Kolom

Dilema Finansial Perempuan: Gaji Tak Seberapa, Ekspektasi Setinggi Langit

Dilema Finansial Perempuan: Gaji Tak Seberapa, Ekspektasi Setinggi Langit
Ilustrasi bekerja (Pexels/Tima Miroshnichenko)

Saya pernah berpikir kalau memiliki pekerjaan tetap akan membuat hidup terasa lebih tenang. Setidaknya, saya bisa mandiri secara finansial, membeli kebutuhan sendiri, dan tidak lagi merasa menjadi beban keluarga. 

Namun ternyata, realita dunia kerja tidak sesederhana itu. Setelah menerima gaji, saya justru mulai memahami satu hal: menjadi perempuan dewasa di era ini berarti hidup bersama ekspektasi yang tidak ada habisnya.

Sebagai perempuan, saya sering merasa dituntut untuk menjadi banyak hal sekaligus. Harus mandiri, harus tampil rapi, harus membantu keluarga, dan harus punya tabungan.

Bahkan juga harus tetap terlihat “bahagia” di media sosial. Masalahnya, semua tuntutan itu datang saat gaji yang diterima sering kali hanya cukup untuk bertahan sampai akhir bulan.

Lucunya, ada anggapan perempuan yang bekerja pasti sudah aman secara finansial. Padahal kenyataannya, banyak yang diam-diam menghitung saldo sebelum membeli atau terpaksa menunda membeli kebutuhan pribadi.

Saya pun sadar, dilema finansial perempuan bukan cuma soal nominal gaji. Ini tentang tekanan sosial yang menuntut perempuan seolah harus sukses dalam semua aspek, meski kemampuan finansialnya terbatas.

Standar Penampilan yang Diam-diam Menguras Pengeluaran

Ada satu hal yang sering tidak disadari banyak orang: menjadi perempuan membutuhkan biaya tambahan yang kadang dianggap “normal” oleh masyarakat. Mulai dari skincare, makeup, pakaian kerja, sampai pembalut. 

Sering kali saya merasa iri melihat laki-laki yang bisa datang ke kantor dengan penampilan sederhana tanpa terlalu banyak dikomentari. Sementara perempuan sering dinilai dari seberapa “presentable” dirinya.

Padahal di balik perawatan diri perempuan ada pengeluaran rutin yang tidak kecil. Ironisnya, saat perempuan memilih tampil sederhana demi berhemat, kadang justru dianggap kurang profesional atau kurang menarik.

Belum lagi budaya media sosial yang membuat standar hidup terasa semakin tinggi. Timeline dipenuhi perempuan yang terlihat sukses yang tetap bisa menikmati hidup. Tanpa sadar, saya merasa tertinggal hanya karena tidak "semewah" itu.

Padahal di balik unggahan yang terlihat indah, belum tentu semua orang benar-benar baik-baik saja secara finansial. Sebab konten estetik belum tentu sama dengan realitanya. 

Sandwich Generation dan Beban yang Tidak Terlihat

Sebagai perempuan, ada tekanan lain yang sering datang diam-diam: kewajiban membantu keluarga. Banyak perempuan bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi orang tua, adik, atau kebutuhan rumah tangga.

Saya pernah berada di titik ketika gaji baru masuk, tetapi sebagian besar langsung habis untuk kebutuhan keluarga. Bukan karena terpaksa, tetapi merasa memiliki tanggung jawab moral. 

Kadang aku ingin membeli sesuatu untuk diri sendiri tanpa rasa bersalah. Namun pikiran seperti, “Masih ada kebutuhan lain yang lebih penting”, selalu muncul lebih dulu.

Di sisi lain, perempuan juga sering dianggap harus pandai mengatur keuangan. Saat kondisi finansial berantakan, perempuan lebih mudah disalahkan karena dianggap boros atau konsumtif. 

Padahal banyak pengeluaran yang sebenarnya muncul akibat tuntutan sosial dan keadaan. Dalam kondisi ini, perempuan juga tetap sulit mendapat ruang untuk mengeluh tentang lelahnya memenuhi ekspektasi sosial.

Ingin Menikmati Hidup Vs Takut Masa Depan

Dilema terbesar muncul saat harus memilih antara menikmati hidup atau menyiapkan masa depan. Saya juga ingin healing setelah penat bekerja, membeli barang yang disukai, atau sekadar nongkrong bersama teman. 

Namun di saat yang sama, ada rasa takut tentang masa depan yang terus menghantui. Harga kebutuhan semakin naik, biaya hidup semakin mahal, sementara kenaikan gaji sering berjalan lambat. 

Banyak perempuan akhirnya hidup dalam mode bertahan: bekerja keras setiap hari, tetapi tetap tidak benar-benar aman secara finansial. Kadang saya bertanya-tanya, apakah perempuan memang harus terus hidup seperti ini? 

Saya rasa banyak perempuan mengalami hal serupa, hanya tidak semua berani terbuka. Sebab di era sekarang, mengaku kesulitan finansial sering dianggap sebagai kegagalan.

Perempuan Tidak Harus Sempurna Secara Finansial

Seiring waktu, saya mulai belajar kalau menjadi perempuan mandiri bukan berarti harus selalu terlihat kuat dan sukses. Tidak apa-apa jika tabungan belum banyak. 

Tidak apa-apa juga jika masih belajar mengatur keuangan. Dan tidak apa-apa jika sesekali merasa lelah mengejar ekspektasi yang terus meningkat. 

Saya mulai memahami kalau nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh seberapa mahal penampilannya, seberapa estetik gaya hidupnya, atau seberapa besar gajinya.

Karena pada akhirnya, banyak perempuan sedang berjuang dengan cara yang tidak terlihat. Tetap bekerja meski lelah, tersenyum meski cemas, dan bertahan di tengah tuntutan hidup yang semakin tinggi.

Dan mungkin, yang paling dibutuhkan perempuan hari ini bukan lagi tuntutan untuk menjadi sempurna, melainkan ruang untuk menjadi manusia biasa.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda