Kolom

Percabulan di Pati: Pak, Anjing Saya Saja Tidak Seperti Itu

Percabulan di Pati: Pak, Anjing Saya Saja Tidak Seperti Itu
Ilustrasi kekerasan seksual pada anak [SuaraJogja.com/Ema Rohimah]

‎Di rumah, saya memiliki seekor anjing dewasa dan seekor anak anjing. Kadang saya memperhatikan mereka bermain. Ada kalanya si jantan dewasa melakukan mounting atau menindih si anak anjing. Namun, bagi mereka yang paham perilaku hewan, itu bukan urusan nafsu seksual.

Itu adalah bahasa sosial yaitu sebuah cara mereka berkomunikasi tentang dominasi atau sekadar ajakan bermain yang kasar. Tidak ada niat menyakiti, tidak ada pemaksaan yang bersifat seksual dan yang paling penting: tidak ada ketertarikan seksual pada yang belum dewasa.

‎Secara biologis, anjing jantan hanya akan benar-benar "berhasrat" ketika mencium feromon dari betina dewasa yang memang sudah siap kawin. Alam memberikan mereka "rem" otomatis. Mereka tidak akan mengejar yang belum waktunya.

‎Namun, membaca berita tentang dugaan aksi bejat seorang oknum di Pati terhadap anak-anak di bawah umur, logika saya sebagai pemilik anjing mendadak terbentur kenyataan yang pahit.

‎Ketika Nalar Melampaui Insting

‎Manusia sering kali merasa lebih mulia dari binatang karena kita memiliki akal dan moral. Namun, kasus di Pati ini menunjukkan anomali yang mengerikan. Jika anjing saja memiliki batasan biologis untuk tidak menyentuh yang kecil secara seksual, mengapa manusia yang katanya berakal—bahkan menyandang gelar terhormat—bisa bertindak lebih liar dari insting hewan yang paling dasar?

‎Dalam dunia hewan, tidak ada konsep "pedofilia". Hewan bergerak berdasarkan kebutuhan reproduksi yang jujur. Sementara itu, apa yang terjadi di Pati bukan lagi soal kebutuhan biologis, melainkan soal predasi dan penyalahgunaan kekuasaan.

‎Pengkhianatan Terhadap Fitrah

‎Anjing saya tidak punya kitab suci, tidak pernah ikut pengajian, dan tidak mengerti hukum negara. Tapi dia tahu kapan harus berhenti bermain. Dia tahu bahwa anak anjing bukanlah objek untuk memuaskan hasrat.

‎Lalu, bagaimana dengan kita? Ketika seorang manusia menggunakan posisi, gelar, dan tipu daya untuk merusak masa depan anak-anak, dia sebenarnya sedang melakukan pengkhianatan terhadap fitrah kemanusiaan itu sendiri. Dia telah meruntuhkan pagar-pagar moral yang seharusnya membuat kita berbeda dari makhluk yang tidak berakal.

‎Penutup

‎Melihat anjing-anjing saya di rumah, saya merasa malu. Malu karena sering kali kita menggunakan kata "binatang" sebagai umpatan untuk manusia-manusia bejat. Padahal, jika kita melihat lebih dekat, binatang masih patuh pada hukum alam yang tertib.

‎Kepada para pelaku kekerasan seksual terhadap anak: Jangan pernah merasa diri lebih tinggi dari makhluk lain. Sebab, dari pengamatan sederhana di halaman rumah saya sendiri, saya belajar satu hal: Anjing saya saja tahu batas, mengapa Anda tidak?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda