Kolom

Menakar Filosofi Ki Hajar Dewantara di Era Kecerdasan Buatan, Masihkah Relevan?

Menakar Filosofi Ki Hajar Dewantara di Era Kecerdasan Buatan, Masihkah Relevan?
Ilustrasi gambar digital art Ki Hajar Dewantara (Gemini AI/Nano Banana)

Pernahkah Anda merasa bahwa dunia sekarang bergerak sangat cepat? Pagi ini kita baru belajar menggunakan satu aplikasi AI, sorenya sudah muncul lagi pembaruan yang membuat teknologi kemarin terasa jadul. Di tengah riuhnya notifikasi ChatGPT, Gemini, hingga generator gambar otomatis, kita tetap merayakan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei dengan membicarakan sosok yang sama: Ki Hajar Dewantara (KHD).

Mungkin ada yang bertanya, "Apakah masih menyambung, pemikiran dari zaman kolonial dibawa ke era Artificial Intelligence?" Jawabannya bukan sekadar menyambung, tetapi filosofi beliau justru bisa menjadi rem tangan sekaligus kompas agar kita tidak tersesat di tengah canggihnya algoritma.

Ing Ngarsa Sung Tuladha: Otoritas Etika di Tengah Banjir Informasi

Kita semua hafal semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Dulu, kita mungkin melihat ini hanya sebagai jargon di buku paket. Namun, jika dibedah dengan kacamata zaman sekarang, maknanya menjadi sangat dalam. Di era AI, akses informasi sangat murah bahkan gratis. Anak sekolah dasar saat ini bisa membuat esai tentang lubang hitam dalam hitungan detik menggunakan AI.

Di sini, peran guru sebagai pemegang otoritas ilmu pengetahuan bergeser. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Maka, prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha menjadi sangat krusial. AI bisa memberikan jawaban, tetapi AI tidak bisa memberikan keteladanan etika, integritas, dan empati. Pendidik hadir bukan sebagai mesin penjawab, melainkan sebagai contoh nyata bagaimana manusia bersikap jujur di tengah kemudahan untuk menyontek menggunakan teknologi.

Ing Madya Mangun Karsa: Kolaborasi Manusia dan Mesin

Lalu ada Ing Madya Mangun Karsa. Di era digital, banyak orang takut jika AI akan menggantikan peran manusia. Namun, jika merujuk pada prinsip KHD, pendidik seharusnya berada di tengah-tengah proses belajar siswa. Guru tidak lagi hanya berdiri di depan kelas sambil menunjuk papan tulis, tetapi duduk bersama siswa mengeksplorasi AI sebagai alat bantu.

Bayangkan AI seperti gitar listrik. Tanpa pemain yang memiliki rasa, gitar itu hanyalah benda mati atau sekadar suara bising. Guru di era sekarang bertugas memantik semangat (mangun karsa) agar siswa memiliki rasa penasaran yang sehat. Guru membantu siswa bertanya pada AI dengan prompt yang cerdas, lalu mengkritisi jawaban yang keluar. Kita tidak melawan arus, melainkan belajar cara berselancar di atasnya.

Tut Wuri Handayani: Personalisasi Pendidikan Sesuai Kodrat

Terakhir adalah Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan). Ini adalah esensi dari Kurikulum Merdeka yang sering kita dengar belakangan ini. KHD pernah menyatakan bahwa pendidikan itu "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak." Setiap anak memiliki bakat yang berbeda, mulai dari seni, logika, hingga sastra.

AI sebenarnya bisa menjadi alat personalisasi pendidikan yang luar biasa. Dulu, guru harus mengajar puluhan siswa dengan satu metode yang sama. Sekarang, dengan bantuan teknologi, siswa yang lebih lambat memahami materi bisa meminta AI menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana, sementara yang sudah unggul bisa meminta materi yang lebih kompleks. Guru tinggal memantau dari belakang, memberikan dorongan, dan memastikan tidak ada anak yang kehilangan arah. Inilah bentuk nyata dari kemerdekaan belajar: ketika teknologi membantu tiap individu berkembang sesuai potensi uniknya.

Operating System Pendidikan: Mengasah Hati di Tengah Logika

Tantangan terbesar kita sekarang adalah jangan sampai kehilangan sisi kemanusiaan. AI berbasis pada logika dan data, tetapi manusia memiliki Rasa dan Pekerti. Ki Hajar Dewantara sangat menekankan olah cipta, olah rasa, olah karsa, dan olah raga. Pendidikan bukan hanya soal membuat otak menjadi encer, tetapi membuat hati menjadi halus.

Jika kita hanya fokus belajar cara menggunakan AI tanpa belajar etika, kita hanya akan melahirkan robot-robot bernyawa yang pintar secara teknis tetapi tumpul secara nurani. Menakar relevansi filosofi KHD di era AI ibarat memiliki software paling canggih namun tetap membutuhkan operating system yang solid agar tidak mengalami malfungsi. Filosofi KHD adalah operating system pendidikan kita.

Hari Pendidikan Nasional tahun ini seharusnya bukan sekadar upacara memakai baju adat. Ini adalah momen bagi guru, orang tua, maupun siswa untuk sadar bahwa secanggih apa pun alat yang dipegang, kendali tetap ada di tangan manusia yang beradab. Mari jadikan AI sebagai sayap untuk terbang lebih tinggi, namun tetap membumi dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan Bapak Pendidikan kita. Tetaplah menjadi pembelajar seumur hidup yang tidak hanya pintar secara digital, tetapi juga kaya secara moral.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda