Kolom

Gajian Cuma Numpang Lewat: Kenyataan Pahit Generasi Sandwich yang Dipaksa Cukup

Gajian Cuma Numpang Lewat: Kenyataan Pahit Generasi Sandwich yang Dipaksa Cukup
Ilustrasi Bertahan Hidup (AI/Fairuz Fatin)

Siang itu cerah, tanggal 30, hari yang bagi sebagian orang identik dengan kebahagiaan, yaitu hari gajian. Raut wajah penuh sukacita terlihat di mana-mana. Namun, mungkin tidak untuk semua orang, terutama mereka yang bahkan sebelum menerima gaji, sudah tahu ke mana uang itu akan habis.

Obrolan santai saat makan siang dengan seorang rekan kerja justru menjadi titik refleksi yang menampar.

"Eh, aku pengin deh kayak orang-orang kalau habis gajian."

"Kayak orang-orang gimana?" tanyaku.

"Iya… kayaknya seru aja. Kamu tuh kayak sudah tahu uangnya buat apa. Aku kadang malah bingung uang gajian ini mau diapain."

Kalimat itu sederhana, tetapi menyadarkan satu hal: tidak semua orang hidup dalam tekanan finansial yang sama.

Bagi sebagian orang, gaji adalah alat untuk bertahan. Namun bagi sebagian lainnya—termasuk saya—gaji adalah ruang untuk "memilih". Memilih mau ditabung berapa, memilih harus dikirim berapa ke kampung halaman agar tetap cukup bertahan di tanah rantau. Memilih untuk menahan keinginan membeli sesuatu hanya karena gaji harus cukup sampai akhir bulan.

Sebagai bagian dari generasi sandwich, gaji bukan hanya tentang diri sendiri. Ada kebutuhan di perantauan, ada tanggung jawab di kampung halaman. Ada yang harus dibayar, ada yang harus dikirim, ada yang harus dikorbankan. Di titik itu, istilah "cukup" menjadi sangat relatif. Mungkin kita perlu mengubah cara pandang; bukan lagi "cukup", melainkan "dicukupkan".

Berbicara tentang Upah Minimum Regional (UMR), realitasnya tidak sesederhana angka yang ditetapkan pemerintah setiap tahun. Secara konsep, UMR seharusnya mengacu pada Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Namun faktanya, tidak semua daerah mampu memenuhi standar tersebut. Di kota besar seperti Jakarta, UMR tahun 2025 berada di kisaran Rp5,3 juta. Namun di sisi lain, biaya hidup rumah tangga atau kebutuhan pribadi bisa melampaui angka yang sudah ditetapkan tersebut.

Artinya apa? UMR memang naik. Akan tetapi, biaya hidup naik jauh lebih cepat. Di sinilah letak masalah utamanya. UMR pada akhirnya hanya mampu memenuhi kebutuhan paling dasar: makan, tempat tinggal, transportasi. Itu pun sering kali dalam kondisi pas-pasan. Bukan untuk menabung, bukan untuk investasi, apalagi untuk hidup nyaman.

Maka, wajar jika muncul pertanyaan: Apakah UMR benar-benar dirancang untuk hidup layak, atau hanya untuk memastikan seseorang tetap bisa bekerja esok hari?

Jika seseorang hidup sendiri tanpa tanggungan, mungkin UMR masih terasa "cukup". Namun, ketika realitasnya adalah menanggung orang tua, membiayai adik, atau membangun keluarga, maka UMR berubah dari "standar minimum" menjadi "batas bertahan". Dan di titik ini, kita perlu jujur kalau UMR bukan standar hidup nyaman. UMR adalah standar bertahan hidup.

Masalahnya bukan hanya pada angka UMR, melainkan juga pada ekspektasi sosial yang dibangun di atasnya. Kita sering menganggap:

  • Yang penting sudah di atas UMR, berarti aman.
  • Naik sedikit tiap tahun, berarti sudah sejahtera.

Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu. Kesejahteraan tidak hanya diukur dari kemampuan bertahan, tetapi dari kemampuan untuk:

  • Menabung.
  • Berkembang.
  • Memiliki rasa aman finansial.

Jika seseorang bekerja penuh waktu, tetapi masih harus memilih antara menabung atau makan layak, maka ada yang perlu dievaluasi dari sistemnya. Mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggap UMR sebagai simbol "aman". Karena pada kenyataannya, UMR bukanlah tanda bahwa hidup sudah cukup, melainkan tanda bahwa kita baru memiliki fondasi paling dasar untuk bertahan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda