Kolom
"Skripsi yang Baik Adalah Skripsi yang Selesai": Curhat Mantan Mahasiswa Si Paling Perfeksionis
Sejujurnya, saya bukan deadliner. Tapi sering kali berakhir seperti deadliner. Namun, saya tidak bisa menyangkal bahwa saya punya kecenderungan perfeksionis. Saya ingin semuanya dipikirkan matang-matang, seolah setiap langkah harus sempurna sejak awal. Namun, alih-alih langsung mulai, saya justru sering terjebak terlalu lama di tahap memikirkan. Alih-alih produktif, saya malah menunda.
Pengalaman ini terasa paling nyata saat saya mengerjakan skripsi. Setelah seminar proposal, saya mendapat masukan untuk menambahkan audio pada media pembelajaran yang saya buat. Saya sempat mencobanya, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan—terutama karena pelafalan bahasa Arab yang kurang tepat bisa mengubah makna secara signifikan.
Di titik itu, saya dihadapkan pada dua pilihan: mempertahankan media yang ada atau merombaknya secara besar-besaran. Jika memilih opsi kedua, berarti saya harus merevisi hampir seluruh bagian skripsi.
Karena ingin hasil yang sempurna, saya justru terjebak dalam kebingungan. Skripsi saya berhenti di titik yang sama selama berbulan-bulan.
Keadaan mulai berubah saat saya berdiskusi dengan pembimbing baru. Dari situ, saya mendapatkan sudut pandang lain dan akhirnya memutuskan untuk tetap menggunakan media yang ada, tanpa tambahan audio.
Namun, tantangan belum selesai. Di sekolah tempat penelitian, siswa tidak diperbolehkan menggunakan ponsel, sementara media yang saya buat lebih optimal jika digunakan secara mandiri. Saya pun harus menyesuaikannya agar bisa digunakan melalui proyektor di kelas. Beruntungnya, dosen pembimbing tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Waktu terus berjalan. Saat itu sudah akhir April, sementara batas pendaftaran sidang semakin dekat. Kesempatan penelitian baru saya dapatkan di pertengahan Mei—yang berarti saya hanya punya waktu kurang dari dua minggu untuk menyelesaikan semuanya, dari penelitian hingga penulisan akhir.
Di titik itu, saya akhirnya menyerah pada satu hal: kesempurnaan. Saya tidak lagi berpikir bagaimana membuat skripsi yang ideal, tetapi bagaimana menyelesaikannya tepat waktu. Sambil menunggu jadwal penelitian, saya mulai mencicil bagian-bagian yang bisa dikerjakan lebih dulu, sembari tetap bimbingan dengan dosen.
Dan ternyata, saya bisa. Dalam waktu kurang dari dua minggu, saya berhasil menyelesaikan semuanya dan menjalani sidang sesuai jadwal.
Setelah saya renungkan kembali pengalaman tersebut, ternyata masalahnya bukan pada kurangnya waktu. Tapi pada keinginan untuk menunggu semuanya terasa “siap” sebelum benar-benar memulai.
Perfeksionisme yang saya kira akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik, justru membuat saya berjalan di tempat.
Ketika deadline semakin dekat, otak memang terasa bekerja lebih cepat. Seolah-olah kita lebih produktif di bawah tekanan. Padahal sebenarnya, kita hanya tidak punya pilihan selain bergerak.
Ironisnya, hasil yang dikerjakan dalam kondisi terburu-buru itu pun tetap tidak benar-benar sempurna.
Di awal, kita berpikir semakin lama mempertimbangkan, hasil akan semakin baik. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya—kita terjebak dalam terlalu banyak kemungkinan yang belum tentu terjadi, hingga akhirnya tidak kunjung memulai.
Dan saat deadline sudah di depan mata, fokus kita pun berubah. Bukan lagi tentang kesempurnaan, melainkan tentang bagaimana menyelesaikan semampunya.
Dari pengalaman itu, saya belajar satu hal sederhana: yang kita butuhkan bukan lebih banyak waktu untuk berpikir, tapi keberanian untuk memulai—meski belum sempurna.
Sejak itu, setiap ada adik tingkat yang meminta saran soal skripsi, saya selalu mengatakan hal yang sama: jangan mengejar kesempurnaan.
Karena pada akhirnya, skripsi yang baik bukanlah skripsi yang sempurna, melainkan skripsi yang selesai.
Ada satu hal yang cukup lucu dari pengalaman ini. Di balik semua keruwetan yang ada di kepala saya, teman-teman justru melihat saya sebagai orang yang “terlalu santai”.
Setelah sidang, salah satu teman asrama berkata, “Mbak Ukhro, kok bisa santai banget ngerjain skripsinya?” Saya hanya tertawa, lalu menjawab, “Ya, emang hidup harus dibawa santai, biar nggak stres.”
Padahal kenyataannya, “santai” itu hanyalah cara saya bertahan—menonton drama Korea di sela-sela revisi, atau bernyanyi lagu random dengan suara sumbang saat membuka laptop.
Bukan karena tidak pusing, tapi karena kalau terlalu dipikirkan, saya bisa berhenti lagi di titik yang sama. Dan sekarang saya paham, terkadang yang terlihat santai dari luar, justru adalah bentuk lain dari perjuangan yang tidak selalu terlihat.