Kolom

Sentuhan Fisik untuk Perempuan: Bikin Gagal Move On atau Cuma Reaksi Oksitosin?

Sentuhan Fisik untuk Perempuan: Bikin Gagal Move On atau Cuma Reaksi Oksitosin?
ilustrasi pasangan (Pexels.com/Maksim Goncharenok)

Dulu saya pernah berpikir, kedekatan dalam hubungan itu soal komunikasi. Tentang seberapa sering mengobrol, seberapa nyambung, atau seberapa besar effort satu sama lain. Namun, semakin saya menjalani hubungan, saya mulai menyadari bahwa sentuhan fisik ternyata punya peran yang jauh lebih kuat dari yang saya kira.

Dan jujur, saya baru benar-benar memahami ini setelah merasakan sendiri bagaimana sulitnya melepaskan seseorang, bahkan ketika saya tahu dia bukan yang terbaik untuk saya.

Awalnya semua terasa sederhana. Sentuhan kecil, seperti pegangan tangan, pelukan, atau sekadar dielus, terasa seperti bentuk kasih sayang yang wajar. Tetapi, lama-lama saya sadar ada sesuatu yang berubah dalam diri saya.

Saya mulai merasa lebih terikat, lebih bergantung secara emosional, bahkan lebih sulit mengambil jarak. Di titik itu, saya mulai bertanya: kenapa? Ternyata, jawabannya tidak sesederhana “baper”. Ada proses psikologis dan biologis yang benar-benar bekerja di baliknya.

Oksitosin: Hormon Kedekatan

Hal pertama yang saya sadari adalah tentang oksitosin, yang sering disebut sebagai hormon kedekatan. Setiap kali saya disentuh dengan lembut, ada rasa hangat yang muncul. Rasa aman, rasa dipercaya, bahkan rasa dicintai.

Dan yang menarik, perasaan itu tetap muncul bahkan ketika secara logika, saya tahu hubungan ini tidak sepenuhnya sehat. Di situlah saya mulai merasa “terjebak”. Bukan karena saya tidak ingin pergi, tetapi karena tubuh saya seperti sudah terbiasa merasa nyaman dengan kehadirannya.

Perbedaan dalam Memaknai Sentuhan

Hal kedua yang cukup menyadarkan saya adalah perbedaan cara laki-laki dan perempuan memaknai sentuhan. Bagi saya, sentuhan bukan sekadar fisik, tetapi juga makna emosional. Setiap pelukan terasa seperti bentuk kedekatan dan seolah-olah menjadi bukti kalau saya berarti.

Tetapi, tidak selalu begitu dari sisi lain. Saya mulai menyadari kalau bagi sebagian laki-laki, sentuhan bisa saja tidak sedalam itu. Bisa jadi hanya bentuk ekspresi sesaat, tanpa keterikatan emosional yang sama.

Perbedaan persepsi ini yang akhirnya sering membuat saya terluka lebih dulu. Saya merasa semakin dekat, sementara dia mungkin tidak merasakan hal yang sama. Lalu ada satu hal yang paling sulit saya jelaskan, tetapi paling nyata saya rasakan, adalah tubuh ternyata menyimpan memori emosional.

Sentuhan Fisik Meninggalkan Jejak Emosional

Setiap pelukan, setiap momen dekat, seperti meninggalkan jejak. Bahkan ketika hubungan itu sudah berakhir, tubuh saya seperti masih “mengingat”. Ada rasa kosong yang sulit dijelaskan. Bukan hanya kehilangan orangnya, tetapi kehilangan rasa yang pernah ada.

Dan di situlah saya sadar, move on itu bukan hanya soal hati, tetapi juga soal tubuh yang butuh waktu untuk benar-benar melepaskan. Bukan karena sulit melupakan cinta, justru karena jejak emosional dari sentuhan fisik yang masih tertinggal.

Keterikatan yang Menipu Logika

Hal berikutnya yang cukup menyakitkan untuk saya akui adalah bagaimana keterikatan ini bisa menipu logika. Saya tahu dia bukan yang terbaik. Saya tahu ada banyak hal yang tidak sehat dalam hubungan itu.

Namun, setiap kali saya mencoba menjauh, ada rasa nyaman yang terus menarik saya kembali. Seolah-olah otak saya mengaitkan rasa aman itu hanya dengan dia. Padahal, mungkin bukan dia yang membuat saya merasa nyaman, tetapi efek dari kedekatan yang sudah terbentuk.

Yang paling dalam, saya mulai menyadari kalau semakin saya membuka akses fisik dalam hubungan, semakin saya kehilangan kendali secara emosional. Bukan karena saya lemah, tetapi karena saya memberi terlalu banyak bagian dari diri saya tanpa benar-benar memastikan apakah orang itu layak menerimanya.

Menjaga Batas: Menjaga Diri

Sebagai perempuan, saya merasa ada energi yang saya berikan setiap kali saya membuka diri secara fisik. Dan ketika itu diberikan kepada orang yang belum tepat, dampaknya bukan hanya sementara. Saya jadi lebih sulit melepaskan.

Dari semua pengalaman ini, saya belajar satu hal penting bahwa menjaga batas bukan berarti dingin atau tidak tulus. Justru itu bentuk menjaga diri. Sekarang saya mulai lebih hati-hati.

Bukan berarti saya menutup diri, tetapi saya belajar memahami bahwa kedekatan fisik bukan hal kecil. Ada konsekuensi emosional yang nyata di baliknya. Saya juga belajar bahwa rasa nyaman tidak selalu berarti aman. Dan tidak semua yang terasa dekat benar-benar layak untuk dipertahankan.

Mungkin ini pelajaran yang datang sedikit terlambat. Namun, setidaknya sekarang saya lebih paham bahwa dalam hubungan, bukan hanya hati yang perlu dijaga, tetapi juga bagaimana saya memperlakukan diri saya sendiri.

Karena pada akhirnya, bukan tentang siapa yang datang dan pergi, tetapi tentang bagaimana saya tetap utuh meski pernah merasa sangat terikat.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda