Kolom
Suara dari Sungai Ciliwung: Ketika Warga Menggantikan Peran Negara
Di tengah arus persoalan lingkungan yang semakin kompleks, ada satu ironi yang terus berulang. Tanggung jawab kolektif perlahan berubah menjadi beban individu.
Sungai yang seharusnya dijaga bersama, dikelola negara dengan sistem yang jelas dan berkelanjutan, justru kerap “diselamatkan” oleh segelintir warga yang bergerak atas inisiatif sendiri. Salah satu potret paling nyata terlihat di Sungai Ciliwung.
Ketika ikan sapu-sapu yang merupakan spesies invasif perusak ekosistem mulai mendominasi aliran sungai, dampaknya bukan sekadar gangguan kecil. Ia merusak keseimbangan alam, mengancam ikan lokal, bahkan memperparah kondisi sungai yang sudah lebih dulu tercemar.
Dalam situasi seperti ini, yang seharusnya bergerak paling depan adalah negara. Melalui kebijakan, riset, hingga aksi konkret yang sistematis.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Di tengah minimnya intervensi yang terasa langsung, muncul individu-individu seperti Bang Arief yang mengambil peran. Dengan tenaga, waktu, dan sumber daya pribadi, mereka turun langsung ke lapangan.
Menangkap ikan sapu-sapu, mengedukasi masyarakat, dan mencoba memulihkan ekosistem yang sakit. Apa yang mereka lakukan bukan hal kecil. Ini adalah kerja lingkungan yang berat, berisiko, dan membutuhkan konsistensi tinggi.
Di satu sisi, gerakan seperti ini patut diapresiasi setinggi-tingginya. Ia menunjukkan bahwa kesadaran ekologis masyarakat tidak sepenuhnya mati. Masih ada warga yang peduli, yang tidak sekadar mengeluh, tetapi memilih bertindak. Ini adalah bentuk gotong royong dalam versi paling murni: sukarela, tanpa pamrih, dan berangkat dari kepedulian nyata.
Namun di sisi lain, kita tidak boleh menormalisasi kondisi ini. Ketika persoalan struktural seperti kerusakan sungai dan invasi spesies dibiarkan ditangani oleh individu, ada sesuatu yang keliru dalam tata kelola kita. Negara seharusnya tidak hanya hadir dalam bentuk regulasi di atas kertas, tetapi juga dalam aksi nyata yang terukur dan berkelanjutan.
Memberantas ikan sapu-sapu bukan sekadar soal menangkap sebanyak mungkin individu. Ini membutuhkan pendekatan ekologi yang komprehensif: pengendalian populasi, restorasi habitat, perbaikan kualitas air, hingga edukasi publik agar tidak lagi melepas spesies invasif ke alam.
Tanpa itu, upaya individu akan selalu seperti menimba air di kapal yang bocor. Melelahkan, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah.
Di titik inilah peran negara menjadi krusial. Bukan untuk menggantikan gerakan warga, tetapi untuk memperkuatnya. Inisiatif seperti yang dilakukan Bang Arief seharusnya dilihat sebagai mitra strategis, bukan dibiarkan berjalan sendiri.
Dukungan bisa hadir dalam banyak bentuk: fasilitas, pendanaan, pelatihan, hingga integrasi dalam program resmi pemulihan lingkungan.
Lebih dari itu, negara juga perlu membangun sistem yang mencegah masalah serupa terulang. Pencemaran sungai harus ditekan secara serius, pengawasan terhadap limbah diperketat, dan edukasi lingkungan diperluas. Tanpa langkah preventif, kita hanya akan terus berputar dalam siklus yang sama: kerusakan, reaksi, lalu kerusakan lagi.
Harapan tentu tetap ada. Ajakan Bang Arief bisa menjadi titik awal lahirnya gerakan yang lebih besar. Gerakan kerelawanan yang tidak hanya fokus pada satu aksi, tetapi membangun kesadaran kolektif. Ketika semakin banyak warga terlibat, tekanan moral terhadap pemangku kebijakan juga akan meningkat. Dan dari situlah perubahan bisa mulai bergerak.
Namun, penting untuk diingat: solidaritas warga bukan alasan bagi negara untuk mundur. Justru sebaliknya, ini adalah momentum bagi negara untuk hadir lebih kuat, lebih responsif, dan lebih berpihak pada lingkungan.
Ciliwung hari ini mungkin sedang sakit. Tapi di tengah kondisi itu, masih ada orang-orang yang memilih merawatnya. Semoga upaya mereka tidak berjalan sendiri. Semoga negara benar-benar melihat, mendengar, dan bergerak.
Karena perjuangan menjaga sungai ini seharusnya tidak pernah menjadi beban satu orang saja.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS