana penjajahan bekerja bukan hanya lewat senjata, tetapi juga lewat struktur sosial dan mentalitas.
Salah satu kutipan paling tajam dalam buku ini berbunyi: “Orang Jawa adalah warga negara Belanda. Raja Belanda adalah raja mereka.” Kalimat itu terdengar seperti pengakuan setara.
Namun sebenarnya Multatuli sedang menyindir pemerintah kolonial. Jika orang Jawa benar warga negara Belanda, mengapa mereka diperas lewat tanam paksa?
Mengapa mereka dibiarkan miskin dan kelaparan demi keuntungan negeri penjajah?
Di sinilah Max Havelaar terasa begitu relevan dengan Indonesia hari ini. Sebab kolonialisme ternyata tidak selesai ketika penjajah pergi. Ia menetap dalam mentalitas.
Istilah “mentalitas kolonial” memang sering terdengar abstrak. Namun sebenarnya ia hadir dalam keseharian kita. Misalnya dalam budaya terlalu tunduk pada atasan. Dalam kebiasaan menganggap orang kaya, pejabat, atau mereka yang “berdarah ningrat” selalu lebih benar. Dalam cara masyarakat sering takut mengkritik kekuasaan karena dianggap tidak sopan.
Belanda dahulu sangat cerdas memanfaatkan struktur sosial lokal. Mereka tidak menghancurkan hierarki feodal yang sudah ada di Jawa. Justru mereka memperkuatnya. Para bupati dan bangsawan lokal dijadikan perpanjangan tangan kolonial. Akibatnya, rakyat bukan hanya takut kepada Belanda, tetapi juga kepada elit pribumi sendiri.
Warisan itu terasa sampai sekarang. Kita masih hidup dalam masyarakat yang sering lebih menghargai jabatan daripada gagasan. Orang dengan gelar tinggi lebih mudah dipercaya meski belum tentu benar. Kritik sering dianggap ancaman, bukan bagian sehat dari demokrasi. Bahkan dalam dunia kerja, banyak orang lebih sibuk menyenangkan atasan daripada memperbaiki sistem.
Ironisnya, mentalitas kolonial juga membuat kita sering merasa rendah diri di hadapan “yang asing”. Produk luar negeri dianggap lebih bergengsi. Bahasa Inggris terdengar lebih pintar dibanding bahasa sendiri. Turis asing diperlakukan sangat istimewa, sementara rakyat kecil diabaikan. Seolah-olah sisa-sisa logika kolonial masih hidup: bahwa yang datang dari luar selalu lebih tinggi nilainya.
Padahal yang dikritik Multatuli dalam Max Havelaar bukan hanya kekejaman Belanda, tetapi juga sistem yang membuat penindasan terasa normal. Penjajahan menjadi langgeng karena rakyat dipaksa terbiasa tunduk. Karena hierarki dianggap kodrat. Karena kekuasaan jarang dipertanyakan.
Itulah sebabnya kemerdekaan sejati sebenarnya bukan hanya soal mengganti bendera atau pemerintahan. Kemerdekaan juga berarti membebaskan cara berpikir. Berani melihat bahwa manusia setara tanpa memandang jabatan dan status sosial. Berani mengkritik kekuasaan tanpa takut dicap durhaka. Dan berani menghargai diri sendiri tanpa selalu membutuhkan validasi asing.
Sayangnya, hingga hari ini, sisa-sisa mentalitas kolonial masih bercokol dalam banyak lini kehidupan Indonesia. Dalam birokrasi yang feodal. Dalam pendidikan yang terlalu menekankan kepatuhan dibanding daya kritis. Bahkan dalam keluarga, ketika anak dituntut selalu patuh tanpa ruang berdialog.
Karena itu, membaca Max Havelaar hari ini terasa lebih dari sekadar membaca novel sejarah. Buku ini seperti cermin yang memantulkan wajah Indonesia modern. Kita mungkin sudah merdeka secara politik, tetapi belum sepenuhnya merdeka secara mental.
Dan mungkin itulah warisan kolonial paling panjang usianya: bukan benteng, bukan senapan, melainkan kebiasaan untuk tunduk tanpa bertanya.