suara hijau

Kolom

Tren Less Waste di Media Sosial: Konten Estetik vs Aksi Nyata, Menang Siapa?

Tren Less Waste di Media Sosial: Konten Estetik vs Aksi Nyata, Menang Siapa?
Ilustrasi kesadaran ramah lingkungan (Pexels/Sarah Chai)

Saya pertama kali tertarik dengan gaya hidup less waste bukan dari buku atau seminar lingkungan, tapi dari media sosial. Timeline saya dipenuhi kampanye peduli lingkungan dan orang-orang yang terlihat begitu “rapi” menjalani hidup eco-friendly.

Jujur saja, semuanya terlihat menarik. Saya mulai berpikir kalau konsep hidup ramah lingkungan tampak tenang, bersih, dan estetik. Semua tampak sejalan dengan dukungan atas isu peduli lingkungan.

Tapi semakin lama saya memperhatikan, saya mulai bertanya: apakah budaya less waste di media sosial benar-benar soal peduli lingkungan, atau justru lebih sering berhenti di tampilan visual?

Less Waste yang Terlihat Sangat Indah di Layar

Media sosial punya cara unik untuk membuat sesuatu terlihat menarik, termasuk gaya hidup ramah lingkungan. Konten tentang sedotan stainless, wadah kaca, thrifting, atau belanja tanpa plastik sering dikemas dengan visual yang sangat estetik.

Warna netral, pencahayaan bagus, dan suasana yang terlihat tenang membuat semuanya tampak mudah dilakukan. Saya pun sempat berpikir konsep less waste berarti memiliki gaya hidup yang sangat tertata.

Padahal realitanya, menjaga lingkungan tidak selalu terlihat cantik di kamera. Kadang justru merepotkan, tidak praktis, dan butuh proses panjang. Tidak semua orang langsung punya kesadaran, bisa saja hanya ikut-ikutan tren.

Ketika Kepedulian Mulai Berubah Jadi Tren

Saya paham kalau media sosial memang membantu meningkatkan kesadaran soal lingkungan. Banyak orang jadi mulai mengenal isu sampah plastik, konsumsi berlebihan, dan pentingnya hidup lebih berkelanjutan.

Tapi di sisi lain, saya juga melihat bagaimana less waste perlahan berubah menjadi tren. Ada tekanan untuk terlihat “paling sustainable” seolah kalau tidak seragam bakal langsung dicap tidak peduli lingkungan.

Harus punya produk reusable tertentu, harus punya gaya hidup minimalis tertentu, atau harus terlihat sempurna dalam mengurangi sampah. Dan ironisnya, demi mengikuti tren itu, orang kadang justru membeli lebih banyak barang baru.

Konsumsi Berkedok Kepedulian

Saya pernah tergoda membeli berbagai produk eco-friendly hanya karena terlihat menarik di media sosial. Padahal, beberapa barang sebenarnya belum benar-benar saya butuhkan. Alih-alih menerapkan less waste, saya justru terjebak budaya konsumtif.

Kita membeli tumbler baru padahal masih punya botol minum yang layak. Membeli banyak tote bag karena desainnya lucu, bukan karena benar-benar kebutuhan.

Akhirnya saya mulai bertanya: apakah ini benar-benar less waste, atau hanya bentuk konsumsi baru dengan label yang lebih “hijau”?

Aksi Nyata Tidak Selalu Instagramable

Semakin saya memahami isu lingkungan, semakin saya sadar aksi nyata sering kali jauh dari kata estetik. Memilah sampah itu melelahkan. Membawa wadah sendiri kadang merepotkan. Mengurangi belanja impulsif juga tidak mudah.

Dan banyak tindakan kecil yang sebenarnya berdampak justru tidak menarik untuk dijadikan konten. Tapi menurut saya, di situlah letak esensinya. Peduli lingkungan bukan soal terlihat sempurna di media sosial, tapi soal konsistensi.

Media Sosial Tetap Bisa Menjadi Awal yang Baik

Meski begitu, saya tidak ingin sepenuhnya menyalahkan media sosial. Kalau dipikir-pikir, saya sendiri mulai lebih sadar lingkungan karena sering melihat konten tentang less waste dan belajar hal-hal baru dari internet.

Masalahnya bukan pada kontennya, tapi pada bagaimana kita memaknainya. Kalau hanya berhenti di estetika dan validasi, maka pesan utamanya bisa hilang. Tapi kalau dijadikan “pintu masuk” membangun kesadaran, maka media sosial tetap punya dampak positif.

Menjadi Sadar, Bukan Sekadar Terlihat Peduli

Sekarang saya mulai mencoba lebih jujur ke diri sendiri. Tidak lagi terlalu fokus terlihat “ramah lingkungan”, tapi lebih fokus pada kebiasaan kecil yang realistis dilakukan.

Mengurangi pembelian yang tidak perlu. Memakai barang sampai benar-benar habis masa pakainya. Membawa tas belanja sendiri jika ingat. Dan mencoba lebih sadar sebelum membeli sesuatu.

Tidak sempurna, tapi nyata. Dan menurut saya, perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada sekadar konten estetik yang berhenti di layar.

Lingkungan Tidak Butuh Konten Sempurna, Tapi Kebiasaan Nyata

Saya percaya jika meningkatnya kesadaran sosial soal lingkungan adalah hal baik. Tapi saya juga merasa penting untuk membedakan antara terlihat peduli dan benar-benar melakukan perubahan karena bumi tidak membutuhkan feed media sosial yang sempurna.

Bumi kita butuh kebiasaan nyata, sekecil apa pun itu. Dan tantangan terbesar bukan membuat konten less waste yang menarik, tapi bagaimana menjadikan kepedulian itu tetap hidup setelah kamera dimatikan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda