Kolom
Ketika Anak Menjadi Korban Daycare, Ibu Sudah Cukup Hancur Tanpa Perlu Dihakimi
Saat mengetahui anak menjadi korban kekerasan yang begitu tidak manusiawi, hati ibu mana pun tentu akan terasa perih dan hancur. Namun mirisnya, di saat yang sama, masih ada begitu banyak orang yang justru sibuk menghakimi.
Sobat Yoursay, akhir-akhir ini publik memang ramai menyoroti kasus kekerasan yang terjadi di daycare Little Aresha, Yogyakarta. Kemarahan terhadap para pelaku tentu sangat wajar. Akan tetapi, ada satu hal lain yang membuat saya semakin merasa miris, yakni ketika sebagian orang justru mengarahkan telunjuk pada ibu korban.
Komentar-komentar nirempati berseliweran di tengah kemarahan publik terhadap para pelaku. Ada yang menuduh ibu terlalu sibuk bekerja, ada yang membandingkan dengan pilihannya berhenti bekerja demi anak, hingga nasihat tentang ibu sebagai madrasah pertama pun kembali disinggung. Seolah-olah, menitipkan anak ke daycare adalah bentuk kelalaian yang tak terampuni.
Tapi, Sobat Yoursay, apakah menitipkan anak kepada orang lain adalah hal yang mudah bagi seorang ibu? Apakah ada ibu yang tidak ingin membersamai tumbuh kembang buah hatinya setiap waktu?
Coba kita renungkan bersama jawaban dari dua pertanyaan itu. Sebagai seseorang yang belum menikah dan belum menjadi ibu pun, saya bisa membayangkan betapa sakitnya hati seorang ibu ketika anaknya diperlakukan dengan begitu tidak manusiawi. Maka rasanya semakin menyakitkan ketika di tengah luka sebesar itu, publik justru lebih cepat menilai daripada mencoba memahami.
Namun, alih-alih berempati, publik justru begitu cepat menilai dengan standar ideal yang tidak dimiliki oleh semua orang. Ibu dianggap seharusnya di rumah, wajib mengasuh secara penuh, dan tidak boleh lengah sedikit pun. Mereka menilai dari teori yang tampak ideal, sementara para ibu hidup dalam realitas yang kadang jauh lebih rumit.
Tidak semua ibu memiliki privilege untuk berhenti bekerja. Tidak semua ibu mempunyai pasangan dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Tidak semua ibu pula memiliki keluarga dekat atau asisten rumah tangga yang siap membantu menjaga anak setiap waktu.
Karena itulah, menitipkan anak ke daycare bukanlah keputusan yang benar-benar ringan. Setiap ibu tentu ingin menyuapi anaknya sendiri, memeluknya ketika menangis, menyaksikan tumbuh kembangnya dari dekat, dan mengasuhnya tanpa harus dibantu tangan lain. Namun, di saat yang sama, ada tuntutan kebutuhan yang membuat sebagian ibu terpaksa tetap bekerja dan berpisah dengan buah hati. Minimnya support system menjadikan daycare sebagai jalan yang paling mungkin dipilih, meski sering kali bukan jalan yang paling diinginkan.
Lalu begitu kasus kekerasan itu terbongkar, saya rasa ibu tidak memerlukan komentar netizen untuk merasa bersalah. Bahkan jauh sebelum ada orang yang sibuk menuding, ibu sudah menjadi orang pertama yang menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa saya tidak sadar lebih cepat? Mengapa saya menitipkannya di sana? Mengapa saya tidak ada ketika anak saya membutuhkan?
Rasa bersalah itu tentu sudah sangat besar, bahkan mungkin cukup untuk menghancurkan hati seorang ibu. Karena itu, rasanya sangat tidak pantas jika publik masih menambah luka dengan menyalahkan ketiadaan ibu di sisi sang buah hati. Sebab dalam kasus seperti ini, ibu pun sesungguhnya ikut menjadi korban. Saat ia menitipkan anak karena percaya, kepercayaan itu justru dikhianati dengan begitu kejam.
Dalam situasi seperti ini, alih-alih sibuk menuding ibu dan menjadikannya tersangka kedua, mungkin sudah saatnya perhatian kita diarahkan pada hal yang lebih penting: bagaimana sistem perlindungan anak benar-benar diperkuat. Pemerintah harus hadir memastikan regulasi daycare diperketat, sistem perizinan diperjelas, dan pengawasan dijalankan dengan sungguh-sungguh agar tempat yang disebut aman benar-benar aman bagi anak.
Sementara itu, kita sebagai warganet pun perlu merenung kembali. Tidak semua kehidupan bisa diukur dengan standar yang sama, tidak semua ibu memiliki pilihan yang ideal, dan tidak semua luka perlu ditambah dengan kalimat penghakiman.
Sebab ketika anak menjadi korban, ibu sering kali sudah cukup hancur tanpa perlu diadili oleh orang-orang yang tidak pernah benar-benar hidup dalam situasinya. Jika memang tak mampu menuliskan komentar yang menunjukkan empati, diam sering kali jauh lebih baik daripada ikut menambah luka.