Kolom
Pertemanan Tanaman Plastik: Tampak Hidup di Story, Mati di Kehidupan Nyata
“Bro, kapan terakhir kita ngobrol beneran?”
Chat itu masuk malam-malam. Jam 00.47. Saya baca. Lalu diam beberapa detik.
Aneh, karena orang yang mengirim pesan itu sebenarnya hampir tiap hari muncul di story saya. Kadang saya like fotonya. Dia juga sesekali membalas story saya pakai emoji tertawa atau api. Kelihatannya dekat. Tapi setelah membaca pertanyaan itu, saya baru sadar: iya juga ya, sudah lama sekali kami tidak benar-benar ngobrol.
Sekarang banyak pertemanan terasa seperti itu. Ramai di layar, sepi di kehidupan nyata. Kita tahu dia lagi di mana, makan apa, dengar lagu apa, bahkan tahu kopi favoritnya berubah dari americano ke matcha latte. Tapi tidak tahu isi kepalanya sedang baik-baik saja atau tidak.
Lucu memang. Teknologi katanya mendekatkan. Nyatanya banyak hubungan sekarang cuma rajin hadir di story, tapi hilang saat benar-benar dibutuhkan.
Formalitas Digital dan Hubungan yang Enggan Tumbuh
Kadang saya sadar itu saat membuka daftar chat. Ada nama-nama yang dulu rasanya dekat sekali. Orang yang dulu bisa diajak cerita jam dua pagi tanpa takut dianggap mengganggu. Sekarang chat terakhirnya cuma: “Wkwkwk.” Lalu selesai.
Bahkan ada yang lebih aneh. Tiap hari saling lihat story. Saling like. Kadang balas emoji. Tapi kalau dipikir lagi, sudah lama tidak pernah duduk dan ngobrol tanpa buru-buru. Hubungan sekarang sering terasa seperti tanaman plastik. Tetap terlihat hidup, padahal tidak pernah benar-benar tumbuh.
Yang lebih melelahkan, banyak orang sekarang sibuk terlihat punya banyak teman. Padahal kebanyakan cuma hubungan online yang bertahan karena algoritma belum bosan mempertemukan. Kita jadi generasi yang tahu tempat nongkrong terbaru teman sendiri, tapi tidak tahu dia sedang capek hidup atau tidak. Ironisnya, media sosial membuat semuanya terlihat akrab. Padahal belum tentu dekat.
Ada teman yang story-nya selalu ramai. Nongkrong terus. Ketawa terus. Circle banyak. Tapi suatu malam dia upload lagu galau jam 1 pagi. Besoknya kembali upload mirror selfie seperti tidak terjadi apa-apa. Karena sekarang sedih pun harus tetap estetik. Dan kita semua pura-pura tidak melihat itu.
Ketika Membalas Chat Perlu Tenaga Mental
Kadang saya rindu masa ketika pertemanan tidak dipelihara lewat story view. Dulu orang datang langsung ke rumah. Sekarang jangankan datang, membalas chat saja perlu tenaga mental. Buka keyboard. Ngetik. Hapus lagi. Balas nanti saja. Lalu lupa.
“Eh nanti ketemu ya.” Kalimat paling optimistis yang sering berakhir tanpa tanggal pasti.
Aneh memang. Semakin dewasa, semakin sulit menjaga pertemanan tetap hidup. Semua orang sibuk bertahan dengan hidupnya masing-masing. Sibuk kerja. Sibuk overthinking. Sibuk pura-pura kuat di depan orang lain. Akhirnya hubungan banyak yang berubah jadi formalitas digital.
Selamat ulang tahun. Semoga sehat selalu. Hati-hati di jalan ya.
Kalimat-kalimat pendek yang dikirim cepat sambil menunggu ojek online datang. Tapi mungkin memang bukan sepenuhnya salah siapa-siapa. Dunia sekarang bergerak terlalu cepat. Orang pulang kerja sudah lelah duluan. Kepala penuh notifikasi. Belum lagi tekanan untuk selalu terlihat bahagia. Jadi banyak hubungan akhirnya bertahan sekadar di permukaan. Cukup tahu kabar dari story. Cukup lihat dia masih upload berarti masih hidup. Selesai.
Hadir Setengah-Setengah di Meja Makan
Yang menyedihkan, kadang kita baru sadar ada jarak setelah bertemu langsung. Obrolannya tidak lagi mengalir. Ada jeda-jeda aneh. Ketawa seperlunya. Sisanya sibuk membuka HP masing-masing. Seolah dunia di dalam layar lebih menarik daripada orang yang duduk tepat di depan mata.
Dan mungkin memang begitu sekarang. Kita terlalu terbiasa hadir setengah-setengah. Saat bersama teman, tangan sibuk scroll. Saat sendirian, justru berharap ada yang menemani. Capek juga sebenarnya. Kadang saya pikir banyak orang sekarang bukan kehilangan teman. Mereka cuma kehilangan kedekatan yang dulu terasa alami.
Karena sekarang semuanya cepat, praktis, dan instan. Bahkan hubungan pun seperti konten. Harus terus muncul supaya tidak tenggelam. Kalau lama tidak upload, orang mengira menghilang. Padahal mungkin cuma sedang lelah jadi manusia.
Meski begitu, saya masih percaya tidak semua pertemanan berubah sejauh itu. Masih ada beberapa orang yang ketika diajak bertemu, benar-benar hadir. Orang yang mendengarkan tanpa sibuk memotret kopi untuk dijadikan story dulu. Jumlahnya mungkin sedikit. Tapi justru itu yang sekarang terasa mahal.
Di zaman ketika semua orang mudah terhubung, ternyata menemukan hubungan yang benar-benar hangat malah jadi hal yang langka.