Kolom
Saat Rupiah Melemah, Apakah Side Hustle Jadi Jawaban Keresahan Finansial?
Di zaman ketika harga semua kebutuhan serba mahal ini, masih adakah orang yang bertahan hidup hanya dengan satu pekerjaan?
Saya rasa, kini sudah semakin banyak orang mulai sadar bahwa memiliki satu pekerjaan saja sering kali belum cukup untuk memberi rasa aman finansial. Apalagi di tengah kabar nilai rupiah yang terus melemah, masyarakat pelan-pelan ikut merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Harga kebutuhan naik, biaya hidup terasa makin berat, sementara gaji banyak pekerja justru tetap jalan di tempat.
Sebagian mungkin masih ada. Bisa jadi karena gajinya sudah cukup, atau pekerjaannya sudah terlalu melelahkan untuk mencari tambahan penghasilan. Namun, rasanya akan cukup berat jika seorang karyawan dengan gaji pas-pasan harus memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa ada pekerjaan sampingan. Karena itu, tidak sedikit orang akhirnya mencari pekerjaan sampingan sebagai tambahan pemasukan. Saya sendiri menjadi salah satunya.
Saya pribadi, sebagai freshgraduated yang sering kali dikira pengangguran, setidaknya sekarang memiliki dua kegiatan yang mungkin bisa saya sebut sebagai pekerjaan. Setelah lulus dari kampus, saya melakoni pekerjaan sebagai staf admin di salah satu Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di Kediri. Selain itu, di sela-sela waktu luang, saya juga menulis artikel di Yoursay.
LBB tempat saya bekerja bukanlah lembaga besar, sehingga gajinya pun masih cukup jauh dari UMR. Untungnya, sistem kerja Work from Home (WFH) membuat saya memiliki cukup banyak waktu luang untuk melakukan pekerjaan lain.
Sebelum mengenal Yoursay, saya juga pernah aktif menulis di platform lain yang menghasilkan uang. Sayangnya, platform tersebut tiba-tiba tutup dan membuat banyak karya penggunanya hilang, termasuk karya saya yang setidaknya ada seratus lebih. Meski sempat sedih, kejadian itu membuat saya belajar untuk selalu mem-back up tulisan sendiri.
Sementara di Yoursay sendiri, saya baru sekitar dua bulan lebih bergabung. Dan alhamdulillah, di sini saya berkembang lebih banyak. Dari saya yang sebelumnya lebih suka menulis puisi dan prosa pendek daripada artikel ratusan kata, kini malah lebih aktif menulis ulasan, opini, dan cerita pendek.
Pekerjaan sampingan sebagai penulis artikel di Yoursay ini, saya akui hasilnya cukup lumayan. Meskipun tetap bisa dibilang untung-untungan. Karena jumlah artikel yang saya tulis dan berhasil published dalam sehari tidak menentu. Kalau ada banyak waktu cukup banyak untuk menulis, bisa sampai tiga, empat, bahkan lebih. Tetapi kalau memang banyak kesibukan yang tidak bisa ditunda di dunia nyata, terkadang hanya bisa submit satu artikel saja, atau bahkan tidak sama sekali.
Untuk mengelola keuangan, tabungan masih menjadi prioritas saya saat ini. Selain 20% dari gaji, uang hasil menulis juga saya masukkan ke dalam tabungan. Dengan strategi “karet gelang”, saya mencoba lebih dulu menyisihkan uang tabungan sebelum memakai sisanya untuk kebutuhan harian.
Meski demikian, saya tidak terlalu erat "mengikat" seluruhnya di akun tabungan. Pengelolaan keuangan tetap saya lakukan secara fleksibel. Ketika kondisi finansial sedang kurang baik, misalnya saat pemasukan dari pekerjaan utama berkurang karena suatu hal, ikatan itu bisa sedikit “dilonggarkan” untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Side hustle yang saya jalani saat ini mungkin belum benar-benar mampu menjawab seluruh keresahan finansial di tengah nilai rupiah yang terus melemah. Namun, setidaknya ada rasa tenang yang perlahan muncul ketika saya memiliki tambahan pemasukan di luar pekerjaan utama.
Saat saldo rekening mulai menipis, saya merasa sedikit lebih tenang ketika melihat poin di Yoursay terus bertambah seiring dengan tulisan yang terpublikasi. Hal kecil seperti itu ternyata cukup membantu meredakan kecemasan finansial yang diam-diam sering muncul.
Saat ini, mungkin sudah banyak orang yang melakukan hal serupa. Jika dulu side hustle sering dianggap sekadar aktivitas tambahan untuk mengisi waktu luang atau mengikuti tren produktif, sekarang banyak orang justru menjadikannya sebagai penyangga finansial. Sebab di tengah kondisi ekonomi yang terasa tidak menentu dan nilai rupiah yang terus melemah, memiliki satu sumber penghasilan saja terkadang belum cukup membuat seseorang merasa tenang.
Di situasi hari ini, ketika rasa cemas terhadap kondisi keuangan sudah menjadi sesuatu sulit untuk dihindari, memiliki side hustle bukan lagi sekadar cara menghasilkan uang tambahan. Bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, side hustle menjadi cara untuk mencari ruang aman finansial di tengah realitas hidup yang terasa semakin mahal.