Kolom

Eksploitasi Luka Pribadi: Menyoroti Sisi Gelap Tren Sadfishing di Medsos

Eksploitasi Luka Pribadi: Menyoroti Sisi Gelap Tren Sadfishing di Medsos
Ilustrasi seseorang yang sedang merenung (Unsplash.com/ Noah Silliman)

Membuka media sosial belakangan ini rasanya seperti berjalan di atas hamparan emosi yang rapuh. Di satu baris lini masa, saya melihat seseorang merayakan kelulusannya. Namun, bergeser sedikit ke bawah, saya disuguhi unggahan foto mata sembap dengan takarir (caption) samar penuh teka-teki.

Biasanya, saya akan langsung mengirimkan pesan penuh simpati. Namun sekarang, ada benteng skeptisisme yang perlahan terbangun di kepala saya. Fenomena ini disebut sebagai sadfishing.

Istilah yang pertama kali dicetuskan oleh jurnalis Rebecca Reid pada tahun 2019 ini merujuk pada perilaku seseorang yang sengaja menggebu-gebu memamerkan kesedihan, luka pribadi, atau masalah emosional mereka di media sosial.

Tujuannya? Bukan murni mencari pertolongan, melainkan memancing (fishing) simpati, perhatian, dan interaksi digital demi validasi instan. Sebagai pengguna aktif internet, saya menyadari bahwa tren ini telah bergeser dari sekadar ruang keluh kesah menjadi komoditas ego yang berbahaya.

Awalnya, saya mengira ini hanyalah luapan emosi sesaat yang wajar dialami oleh siapa saja yang sedang terluka. Namun, ketika melihat pola yang berulang, di mana unggahan penuh air mata tersebut segera diikuti dengan tautan jualan, promosi proyek terbaru, atau sekadar hitungan angka pengikut yang melonjak, saya mulai merasa ada yang keliru.

Media sosial yang sejatinya diciptakan untuk menghubungkan manusia, kini justru sering kali beralih fungsi menjadi panggung sandiwara, di mana rasa sakit dipoles sedemikian rupa demi memenangkan kompetisi mendapatkan atensi publik.

Mengapa Kita Begitu Haus Perhatian Digital?

Saya mencoba memahami apa yang ada di isi kepala para pelaku sadfishing. Di era digital ini, perhatian (attention) adalah mata uang baru. Jumlah likes, komentar penyemangat, dan pesan masuk (DM) yang datang saat kita terpuruk memberikan sensasi nyaman yang candu. Saat seseorang merasa kesepian di dunia nyata, membagikan luka di dunia maya adalah cara tercepat untuk merasa dipedulikan.

Namun, yang membuat saya risau adalah ketika luka pribadi ini mulai dieksploitasi secara sadar. Batasan antara ekspresi emosi yang sehat (vulnerability) dan manipulasi emosi demi algoritma menjadi sangat kabur. Kesedihan tidak lagi menjadi ruang privat untuk disembuhkan, melainkan konten yang dipoles sedemikian rupa agar mengundang rasa iba netizen.

Sisi Gelap: Dampak yang Mengikis Empati

Eksploitasi luka pribadi ini membawa dampak buruk yang nyata bagi ekosistem digital kita. Berdasarkan pengamatan saya, setidaknya ada dua dampak fatal dari tren sadfishing:

  • Pudarnya Empati Publik (Compassion Fatigue). Ketika lini masa dipenuhi oleh drama kesedihan yang berulang dan ternyata hanya rekayasa demi konten, netizen akan mulai jenuh. Akibatnya, masyarakat digital menjadi mati rasa dan skeptis.
    Menenggelamkan Mereka yang Benar-Benar Butuh Bantuan. Ini adalah bagian yang paling menyedihkan bagi saya. Ketika semua orang dianggap melakukan sadfishing, orang-orang yang benar-benar mengalami depresi klinis atau berniat mengakhiri hidup justru akan diabaikan. Tangisan minta tolong mereka yang tulus akhirnya dianggap sebagai cari perhatian belaka.
  • Menata Ulang Jempol dan Hati. Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita harus berpura-pura selalu bahagia di media sosial. Mengaku sedang tidak baik-baik saja adalah hal yang valid. Namun, ada perbedaan besar antara mencari dukungan dari lingkaran terdekat dengan melemparkan umpan kesedihan ke ruang publik yang anonim.

Sebagai penikmat media sosial, saya kini belajar untuk lebih bijak. Jika saya melihat teman terdekat mengunggah sesuatu yang mengkhawatirkan, saya memilih untuk menghubungi mereka secara personal lewat panggilan telepon atau bertemu langsung, bukan sekadar meninggalkan komentar "Stay strong, ya!" di kolom publik.

Mari kita kembalikan fungsi media sosial sebagai jembatan koneksi, bukan panggung sandiwara emosi. Jangan biarkan luka pribadi kita dieksploitasi hanya demi angka-angka digital yang fana. Penyembuhan diri selalu terjadi di dunia nyata, lewat pelukan hangat dan obrolan jujur, bukan dari balik layar gawai yang dingin.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda