Kolom
Saya Ibu Biasa dan Konten Momfluencer Membuat Saya Merasa Gagal, Mengapa?
Setiap kali saya membuka TikTok atau Instagram di sela waktu luang, saya hampir pasti menemukan satu hal: seorang ibu yang tampak sempurna. Rambutnya rapi, dapurnya bersih, anaknya makan sayur tanpa drama, dan ia menjelaskan semuanya dengan suara tenang dan senyum yang tidak pernah retak. Konten itu ditonton jutaan orang. Komentarnya penuh pujian. Dan saya, yang baru saja selesai berdebat dengan anak soal makan siang, menutup layar dengan perasaan yang sulit dijelaskan tapi sangat familiar: rasa tidak cukup.
Itulah perkenalan saya yang sesungguhnya dengan dunia momfluencer. Dan saya yakin banyak ibu di luar sana pernah berada di titik yang sama.
Momfluencer adalah istilah untuk ibu yang aktif di media sosial dan memiliki pengaruh besar terhadap audiensnya, terutama dalam hal parenting, gaya hidup keluarga, dan rekomendasi produk. Di Indonesia, fenomena ini tumbuh sangat cepat.
Nama-nama seperti Rachel Vennya, Shireen Sungkar, Ayudia Bing Slamet, dan Putri Titian adalah beberapa momfluencer Indonesia yang populer, dan jumlah ibu yang aktif membangun personal branding lewat konten keibuan terus bertambah setiap tahunnya.
Bahkan platform seperti IbuSibuk hadir secara khusus untuk memfasilitasi ibu rumah tangga masuk ke ekosistem ini. Salah satu programnya yakni Creator Cuan berhasil membantu sejumlah momfluencer meraih penghasilan hingga belasan juta rupiah per bulan lewat kerja sama dengan berbagai brand.
Dari sudut pandang ekonomi, ini jelas sebuah peluang yang nyata dan tidak bisa diabaikan. Ibu yang selama ini bekerja tanpa bayaran di dalam rumah kini punya jalur untuk menghasilkan pendapatan dari keahlian dan pengalaman yang mereka miliki. Itu sesuatu yang layak diapresiasi. Tapi seperti kebanyakan hal di dunia digital, ada sisi lain dari koin ini yang tidak banyak dibicarakan secara jujur.
Data dari theinfluenceagency.com menyebutkan bahwa 83 persen momfluencer merupakan ibu milenial yang menghabiskan waktunya selama lebih dari delapan jam sehari untuk online. Delapan jam. Angka itu bukan sekadar waktu kerja biasa.
Itu hampir seluruh jam produktif dalam sehari yang dihabiskan untuk memproduksi, mengedit, merespons komentar, dan membangun citra diri di depan kamera. Dan di balik semua itu, ada pertanyaan yang jarang muncul ke permukaan: apakah yang kita lihat di layar itu adalah gambaran yang jujur tentang kehidupan mereka?
Jawabannya, hampir pasti tidak. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Broadcasting and Electronic Media Research menemukan bahwa paparan terhadap gambaran keibuan yang teridealisasi di media sosial dapat meningkatkan kecemasan dan rasa iri pada ibu baru. Ini bukan soal ibu yang terlalu sensitif.
Ini soal bagaimana konten yang dikurasi dengan cermat membentuk standar tidak realistis yang kemudian diinternalisasi oleh jutaan penonton sebagai patokan normalitas. Kita tidak sedang membandingkan diri dengan kehidupan nyata seseorang. Kita membandingkan diri dengan versi tersaring dan terpaket dari kehidupan mereka yang sudah dirancang untuk terlihat menarik di depan kamera. Dan itu adalah perbandingan yang tidak pernah bisa kita menangkan.
Selain itu, ada lapisan masalah lain yang bahkan lebih dalam dari sekadar soal citra diri. Beberapa anak momfluencer yang telah tumbuh besar mengungkapkan perasaan tidak nyaman karena setiap aspek kehidupan mereka telah diketahui publik tanpa izin mereka. Anak-anak yang sering menjadi bagian dari konten media sosial mungkin akan merasakan beban ekspektasi dari pengikut orang tuanya, mengalami kehilangan identitas, dan kesulitan dalam membangun privasi mereka sendiri.
Psikolog Universitas Airlangga Dr. Nur Ainy Fardana mengingatkan bahwa kondisi psikologis anak harus tetap menjadi perhatian utama, dan jika anak terlibat dalam dunia hiburan maka ia harus tetap diperlakukan dengan baik tanpa menghambat tumbuh kembang fisik, mental, sosial, dan intelektualnya.
Sementara itu, pakar komunikasi Universitas Unika Soegijapranata, Paulus Angre Edvra, bahkan menyebut ada konsep yang disebut cuteness economy, di mana orang tua "menjual" kelucuan anak untuk mendapatkan keuntungan, dan ketika orang tua menguasai privasi anak dan menyebarkannya ke publik, itu bisa disebut penyelewengan dengan dampak serius mulai dari renggangnya hubungan anak dan orang tua, identitas diri anak yang terenggut, hingga risiko kriminal seperti pemanfaatan konten oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Saya tidak sedang menghakimi ibu mana pun yang memilih jalur ini. Setiap keluarga punya pertimbangannya masing-masing, dan ada momfluencer yang melakukannya dengan sangat bertanggung jawab. Yang ingin saya pertanyakan adalah sistem nilai yang melatarbelakangi semua ini.
Kita hidup di era di mana keibuan tidak cukup lagi menjadi sesuatu yang dijalani dalam diam dan kepenuhan. Ia harus diperlihatkan, diberi caption yang tepat, dan mendapat ribuan tanda suka agar dianggap berhasil. Dan ketika standar itu sudah terlalu dalam meresap, ibu yang tidak tampil di media sosial mulai merasa kurang, sementara ibu yang tampil justru terjebak dalam tuntutan untuk tidak pernah terlihat kacau.
Saya percaya bahwa keibuan yang sesungguhnya tidak memerlukan penonton. Ia terjadi di momen yang tidak sempat diabadikan karena kedua tangan sedang penuh mengurus sesuatu yang lebih penting dari konten.
Dan mungkin sudah saatnya kita mulai bertanya pada diri sendiri: apakah kita mengonsumsi konten momfluencer untuk mendapat inspirasi yang benar-benar berguna, atau justru sedang meminjam standar orang lain untuk mengukur diri sendiri?
Karena kalau yang kedua, tidak ada jumlah konten yang akan membuat kita merasa cukup. Yang paling ditampilkan di beranda bukan selalu yang paling nyata. Dan yang paling nyata tidak selalu perlu ditampilkan.