Kolom

Efek Doomscrolling: Kenapa Fokus Kita Kini Lebih Pendek dari Ikan Mas?

Efek Doomscrolling: Kenapa Fokus Kita Kini Lebih Pendek dari Ikan Mas?
Ilustrasi sebuah ponsel (Unsplash.com/Azamat E)

Awalnya saya hanya ingin membuka media sosial selama lima menit. Namun tanpa sadar, satu jam berlalu begitu saja dan kepala saya terasa penuh.

Kalimat ini kerap familiar bagi banyak orang, termasuk bagi saya. Di tengah kehidupan yang serba digital, kebiasaan menggulir layar tanpa henti sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Bangun tidur membuka ponsel, sebelum tidur kembali menatap layar, bahkan saat makan atau bekerja, tangan rasanya refleks membuka media sosial. Ironisnya, semakin sering saya mengonsumsi informasi, semakin sulit pula saya mempertahankan fokus.

Fenomena ini semakin sering terjadi pada generasi sekarang. Media sosial dipenuhi berita buruk, drama, konflik, hingga video singkat yang terus memancing rasa penasaran. Kita seperti dipaksa terus terhubung dengan arus informasi tanpa jeda.

Akibatnya, otak menjadi lelah, cemas, dan sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Saya mulai menyadari bahwa kemampuan fokus saya tidak lagi seperti dulu. Membaca beberapa halaman buku saja terasa berat karena pikiran terus ingin memeriksa notifikasi.

Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah doomscrolling. Doomscrolling adalah perilaku terus-menerus menggulir media sosial atau membaca berita negatif secara berlebihan, meskipun hal itu membuat seseorang merasa stres atau kelelahan mental.

Aktivitas ini biasanya terjadi karena rasa penasaran, takut tertinggal informasi, atau dorongan untuk terus mencari update terbaru. Tanpa disadari, doomscrolling membuat otak terus menerima stimulasi cepat yang akhirnya mengubah cara kita memproses perhatian.

Bahkan, beberapa penelitian populer menyebutkan bahwa rentang fokus manusia saat ini hanya sekitar delapan detik, lebih pendek dibandingkan ikan mas yang disebut mampu mempertahankan perhatian selama sembilan detik.

Terlepas dari perdebatan mengenai angka pastinya, kenyataannya saya memang merasa semakin sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Video pendek berdurasi 30 detik kini terasa lebih menarik dibanding membaca artikel panjang atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan fokus mendalam.

Otak Saya Terbiasa dengan Distraksi Cepat

Saya mulai sadar bahwa media sosial membuat otak saya terbiasa menerima hiburan instan. Dalam beberapa menit, saya bisa melihat puluhan video dengan topik yang berbeda-beda. Otak dipaksa berpindah fokus secara cepat tanpa kesempatan untuk benar-benar mencerna informasi.

Lama-kelamaan, saya menjadi sulit menikmati aktivitas yang membutuhkan kesabaran seperti membaca buku, menulis, atau belajar.

Tidak hanya itu, saya juga merasa lebih mudah bosan. Ketika suatu hal tidak memberikan stimulasi cepat, perhatian saya langsung teralihkan ke ponsel. Bahkan saat menonton film atau berbicara dengan orang lain, saya sering terdorong untuk membuka media sosial.

Doomscrolling perlahan membuat kemampuan fokus mendalam semakin menurun karena otak terus dilatih untuk mencari distraksi baru.

Informasi Berlebihan Membuat Mental Saya Lelah

Setiap hari, media sosial dipenuhi berita buruk, konflik, dan opini yang saling bertabrakan. Tanpa sadar, saya mengonsumsi semua itu secara terus-menerus. Awalnya saya merasa hanya ingin mengetahui perkembangan terbaru, tetapi semakin lama justru membuat pikiran terasa sesak. Saya menjadi lebih mudah cemas dan sulit merasa tenang.

Terlalu banyak informasi juga membuat saya kesulitan memilah mana yang benar-benar penting. Otak seperti tidak diberi waktu untuk beristirahat karena terus menerima rangsangan baru.

Akibatnya, produktivitas menurun dan energi mental cepat habis. Saya mulai memahami bahwa bukan hanya tubuh yang membutuhkan istirahat, tetapi juga pikiran yang setiap hari dibanjiri informasi tanpa henti.

Fokus Menjadi Kemewahan di Era Digital

Di era sekarang, mempertahankan fokus jadi sebuah tantangan besar. Lingkungan digital dirancang untuk membuat kita terus bertahan di depan layar selama mungkin. Notifikasi, video pendek, dan algoritma media sosial membuat perhatian manusia mudah terpecah.

Padahal, fokus merupakan kemampuan penting dalam kehidupan sehari-hari. Ketika fokus menurun, kualitas belajar, bekerja, bahkan hubungan sosial juga ikut terdampak. Saya mulai mencoba membatasi waktu bermain media sosial dan memberi jeda pada diri sendiri dari banjir informasi digital.

Meskipun tidak mudah, saya sadar bahwa menjaga fokus kini menjadi bentuk perhatian terhadap kesehatan mental saya sendiri.

Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan. Kebiasaan ini perlahan memengaruhi cara saya berpikir, berkonsentrasi, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, saya mulai menyadari bahwa kemampuan untuk berhenti sejenak dan benar-benar fokus adalah hal yang semakin berharga.

Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya lepas dari media sosial, tetapi setidaknya kita bisa belajar mengendalikan cara menggunakannya agar perhatian dan kesehatan mental tidak ikut hilang bersama derasnya arus informasi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda