Kolom
Thriving adalah Privilege, Surviving adalah Lifestye: Dilema Gen Z Menjalani Hidup Berkelanjutan
Belakangan ini, saya sering mendengar istilah thriving, yaitu hidup yang berkembang, seimbang, dan penuh makna. Di media sosial, konsep itu terlihat menarik hingga banyak orang yang mulai menganggapnya ideal. Bagaimana tidak? Thriving menawarkan konsep bekerja sesuai passion, punya waktu untuk diri sendiri, hidup sehat, peduli lingkungan, dan tetap bahagia. Tapi jujur saja, kadang saya merasa realita hidup jauh dari itu.
Alih-alih thriving, banyak dari kita justru masih sibuk surviving. Berusaha bertahan di tengah biaya hidup yang naik, tekanan sosial yang terus bertambah, dan masa depan yang terasa semakin tidak pasti. Di tengah kondisi seperti itu, menjalani hidup yang lebih berkelanjutan, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan, sering kali terasa lebih ideal, tapi sulit dilakukan.
Generasi yang Ingin Hidup Lebih Baik
Saya merasa anak muda zaman sekarang, terutama Gen Z, sebenarnya cukup sadar tentang pentingnya hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan. Mulai dari aware soal kesehatan mental, work-life balance, isu lingkungan, sampai pentingnya hidup lebih sadar dan mulai mempertanyakan pola hidup yang terlalu konsumtif dan melelahkan.
Kita ingin hidup yang tidak hanya soal bekerja tanpa henti. Ingin hidup yang lebih manusiawi. Tapi sayangnya, keinginan itu sering berbenturan dengan realita sehari-hari. Bertahan hidup kadang sudah menguras energi. Ada fase di mana saya terlalu sibuk bertahan sampai tidak punya tenaga memikirkan hal lain. Bekerja, memenuhi kebutuhan, mengatur keuangan, menjaga kondisi mental, semuanya sudah cukup melelahkan.
Bahkan untuk istirahat saja kadang terasa sulit. Di situ saya mulai memahami kenapa banyak orang memilih hal yang praktis meskipun tidak selalu sejalan dengan konsep hidup berkelanjutan. Membeli makanan cepat saji hingga belanja impulsif untuk hiburan sering kali bukan karena tidak peduli, tapi energi untuk berpikir lebih jauh memang sudah habis. Dan ini merupakan realita yang jarang dibahas.
Tantangan Hidup Berkelanjutan dan Budaya Hustle
Saya juga merasa gaya hidup berkelanjutan sering digambarkan terlalu ideal. Kontennya estetik, tenang, dan terlihat rapi. Padahal realitanya, hidup ramah lingkungan atau hidup lebih mindful tidak selalu semudah itu. Produk sustainable sering lebih mahal. Gaya hidup sehat membutuhkan waktu dan energi. Bahkan menjaga kesehatan mental pun kadang terasa seperti privilege ketika hidup sedang penuh tekanan. Akhirnya saya sadar kalau banyak anak muda sebenarnya ingin berubah, tapi kondisi hidup belum selalu mendukung. Sebab terkadang semua hal itu terlihat sulit dijangkau.
Yang membuat semuanya semakin berat adalah budaya hustle yang masih sangat kuat. Produktif dianggap keren. Sibuk dianggap sukses. Istirahat sering dianggap malas. Saya pernah berada di fase terus memaksa diri untuk bekerja dan mengejar banyak hal. Alih-alih merasa hebat, saya justru lupa menikmati hidup itu sendiri. Ironisnya, di saat yang sama, budaya modern seolah menuntut untuk hidup sehat, sadar lingkungan, dan menjaga keseimbangan hidup. Semua terasa penting, tapi energi manusia tetap terbatas.
Berkelanjutan Tidak Harus Langsung Sempurna
Lama-lama saya mulai mengubah cara pandang. Mungkin hidup berkelanjutan bukan tentang langsung menjadi versi paling ideal dari diri sendiri, tapi tentang membuat pilihan kecil yang lebih sadar. Mengurangi konsumsi berlebihan. Memberi waktu istirahat untuk diri sendiri. Mengatur ritme hidup agar tidak terus kelelahan. Dan mulai peduli lingkungan sesuai kemampuan.
Saya belajar kalau perubahan kecil tetap berarti, bahkan saat hidup masih terasa berantakan. Karena sebenarnya yang penting bukan terlihat sempurna, tapi tetap mencoba. Sekarang saya sadar hidup tidak selalu harus memilih antara thriving atau surviving. Kadang, keduanya bisa berjalan bersamaan. Ada hari di mana saya merasa berkembang. Ada juga hari saat saya hanya fokus bertahan melewati semuanya. Dan itu tidak membuat saya gagal. Yang membuat kita tertekan adalah konsep hidup selalu produktif, sadar, dan healed setiap waktu. Padahal manusia tetap punya batas, dan itu tidak masalah.
Menjalani Hidup: Lebih Sadar, Bukan Lebih Sempurna
Saya masih belajar menjalani hidup yang lebih berkelanjutan, untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar. Masih sering lelah, masih kadang impulsif, dan sering kali terasa masih jauh dari kata ideal. Tapi sekarang saya mulai memahami kalau hidup yang baik bukan tentang menjadi paling sempurna di mata orang lain. Mungkin yang lebih penting adalah menjalani hidup dengan lebih sadar.
Sadar terhadap diri sendiri, lingkungan, dan batas kemampuan kita sebagai manusia. Karena di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, bertahan sambil tetap mencoba hidup lebih baik juga sudah merupakan bentuk perjuangan yang layak dihargai.