Kolom

Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota

Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
Ilustrasi seorang pekerja wanita di sebuah pabrik (Gemini)

Tahun 2026 ini seharusnya menjadi tahun awal bagi Nana (panggil saja demikian) untuk bisa mandiri dan membahagiakan keluarganya. Untuk pertama kalinya, remaja berusia belasan tahun asal Kabupaten Tuban itu memasuki dunia kerja dan bisa mendapatkan penghasilan sendiri.

Namun sayangnya, niatan mulia untuk memberikan sedikit sumbangsih materi-finansial kepada orang-orang yang merawatnya sedari kecil terancam mengalami kendala, bahkan gagal karena dirinya salah memilih penempatan bekerja.

"Semuanya karena saya terburu-buru saat menentukan pilihan ketika ada pembukaan lowongan pekerjaan oleh sekolah. Sekarang baru terasa kalau saya salah pilih," tutur Nana ketika bertemu dengan saya di Bendungan Rowosetro yang tidak jauh dari pabrik tempatnya bekerja di Rembang pada Senin (13/4/2026) sore.

Berawal dari Perjalanan Hidup yang Tidak Memihak

Jika melihat perjalanan hidup seorang Nana, sejatinya kita akan melihat sedikit bukti akan tidak adilnya kehidupan yang kita jalani. Bagaimana tidak, sedari kecil, Nana adalah anak yang cerdas dan tangkas. Selain selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya saat bersekolah di jenjang SD hingga SMP, dirinya juga kerap mendapatkan penghargaan dari lomba-lomba nonakademik yang dia ikuti.

Namun sayangnya, semakin waktu berjalan, guliran yang menggelayuti kehidupannya semakin tidak menunjukkan keberpihakan. Kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah dan membuat Nana harus tumbuh besar bersama kakek dan neneknya. Perpisahan kedua orang tuanya pula yang membuat segala impian Nana harus dikubur dalam-dalam. Alih-alih melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA, Nana justru memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke SMK yang memiliki skema kerja sama dengan perusahaan atau pabrik, baik dari wilayah setempat maupun dari luar daerah.

Meskipun kakek dan neneknya tidak menuntut untuk mendapatkan balasan, namun rasa tidak enak hati dan ingin segera membalas segala kebaikan mereka yang berasal dari dalam diri Nana-lah yang membuatnya memilih keputusan itu. Sehingga, ketika sekolahnya di Tuban memberikan informasi perekrutan karyawan pabrik dengan skema kerja sama, Nana menjadi yang terdepan dalam mendaftar, tidak peduli pabrik atau perusahaan mana yang kali pertama melakukan pembukaan.

Sekadar menginformasikan, SMK tempat Nana menuntut ilmu memang bekerja sama dengan berbagai pabrik dan perusahaan dalam perekrutan karyawan, namun hal itu tidak dilakukan secara serentak. Bisa saja pabrik atau perusahaan A membuka di pekan ini atau bulan ini, sementara pabrik atau perusahaan B membuka perekrutan setelahnya. Dan beruntungnya lagi adalah, SMK tempat Nana sekolah memang memperbolehkan para siswanya untuk "nyambi" menjadi pekerja di 3 atau 4 bulan terakhir jenjang, tanpa diwajibkan untuk belajar dan hadir di kelas.

Nah, hal inilah yang dimanfaatkan oleh Nana. Tidak peduli perusahaan mana yang pertama membuka, dirinya segera mendaftar untuk ikut seleksi perekrutan. Meskipun sempat agak ragu karena ternyata yang pertama kali membuka lowongan kerja di SMK-nya adalah perusahaan asal Rembang, yang notabene terletak lintas kabupaten dan lintas provinsi dari tempatnya tinggal, namun keinginan untuk segera mandiri, membuat bangga, dan membalas kebaikan dari orang-orang yang merawatnya sedari kecil membuatnya tetap bertekad untuk mendaftar meskipun sadar jika diterima dirinya akan berstatus sebagai perantauan.

Tetap Bersyukur Meskipun Mulai Gundah dengan Pendapatan

Singkat cerita, Nana pun pada akhirnya lolos seleksi dan bekerja di pabrik pilihannya. Namun di sinilah kenyataan bahwa dirinya cenderung salah dalam memilih tempat kerja mulai terbuktikan secara perlahan. Sebelumnya, salah satu hal yang menguatkan Nana untuk tetap maju mendaftar di bursa lowongan kerja yang dibuka oleh sekolahnya adalah embel-embel pabrik tujuannya yang menyematkan kata "internasional" di sana.

