Ulasan

Saat Algoritma Lebih Berkuasa, The Devil Wears Prada 2 Terasa Lebih Relevan

Saat Algoritma Lebih Berkuasa, The Devil Wears Prada 2 Terasa Lebih Relevan
Bagian dari poster The Devil Wears Prada 2 (IMDb)

Dua puluh tahun setelah ‘The Devil Wears Prada’ jadi ikon budaya pop, sekuelnya akhirnya rilis pada 29 April 2026 dengan rasa yang jauh lebih getir. Disutradarai David Frankel dan kembali ditulis Aline Brosh McKenna, film ini mempertemukan lagi wajah-wajah lama: Meryl Streep sebagai Miranda Priestly, Anne Hathaway sebagai Andy Sachs, Emily Blunt sebagai Emily Charlton, dan Stanley Tucci sebagai Nigel.

Eits, jangan berharap ini sekadar reuni hangat dengan rasa nostalgia. Sekuel ini malah kayak tamparan yang pelan, dingin, tapi kena tepat sasaran. 

Cerita kembali pada majalah Runway yang kini berada di ujung tanduk. Dunia sudah berubah. Media cetak yang dulu jadi penentu selera kini harus bersaing dengan kecepatan internet, tren viral, dan sistem digital yang nggak lagi mengenal jeda.

Miranda Priestly, yang dulu bak penguasa di dunia fashion, kini berdiri di tengah badai masalah yang bahkan hampir nggak mampu dia kendalikan. Sementara Andy Sachs kembali, bukan sebagai gadis polos, tapi sebagai jurnalis yang sudah kenyang realita.

Pertemuan mereka bukan lagi soal pembuktian diri, tapi tentang bertahan hidup di dunia yang aturannya sudah berganti. Semenarik itu memang kisahnya, lebih-lebih bila Sobat Yoursay nonton langsung filmnya di bioskop. 

Yuk, Kita Bahas Tuntas Hal Menarik yang Sangat Seru Dikupas! 

Film ini sebenarnya bukan tentang fashion semata. Secara cerita, hanya menggunakan fashion sebagai pintu masuk untuk membahas sesuatu yang lebih luas. Terkait bagaimana dunia kreatif perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dulu, Runway punya daya tarik karena satu hal: kurasi. Ada standar, selera, keberanian untuk bilang ‘ini bagus’ dan ‘ini nggak’. Dan di puncak semua itu berdiri Miranda, sosok yang bisa menentukan arah industri hanya lewat satu keputusan.

Sekarang? Yang menentukan bukan lagi manusia. Yang menentukan adalah angka.

Film ini terang-terangan menunjukkan pergeseran itu tanpa perlu banyak ceramah. Perlahan tapi pasti, Runway dipaksa berubah. Judul artikel terasa lebih sensasional. Konten harus lebih cepat. Visual harus lebih mencolok. Dan yang paling menyakitkan, kedalaman mulai dikorbankan.

Di titik ini, filmnya lebih jujur, bahkan sedikit menyakitkan. Dunia digital sering dipuja sebagai ruang demokratis, tempat semua orang punya suara. Namun, realitanya nggak sesederhana itu. Semua orang bisa bicara, iya. Tapi nggak semua didengar.

Di era algoritma, yang naik bukan yang paling berkualitas. Yang naik tuh yang paling menarik perhatian, paling cepat, juga ramai diklik. Dan di titik itu, selera bukan lagi soal rasa, tapi soal strategi.

Miranda mungkin kejam. Tapi se-nggaknya dia manusia. Dia punya intuisi, pengalaman, dan integritas dalam caranya sendiri. Ketika dia bilang sesuatu jelek, itu karena dia benar-benar percaya itu jelek. Sekarang, keputusan seperti itu digantikan sama sistem yang bahkan nggak mengenal konsep ‘jelek’ atau ‘bagus’. Yang algoritma tahu hanya satu: performa. Dan performa nggak peduli pada kualitas. 

Perubahan ini paling terasa lewat Andy. Dulu dia masuk Runway sebagai outsider, seseorang yang melihat dunia itu dengan skeptis. Sekarang, dia jadi bagian dari mesin yang sama, hanya bentuknya berbeda. Dia nggak lagi sekadar menulis, tapi juga harus memikirkan bagaimana tulisannya bisa bertahan di tengah arus konten yang nggak pernah berhenti.

Sementara itu, dunia di sekitarnya tetap terlihat indah. Busana memukau, runway tetap glamor, semuanya bak perayaan besar. Namun di balik itu, ada rasa hampa yang sulit diabaikan. Seperti pesta megah yang sengaja dibuat untuk menutupi sesuatu yang sedang retak perlahan.

Lalu pertanyaannya jadi sederhana, tapi kurang nyaman, ”Sevenarnya kita mau dunia seperti apa?”

Dunia di mana satu orang seperti Miranda menentukan segalanya? Atau dunia di mana segalanya ditentukan sistem tanpa wajah?

Jawabannya mungkin nggak hitam-putih. Film ini menunjukkan satu hal yang sulit ditolak: kalau dulu kekuasaan terasa menakutkan karena terlalu manusiawi, sekarang malah terasa lebih mengerikan karena kehilangan sisi manusianya. Begitulah, algoritma mengatur segalanya bukan? 

Maka, bila Sobat Yoursay merasa rindu dan sangat butuh nonton sekuelnya, makasih tontonlah sebelum turun layar. Selamat nonton ya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda