Kolom
Gen Z dan Tren Mindful Buying: Cara Anak Muda Mengatur Napas Finansial di Tengah Ketidakpastian
Belakangan ini, kabar soal pelemahan rupiah dan kondisi ekonomi yang tidak menentu cukup sering muncul di berbagai media. Terlepas dari angka atau indikator ekonomi yang bergerak naik turun, perubahan semacam ini pada akhirnya tetap terasa di kehidupan sehari-hari mulai dari harga kebutuhan pokok, biaya hidup, sampai cara seseorang mengatur pengeluaran.
Bagi sebagian Gen Z yang dikenal dekat dengan budaya konsumsi, tren, dan lifestyle, situasi seperti ini mungkin jadi pengingat untuk mulai lebih hati-hati sebelum belanja. Istilah impulsive buying perlahan mulai digeser oleh konsep mindful buying, yaitu kebiasaan mempertimbangkan kembali apakah suatu barang benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat.
Dalam praktiknya, bentuk mindful buying tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang mengurangi jajan, ada yang mulai menyusun prioritas kebutuhan, dan ada juga yang memilih lebih disiplin mengatur gaya hidup.
Berangkat dari rasa penasaran tentang kebiasaan apa saja yang mulai dibatasi oleh anak muda saat kondisi ekonomi terasa menekan, saya mencoba berbincang dengan lima teman sebaya. Menariknya, respons yang muncul cukup beragam: ada yang merasa belum perlu melakukan penghematan besar, sementara yang lain justru mulai lebih selektif mengeluarkan uang.
Berikut beberapa cerita dan sudut pandang yang mereka bagikan.
1. Saat Kebutuhan Dasar Masih Ditopang Keluarga

Bagi sebagian anak muda yang masih tinggal bersama keluarga, tekanan ekonomi mungkin belum sepenuhnya terasa pada kebutuhan primer sehari-hari. Salah satunya dialami Mery Sihombing (23).
"Puji Tuhan, syukur, walaupun aku masih nganggur, Tuhan bener-bener cukupkan aku ketimbang kuliah dulu, bahkan lebih berduit aku ketimbang kuliah, mungkin rezeki dari kakak dan abang-abangku," ujar Mery.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Martina (23) yang sekarang berprofesi sebagai guru bimbel.
"Jujur, aku gak membatasi. Tapi tipikal aku emang jarang aja keluar, lebih sering beli jajan, habis itu makan di rumah," katanya.
Saat ditanya lebih jauh, Martina mengaku tetap sesekali jajan di luar. Namun, ia membatasi frekuensinya sekitar seminggu sekali. Kebiasaan kecil seperti ini menunjukkan bahwa pengendalian diri kadang muncul bukan dari larangan total, melainkan dari kemampuan menentukan batas.
Dari cerita mereka, saya merasa dukungan keluarga masih menjadi bantalan penting bagi sebagian Gen Z yang sedang berada di masa transisi menuju kemandirian finansial.
2. Belajar Menyusun Skala Prioritas

Berbeda dengan mereka yang kebutuhan dasarnya masih cukup aman, ada juga yang mulai lebih ketat menentukan prioritas pengeluaran. Salah satunya Richi (23).
"Lebih milih-milih sih buat beli barang mana yang penting, mana yang gak penting. Tahu sendiri lah cewek gimana. Hitungannya juga membatasi pengeluaran, ya," ungkap Richi.
Menurutnya, kebutuhan seperti makeup dasar tetap dibeli saat memang habis atau diperlukan. Namun, untuk belanja impulsif di e-commerce, ia berusaha lebih menahan diri.
Saya pribadi cukup relate dengan hal ini. Akhir-akhir ini, sebelum belanja mingguan, saya mulai terbiasa membuat daftar kebutuhan paling mendesak terlebih dahulu. Biasanya kebutuhan pokok seperti bahan makanan didahulukan, baru setelah itu perlengkapan mandi atau kebutuhan perawatan dasar.
Kebiasaan sederhana seperti membuat daftar ternyata membantu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan sesaat.
3. Menahan Lapar Mata dan Memaksimalkan yang Sudah Ada

Cerita berikut datang dari Sakinah (22) yang mengaku mulai lebih membatasi pengeluaran.
"Skincare udah dikurangi sih, tapi kalo jajan di luar (makanan) kan masih terbeli seribu dua ribu," cerita Sakinah.
Ia juga mengaku sudah mengurangi checkout pada tanggal kembar. Selain itu, ia juga membagikan beberapa kebiasaan yang menurutnya membantu menghemat pengeluaran:
Tidak terburu-buru membeli barang hanya karena terlihat menarik.
Memanfaatkan kembali barang lama yang masih layak digunakan. Ia bercerita keluarganya pernah menemukan perlengkapan rumah tangga lama yang ternyata masih berfungsi baik.
Merawat barang elektronik agar lebih awet dan tidak cepat membutuhkan biaya perbaikan.
Menahan diri dari dorongan mengikuti tren atau tempat yang sedang viral hanya karena takut tertinggal (FOMO).
Intinya bukan soal berhenti menikmati hidup, tetapi mulai mempertanyakan: apakah ini benar-benar dibutuhkan sekarang?
Menurut saya, pertanyaan kecil semacam itu justru menjadi inti dari mindful buying.
4. Mencari Alternatif yang Lebih Ramah Kantong

Tips manjur berikutnya datang dari teman saya, Budi (23). Berbeda dengan yang lain, Budi memilih strategi mengalihkan tempat nongkrong atau tempat makan ketimbang memangkas pengeluarannya.
"Bayangin aja lu makan di nelayan (resto), terus 300 ribu sekeluarga makan, tapi tax sama service itu 50 ribu, bisa beli nasi lagi deng," tutur Budi memberikan analogi yang sangat riil dan dekat dengan keseharian.
Daripada uangnya habis hanya untuk membayar pajak (tax) dan service charge di restoran mewah, Budi sekarang lebih memilih untuk makan di warung tenda atau ruko-ruko pinggir jalan.
Refleksi dari langkah Budi ini sebenarnya punya dampak ganda. Selain kita bisa menghemat pengeluaran karena harganya yang jauh lebih ramah di kantong dibanding resto di mall, secara tidak langsung kita juga ikut memberdayakan pelaku UMKM lokal. Merekalah kelompok yang justru paling butuh perputaran uang di saat ekonomi sedang lesu seperti sekarang.
Kesimpulan
Dari cerita kelima teman saya di atas, kita bisa menarik kesimpulan kalau penerapan mindful buying itu bentuknya bisa sangat variatif, tergantung situasi masing-masing orang.
Ada yang ngerem belanja barang lucu, ada yang disiplin bikin daftar skala prioritas, dan ada juga yang pindah haluan ke warung lokal demi menghindari pajak restoran yang mencekik. Tidak ada yang salah, yang paling penting adalah bagaimana kita mengenali batas kemampuan finansial diri sendiri.
Nah, bagaimana dengan kamu, Sobat Yoursay? Di tengah situasi ekonomi yang lagi menantang ini, kamu sudah mulai mengatur pengeluaranmu dengan bijak belum? Atau mungkin, ada tips dari beberapa teman saya di atas yang tertarik banget untuk kamu coba?