Bagi remaja belasan tahun, tentu memiliki pemikiran awal nan awam bahwa label "internasional" di pabrik tersebut akan memberikannya sedikit banyak privilege, termasuk dalam hal finansial. Namun semua bayangan yang menguatkan keputusan Nana itu sirna ketika dirinya mulai menapaki dunia kerja di pabrik itu. Meskipun memiliki embel-embel nama "internasional", namun gaji yang didapatkan oleh Nana sebagai pekerja hanyalah sebesar UMR kabupaten setempat, alias Rp2,3 juta saja.

Nominal ini tentunya lebih kecil ketimbang perusahaan atau pabrik lain yang membuka perekrutan pegawai di SMK-nya beberapa waktu kemudian, yang juga menerapkan skema gaji berdasarkan UMR.

"Gaji yang aku dapatkan di angka Rp2,3 juta. Lebih kecil daripada teman-teman yang memilih di Tuban, Lamongan, maupun Bojonegoro," terang Nana.

Memang, jika kita mencoba untuk membandingkan daerah-daerah tersebut, UMR yang ditetapkan oleh kabupaten tempat Nana bekerja terbilang paling rendah. Menurut laman rembangkab.go.id, UMK Rembang untuk tahun 2026 ini ditetapkan di angka Rp2.386.305,00. Sementara Bojonegoro di angka Rp2.685.983,00, Lamongan di angka Rp3.196.328,00, dan Tuban Rp3.229.092,00.

Tentu saja ini tidak hanya tentang nominal yang didapatkan oleh Nana, namun lebih kepada niat yang ada di baliknya. Karena di balik gaji "imut" UMR yang kini dinikmatinya, ada mimpi besar yang dibawanya ketika ingin segera mandiri dan tidak menjadi beban bagi keluarganya. Dalam bayangan Nana, ketika sudah bisa mendapatkan gaji secara mandiri, dirinya sedikit banyak ingin memberikan kebahagiaan bagi keluarga, terutama kakek dan nenek yang telah merawatnya selama ini.

Namun, impian itu besar kemungkinan akan tertunda untuk beberapa waktu (jika tidak menuju kegagalan) mengingat gaji yang didapatkannya kini tidak sebesar yang sebelumnya dia bayangkan. Bagaimana tidak, dari penghasilan satu bulan yang berada di angka Rp2,3 juta itu, dirinya sudah harus mengeluarkan biaya kos sebesar Rp500 ribu. Belum lagi biaya makan sehari-hari dan kebutuhan pribadi yang tentu saja jumlahnya tidak sedikit.

Belum lagi biaya bensin untuk motor yang sengaja dibawanya dari rumah agar pengeluarannya lebih irit, mengingat awal-awal bekerja dulu dirinya harus merogoh kocek setidaknya Rp15 ribu untuk membayar transportasi online sekali jalan. Ditambah, sebagai perantau muda, Nana masihlah seorang remaja yang "mbok-mboken" alias homesick, sehingga kerap kali di akhir pekan dirinya pulang ke kampung halaman, di mana hal itu semakin membuat pengeluarannya bertambah.

"Selama yang aku jalani, dari gaji segitu, kalau beruntung di akhir bulan masih tersisa satu atau dua lembaran merah. Syukur-syukur bisa tiga," jelasnya malu-malu saat saya mencoba untuk bertanya nominal yang tersisa dari gaji imutnya itu.

Disadari atau tidak, apa yang kini dirasakan oleh Nana tidak lepas dari keinginannya untuk segera mandiri beberapa waktu lalu. Bukan karena apa-apa, namun karena dirinya ingin segera bisa berdikari dan turut serta memiliki sumbangsih terhadap keluarganya. Sehingga, ketika ada lowongan untuk bisa mandiri dengan segera, maka dirinya langsung saja mencoba tanpa menunggu lama, meskipun kini berujung pada sedikit kegundahan pada pendapatan dan masa depannya.

Dirinya pun sadar, jika saja saat itu agak sedikit bersabar, mungkin dia bisa memilih tempat lain yang bisa memberikan nominal yang lebih besar.

"Mungkin saat ini rezekinya baru segini, ya. Siapa tahu ke depannya bertambah banyak dan aku bisa bikin orang-orang yang aku sayangi jadi bangga," harapnya menutup perbincangan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda