Kolom
Saat Anak Dituntut Berprestasi Tanpa Diberi Ruang untuk Gagal
“Kalau ranking satu, nanti dapat hadiah.”
Sobat Yoursay, siapa di sini yang semasa sekolah pernah mendengar kalimat itu? Mungkin banyak orang pernah, bahkan sering mendapatkan janji seperti itu. Termasuk teman-teman saya dulu di sekolah. Meski belum pernah merasakannya secara langsung, hari ini saya menyadari jika pujian dan janji semacam itu bisa meningkatkan motivasi belajar anak.
Namun, itu juga tidak selalu jadi kebaikan. Anak-anak yang tumbuh dengan pujian dan hadiah atas prestasi yang dimiliki akan tumbuh menjadi sosok yang terbiasa mendapatkan validasi. Mereka terbiasa berada di lingkungan yang mengajarkan cara menjadi berhasil, tetapi jarang berbicara tentang bagaimana bertahan saat mengalami kegagalan.
Jika ditarik lebih jauh, budaya semacam itu juga akan berdampak terhadap cara seseorang memandang dirinya maupun orang lain. Anak-anak akan mulai menjadikan prestasi akademik sebagai standar harga diri. Nilai yang bagus dianggap membanggakan, sementara nilai kurang sering dianggap memalukan. Dan akhirnya, anak belajar hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Sayangnya, tidak semua anak selalu mampu memenuhi ekspektasi tersebut. Ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan, sebagian anak mulai akrab dengan berbagai kalimat perbandingan. Mereka dibandingkan dengan saudara, teman sekolah, hingga anak orang lain yang dianggap lebih berhasil. Pada titik itu, kegagalan bukan hanya sekadar mengecewakan, tetapi juga memalukan.
Sebagai anak bungsu yang memiliki saudara cukup banyak, saya pun akrab dengan banyak kalimat perbandingan yang kadang terdengar halus, tapi tetap terasa menyakitkan. Tanpa sadar, hal itu membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang mudah overthinking dan takut terhadap kegagalan. Kesalahan kecil terasa memalukan, sementara ketidaksempurnaan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Ada ketakutan untuk mencoba hal baru sebab ketika tidak berakhir sesuai harapan, saya akan merasa gagal dan takut untuk mencoba lagi. Memendam perasaan sendiri pun perlahan menjadi hal yang biasa. Daripada bercerita, diam sering kali menjadi pilihan demi menjaga perasaan dan kesehatan mental.
Meskipun demikian, seiring bertambahnya usia, saya perlahan semakin memahami bahwa hidup bukanlah perlombaan yang harus selalu lebih unggul dari orang lain. Namun di sisi lain, saya juga menyadari bahwa tidak semua anak bisa memahami hal ini lebih cepat. Sebagian ada yang masih tumbuh dengan bayang-bayang rasa takut akan kegagalan dan tekanan untiuk terus memenuhi ekspektasi orang di sekitarnya.
Jika terus dibiarkan, pola semacam ini akan terus terbawa hingga anak tumbuh dewasa. Seseorang yang sejak kecil terbiasa dibandingkan perlahan tumbuh menjadi pribadi yang sulit merasa cukup terhadap dirinya sendiri. Mereka terus mengejar validasi, takut mengecewakan orang lain, dan menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya tidak berharga.
Selain itu, ada pula anak-anak yang akhirnya tumbuh menjadi sosok yang selalu memaksa dirinya agar terlihat baik dan selalu berhasil demi memenuhi ekspektasi orang. Padahal di balik sisi perfeksionisnya itu, ada kelelahan mental yang sering kali hanya dipendam dalam diam.
Budaya saling membandingkan antaranak ini masih dianggap normal oleh banyak orang tua. Bahkan tak jarang yang menganggap perbandingan sebagai bentuk motivasi yang bisa memacu semangat anak. Padahal di saat yang sama, tidak semua anak mampu merespons tekanan dengan cara yang sama. Kalimat perbandingan bisa membekas begitu lama dalam ingatan anak hingga akhirnya menjadi luka emosional yang tak terlihat.
Sobat Yoursay, saat menulis ini dari sudut pandang seorang anak, saya mengakui bahwa anak tetap membutuhkan arahan dan motivasi dari orang tua. Namun, anak juga membutuhkan ruang yang membuat dirinya merasa aman saat mengalami kegagalan. Saya rasa, alih-alih membuat anak semakin termotivasi, perbandingan hanya akan memberikan tuntutan dan tekanan yang menyisakan luka mendalam padanya.
Dan sebagai seorang anak, di sini saya ingin menyuarakan bahwa mungkin yang sebenarnya kami butuhkan bukan sekadar tuntutan untuk menjadi hebat, melainkan keyakinan bahwa kami tetap layak dihargai meski tidak selalu berhasil. Sebab kehilangan penghargaan dan kasih sayang setelah gagal terasa jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan itu sendiri.