Kolom
Berhenti Jadi Budak Konten: Mengapa Hidup 'Estetik' Seringkali Adalah Jebakan Finansial
Media sosial membuat banyak hal berubah, termasuk cara orang memandang gaya hidup. Sekarang, hidup bukan hanya soal menjalani keseharian, tapi juga bagaimana terlihat di internet seolah ada tuntutan timeline yang selalu rapi dan menyenangkan.
Sekilas semuanya terlihat indah. Namun di balik semua unggahan glowing itu, tidak sedikit orang sebenarnya sedang berusaha keras memenuhi standar sosial yang terus meningkat agar tidak dianggap tertinggal.
Masalahnya, gaya hidup seperti itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Akibatnya, banyak orang akhirnya terjebak dalam budaya konsumtif. Mereka membeli sesuatu bukan karena benar-benar butuh, tapi demi terlihat cocok dengan standar media sosial.
Media sosial seperti penuh dengan “racun” konsumsi yang trennya terus berubah sangat cepat. Lucunya, hidup memang terlihat glowing di luar, tapi dompet diam-diam mulai “going”.
Media Sosial dan Racun Konsumsi Sehari-hari
Media sosial menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat budaya konsumtif semakin normal. Hampir setiap hari kita melihat konten barang viral, rekomendasi skincare, outfit kekinian, sampai tempat nongkrong yang katanya wajib dicoba.
Tanpa sadar, semua itu memengaruhi cara kita melihat kebutuhan. Barang yang sebelumnya terasa biasa saja mendadak terlihat penting setelah viral di TikTok atau Instagram. Ada rasa penasaran dan takut tertinggal agar bisa setara dengan orang lain.
Masalahnya, tren di media sosial bergerak sangat cepat. Hari ini ramai satu produk, minggu depan muncul lagi produk baru yang dianggap lebih menarik. Akibatnya, keinginan belanja seperti tidak pernah selesai.
Yang lebih berbahaya, media sosial sering membuat konsumsi terlihat normal dan menyenangkan. Orang lebih sering menunjukkan hasil belanja, outfit baru, atau gaya hidup estetik tanpa memperlihatkan kondisi finansial di baliknya.
Paylater dan Ilusi “Masih Aman”
Budaya konsumtif sekarang semakin sulit dipisahkan dari kehadiran paylater. Fitur “beli sekarang, bayar nanti” membuat proses belanja terasa jauh lebih ringan. Pengeluaran seolah aman, padahal tagihan tetap akan datang.
Saya rasa paylater menjadi penyebab banyak orang lebih impulsif saat belanja. Barang mahal terasa lebih terjangkau karena pembayarannya tidak langsung terasa berat.
Awalnya mungkin hanya satu transaksi kecil yang terasa mudah hingga membuat kebiasaan itu terus berulang. Semua terasa menyenangkan saat checkout, tapi tagihan menumpuk di akhir bulan mulai bikin panik.
Di titik itu, banyak orang sadar kalau gaya hidup yang terlihat estetik ternyata diam-diam menguras finansial. Sayangnya, kesadaran ini kerap muncul saat nominal tagihan sudah menggunung.
Validasi Sosial dan Kebiasaan “Lapar Mata”
Diakui atau tidak, membeli sesuatu demi validasi sering menjadi alasan budaya konsumtif sulit dihentikan. Ada rasa senang ketika mendapat pujian karena terlihat stylish, estetik, atau mengikuti tren terbaru.
Media sosial juga membuat orang semakin mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain. Saat melihat orang lain terlihat bahagia dan serba punya, muncul perasaan ingin ikut memiliki hal yang sama.
Padahal belum tentu semua yang terlihat di internet benar-benar mencerminkan kenyataan. Akibatnya, banyak orang jadi terbiasa “lapar mata”. Sedikit lihat promo langsung tertarik, lihat influencer pakai barang tertentu auto mau membeli.
Belanja akhirnya bukan lagi soal kebutuhan, tapi soal memenuhi rasa ingin terlihat cukup di depan orang lain. Ironisnya, validasi yang didapat hanya bertahan sementara, sementara dampak finansialnya bisa terasa lebih lama.
Belajar Hidup Realistis di Tengah Tren Digital
Tidak ada yang salah dengan menikmati hidup atau membeli sesuatu yang disukai. Semua orang tentu ingin merasa senang dan percaya diri. Namun, sebenarnya tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua keinginan wajib segera dipenuhi.
Kadang kita terlalu sibuk mengejar citra hidup ideal sampai lupa menjaga kondisi finansial sendiri. Padahal hidup tenang tanpa banyak tagihan jauh lebih nyaman dibanding terlihat mewah di media sosial tapi stres setiap akhir bulan.
Saya rasa tidak ada salahnya untuk belajar mengendalikan keinginan di tengah dunia yang terus mendorong konsumsi tanpa henti. Sebab hidup yang benar-benar “glowing” bukan hanya soal penampilan luar atau feed media sosial yang estetik.
Justru kita harus memiliki kemampuan menjalani hidup dengan lebih bijak, realistis, dan tidak terus memaksakan diri demi standar internet yang tidak ada habisnya. Karena percuma terlihat glowing di luar kalau dompet diam-diam going duluan.