Kolom
Sebagai Santri, Saya Marah: Pelecehan Tak Boleh Dinormalisasi di Pesantren
Bagaimana mungkin pesantren yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu agama justru berubah menjadi tempat terjadinya pelecehan?
Sebagai seorang santri, jujur saya merasa sangat geram dengan berita yang muncul belakangan ini. Kasus pelecehan seksual di lingkungan pendidikan seolah tidak pernah benar-benar selesai. Kini, kejadian serupa kembali terungkap di lingkungan pesantren.
Sekolah, kampus, maupun pondok pesantren seharusnya menjadi ruang belajar dan bertumbuh yang aman, tetapi kini justru menyimpan trauma dan kenangan buruk bagi para korban. Ironisnya lagi, hal seperti ini tidak hanya terjadi sekali dua kali, tapi terus berulang.
Pertanyaan saya, sampai kapan kasus seperti ini akan dibiarkan berulang di lingkungan pendidikan?
Bagi orang tua, pesantren adalah tempat yang dipercaya untuk mendidik putra-putri mereka dalam ilmu agama dan akhlak. Tak jarang dari mereka yang rela menitipkan anaknya jauh-jauh dari luar kota bahkan luar pulau agar bisa lebih memahami ilmu agama. Kepercayaan sebesar itu seharusnya dijaga, bukan malah disalahgunakan demi kepentingan pribadi.
Kasus seperti ini terasa semakin menyakitkan karena pelakunya adalah sosok yang memiliki kuasa dan sangat dihormati oleh korban. Adanya ketimpangan relasi kuasa membuat korban semakin tidak berdaya melawan. Tidak jarang, ketika mereka berani membuka suara, justru tuduhan fitnah dan tekanan sosial yang diterima. Selain itu, beban ketakutan mencoreng nama baik instansi juga membuat posisi korban semakin sulit.
Seperti yang kita tahu dan saya sendiri rasakan, santri diajarkan untuk menghormati dan patuh kepada guru maupun pengasuh pesantren. Sebenarnya ini nilai yang baik, mengingat posisi guru atau kiai di tempat tersebut merupakan orang tua kedua bagi para santri. Nilai tersebut akan tetap baik selama tidak dimanfaatkan oleh oknum yang merasa memiliki kuasa atas santri.
Di sisi lain, kita tak bisa memungkiri, jika terkadang anak-anak yang belum memiliki kematangan cara berpikir sulit membedakan antara sikap hormat dan membiarkan dirinya diperlakukan tidak pantas. Menghormati guru tentu penting—bahkan harus dilakukan. Namun, perlindungan terhadap anak juga tidak boleh diabaikan.
Akan tetapi, ini juga bisa menjadi sangat berbahaya jika ada oknum yang memanfaatkan kepatuhan dan rasa hormat itu dengan membungkam korban saat diperlakukan tidak pantas. Sekalipun itu dilakukan demi melindungi reputasi lembaga. Sebab menjaga nama baik lembaga tidak boleh lebih penting daripada melindungi korban. Kejadian seperti ini tidak akan berhenti jika korban terus-menerus dibungkam.
Di saat kasus seperti itu masih marak terjadi, memberikan kritik terhadap lembaga pendidikan berbasis agama tidak bisa langsung diartikan sebagai kebencian. Saya pribadi pernah belajar di sana selama beberapa tahun—meski bukan pesantren salaf dengan berbagai aturannya yang begitu ketat. Bagi saya, pesantren tetaplah memiliki nilai yang baik sebagai tempat untuk belajar ilmu agama. Perlu diingat, ketika kasus pelecehan terjadi di beberapa pesantren, itu bukan berarti hal serupa juga terjadi di seluruh pesantren. Kita masih memiliki banyak tempat belajar ilmu agama yang benar-benar melindungi santri dan menerapkan apa yang mereka ajarkan di dalamnya.
Meski demikian, jika kasus seperti ini terjadi, korban tidak selayaknya dibungkam. Tindak kekerasan tidak boleh ditutup-tutupi. Tidak ada alasan apa pun yang bisa dibenarkan untuk mentoleransi tindakan semacam itu.
Santri yang datang untuk belajar wajib mendapatkan perlindungan yang layak. Lembaga pendidikan harus menjadi ruang yang aman—baik secara fisik maupun mental—bukan justru menjadi hal yang menakutkan bagi santri.
Kemarahan saya bukan semata-mata karena kasus yang sama terus berulang, tetapi juga karena ini menjadi akar rusaknya kepercayaan publik terhadap pesantren. Diam hanya akan membuat luka korban terus berulang. Menjaga nama baik lembaga tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan siapapun.
Sebab seharusnya pesantren menjadi ruang pulang yang aman bagi santri, bukan ruang yang membuat mereka menyimpan trauma dalam diam.