Kolom
Stop Bandingin Hidupmu sama Postingan Orang: Capek Tau FOMO Terus!
Pernah nggak sih, baru bangun tidur, mata belum melek sempurna, tapi tangan udah sibuk scrolling TikTok atau Instagram? Bukannya semangat menyambut hari, eh malah dapet "serangan fajar" berupa rasa minder yang bikin mood anjlok seketika. Lihat temen lagi healing ke luar negeri, lihat yang lain pamer pencapaian karier di LinkedIn, atau si itu yang baru aja tunangan dengan dekorasi super estetik. Tiba-tiba ada perasaan sesak yang membisikkan pertanyaan menyakitkan: "Kok hidup gue gini-gini aja, ya?"
Nah, itulah yang namanya FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan tertinggal. Dan percayalah, kamu nggak sendirian di 2026 ini. Masalah ini bukan lagi sekadar bumbu pergaulan, melainkan sudah jadi isu kesehatan mental nasional. Menurut laporan terbaru dari Digital 2026 Indonesia (sumber: We Are Social & Meltwater), jumlah pengguna internet kita udah tembus angka fantastis, yaitu 230 juta jiwa! Artinya, hampir seluruh orang di Indonesia sekarang "hidup" dan bernapas di dunia digital.
Masalahnya, keaktifan kita di dunia maya sudah sampai di titik yang mengkhawatirkan. Data dari Global Digital Reports 2026 menyebutkan kalau rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu sekitar 3 jam 7 menit setiap hari cuma buat mantengin media sosial. Bayangkan, dalam setahun, berapa ribu jam yang kita habiskan hanya untuk menonton potongan kehidupan orang lain yang mungkin sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemajuan hidup kita sendiri.
Tapi jujur deh, pernah nggak kita berpikir kalau apa yang kita lihat itu cuma highlight reel? Apa yang muncul di feeds adalah bagian terbaik yang sudah dipoles filter estetik, atau bahkan hasil olahan AI yang makin canggih dan manipulatif tahun ini. Kita sering kali lupa kalau orang punya masalahnya masing-masing. Namun, karena yang dipajang hanya yang indah-indah saja, kita jadi terjebak dalam jebakan logika: membandingkan "dapur" kita yang berantakan dengan "ruang tamu" orang lain yang sudah dikurasi rapi oleh algoritma.
Ini adalah perlombaan semu yang nggak bakal ada ujungnya. Peneliti psikologi sering menyebut fenomena ini sebagai social comparison. Jika tidak dikontrol, kebiasaan membandingkan diri ini bisa bikin kesehatan mental anjlok, memicu depresi, hingga rasa rendah diri yang kronis. Kita merasa gagal hanya karena tidak memiliki apa yang orang lain pamerkan, padahal standarnya pun belum tentu nyata.
Menurut aku, di tengah gempuran konten yang makin gila dan serba instan di tahun 2026 ini, udah saatnya kita ambil kendali penuh atas jempol kita sendiri. Kita harus sadar bahwa kebahagiaan itu nggak harus divalidasi lewat jumlah likes, jumlah viewers, atau komentar "Iri bilang bos!". Validasi dari orang asing di internet itu semu dan sementara, tapi ketenangan hati itu abadi.
Hidup yang beneran itu adalah hidup yang kita jalani pas layar HP mati. Saat kita bisa makan tanpa sibuk memotret piring, saat kita bisa ketawa lepas bareng temen tanpa sibuk nyari angle foto yang pas buat di-posting, dan saat kita bisa menikmati senja tanpa pusing memikirkan caption apa yang paling puitis. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya di era digital.
Yuk, mulai sekarang berhenti jadi penonton setia di "panggung sandiwara" kehidupan orang lain dan mulailah jadi pemeran utama yang hebat di kehidupanmu sendiri. Fokuslah pada progres kecilmu setiap hari, bukan pada langkah besar orang lain yang terekam kamera. Ingat, momen paling mahal dan paling emosional dalam hidup biasanya justru yang nggak sempet kita post ke story. Karena pada akhirnya, bahagia itu untuk dirasakan di dalam dada, bukan cuma untuk dipamerkan di layar kaca.