Kolom
Pink Tax Adalah Bentuk Diskriminasi yang Dijual Lewat Produk Perempuan
Minggu lalu, saya berdiri cukup lama di depan rak perlengkapan mandi sebuah supermarket. Di tangan kanan, saya memegang pisau cukur berwarna biru gelap yang dilabeli untuk pria. Di tangan kiri, saya memegang pisau cukur berwarna merah muda pastel dengan fungsi yang identik. Dua mata pisau, gagang karet, dan pelindung plastik. Perbedaannya? Pisau cukur merah muda itu harganya hampir 20% lebih mahal.
Momen sederhana itu memicu amarah kecil di dada saya. Fenomena ini punya nama yang cantik, Pink Tax atau pajak merah muda, namun bagi saya, praktik ini sama sekali tidak cantik. Fenomena ini adalah pengingat nyata bahwa sebagai perempuan, saya harus membayar biaya tambahan hanya untuk menjadi diri sendiri di tengah masyarakat.
Lebih dari Sekadar Selisih Rupiah
Bagi banyak orang, selisih dua ribu atau lima ribu rupiah mungkin terdengar sepele. Kalau tidak mau mahal, ya beli saja yang versi pria, begitu seloroh yang sering saya dengar. Namun, bagi saya, argumen itu sangat dangkal dan meleset dari inti permasalahan. Pink Tax bukan sekadar soal memilih warna produk, melainkan adalah soal sistem yang mengeksploitasi identitas gender.
Ketika produsen membebankan harga lebih tinggi pada produk perempuan mulai dari deodoran, pakaian, hingga jasa potong rambut, di sini menunjukkan bahwa kebutuhan perempuan adalah sebuah "kemewahan" atau "spesialisasi", padahal itu adalah kebutuhan dasar. Saya merasa dijebak dalam standar ganda. Di satu sisi, lingkungan menuntut perempuan untuk selalu tampil rapi, wangi, dan mulus. Di sisi lain, alat-alat yang dibutuhkan untuk memenuhi standar kecantikan tersebut sengaja dibuat lebih mahal.
Ketidakadilan yang Berlapis
Hal yang membuat saya semakin geram adalah kenyataan bahwa pajak merah muda ini tidak berdiri sendirian. Fenomena ini muncul di tengah realitas gender wage gap atau kesenjangan upah gender yang masih terjadi. Saya membayangkan betapa ironisnya hidup seorang perempuan pekerja. Ia dibayar lebih rendah dari rekan pria untuk pekerjaan yang sama, namun saat ia pulang dan mampir ke toko, ia harus membayar lebih mahal untuk sabun cuci muka yang ia gunakan.
Bagi saya, ini merupakan bentuk ketidakadilan yang berlapis. Kita dipaksa membayar lebih dari kantong yang isinya justru lebih sedikit. Bagi saya, ini bukan sekadar strategi pemasaran yang cerdik dari perusahaan-perusahaan besar, melainkan adalah bentuk diskriminasi ekonomi yang sistemik. Mengapa botol vitamin dengan label untuk perempuan harus lebih mahal padahal komposisinya hampir sama dengan versi umum? Mengapa biaya dry cleaning untuk kemeja perempuan lebih mahal daripada kemeja pria?
Melawan dengan Kesadaran
Sejak menyadari betapa masifnya Pink Tax dalam keseharian saya, saya mulai melakukan hal-hal lain. Saya berhenti membeli pisau cukur merah muda. Saya mulai melirik rak-rak produk netral atau bahkan produk yang ditargetkan untuk pria jika kualitasnya sama. Namun, saya sadar bahwa solusi individu saja tidak cukup.
Kita butuh transparansi. Saya bermimpi suatu saat bisa belanja tanpa harus merasa ditipu oleh kemasan cantik dan aroma bunga yang dijadikan alasan untuk menaikkan harga. Kita butuh regulasi yang memastikan bahwa penentuan harga produk harus berdasarkan biaya produksi dan fungsionalitas, bukan berdasarkan siapa yang akan memakainya.
Bagi saya, melawan Pink Tax adalah soal memperjuangkan kehormatan perempuan. Kita bukan sekadar target pasar yang bisa diperas karena dianggap lebih konsumtif atau lebih peduli pada estetika. Kami adalah konsumen yang berdaya, yang sadar akan nilai uang dan nilai keadilan.
Setiap kali saya melihat label harga yang tidak masuk akal hanya karena sebuah barang berwarna merah muda, saya diingatkan bahwa perjuangan kesetaraan gender ternyata masih sangat panjang. Bahkan ia ada di dalam rak-rak belanjaan kita sehari-hari. Sudah saatnya kita berhenti membayar lebih untuk diskriminasi yang dikemas dalam warna pastel.