Kolom

Kedaulatan di Ujung Algoritma: Alasan Saya Stop Mengikuti Rekomendasi FYP

Kedaulatan di Ujung Algoritma: Alasan Saya Stop Mengikuti Rekomendasi FYP
Ilustrasi seseorang yang sedang bermain ponsel (Unsplash.com/ Gilles Lambert)

Pernahkah Anda merasa bahwa ponsel Anda mengenal Anda lebih baik daripada sahabat, pasangan, atau bahkan orang tua Anda sendiri? Itulah yang saya rasakan selama bertahun-tahun. Setiap kali saya membuka aplikasi media sosial, layar For You Page (FYP) menyambut saya dengan presisi yang menakutkan.

Video kucing yang lucu, tips produktivitas, hingga produk yang baru saja saya bicarakan tadi siang. Semuanya tersaji rapi, seolah-olah dunia memang diciptakan khusus untuk memuaskan selera saya.

Awalnya, saya merasa ini adalah puncak dari kenyamanan teknologi. Namun, perlahan-lahan saya menyadari sebuah kenyataan pahit. Saya telah menyerahkan kedaulatan berpikir saya kepada barisan kode.

Penjara Emas Bernama Personalisasi

Algoritma bekerja dengan cara yang sangat efisien. Ia mempelajari durasi tontonan kita, apa yang kita sukai, dan apa yang kita lewati. Masalahnya, algoritma tidak peduli apakah konten tersebut bermanfaat bagi pertumbuhan intelektual saya atau tidak. Tujuannya hanya satu, yaitu menjaga saya tetap berada di aplikasi selama mungkin.

Saya mulai menyadari bahwa saya terjebak dalam gelembung filter (filter bubble). Saya hanya disuguhi opini yang sejalan dengan pandangan saya, hobi yang sudah saya tekuni, dan informasi yang mengonfirmasi bias-bias saya.

Dunia saya yang luas perlahan menyempit menjadi lorong gelap yang hanya berisi gema suara saya sendiri. Saya kehilangan kemampuan untuk berdebat secara sehat atau sekadar memahami perspektif yang berbeda, karena algoritma telah membuang ketidaknyamanan itu demi kenyamanan visual saya.

Hilangnya Serendipitas

Dahulu, saya menemukan buku favorit saya karena tidak sengaja salah masuk ke lorong toko buku. Saya menemukan genre musik baru karena memutar kaset acak milik teman. Ada elemen serendipitas, sebuah keberuntungan yang muncul saat kita tidak mencarinya.

Di bawah kendali FYP, serendipitas itu mati. Semua yang saya konsumsi adalah hasil kalkulasi. Tidak ada lagi ruang untuk eksplorasi yang benar-benar acak. Saya merasa seperti subjek eksperimen dalam laboratorium digital, di mana setiap gerakan saya diprediksi dengan akurasi 99%. Kebebasan memilih yang saya banggakan ternyata hanyalah pilihan di antara opsi-opsi yang sudah disaring sebelumnya.

Merebut Kembali Kendali

Keputusan saya untuk berhenti mengikuti rekomendasi FYP bukan berarti saya menghapus semua media sosial. Saya hanya memilih untuk menjadi subjek, bukan lagi objek. Berikut adalah langkah-langkah kecil yang saya lakukan untuk merebut kembali kedaulatan tersebut:

  1. Mencari Aktif. Saya berhenti menunggu informasi datang. Jika saya ingin tahu tentang sejarah, saya mencarinya secara manual, bukan menunggu video sejarah lewat di beranda.
  2. Mengikuti Akun Secara Selektif. Saya membersihkan daftar pengikut saya. Saya hanya mengikuti akun-akun yang memberikan nilai tambah, bukan sekadar hiburan instan yang memicu dopamin.
  3. Menghadapi Ketidaknyamanan. Secara sengaja, saya mencari opini atau konten yang berlawanan dengan keyakinan saya. Ini penting untuk melatih kembali otot empati dan daya kritis yang sempat tumpul

Menemukan Kembali Diri Sendiri

Setelah beberapa bulan berpuasa dari algoritma yang invasif, saya merasakan perubahan besar. Rentang perhatian (attention span) saya membaik. Saya tidak lagi merasa terburu-buru untuk menelan konten berikutnya. Yang paling penting, saya merasa memiliki kendali atas apa yang masuk ke dalam pikiran saya.

Kedaulatan diri dimulai dari apa yang kita konsumsi secara mental. Jika kita membiarkan mesin menentukan selera, opini, bahkan emosi kita, maka kita tidak lebih dari sekadar perpanjangan dari perangkat keras yang kita genggam.

Berhenti mengikuti FYP adalah cara saya memilih untuk tidak didefinisikan oleh algoritma. Dunia di luar layar jauh lebih luas, berantakan, dan menantang daripada yang bisa diprediksi oleh baris kode manapun.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda