Kolom
Sudah Hemat, tapi Tetap Boncos: Ketika Menabung Seolah Menjadi Privilege
Pernah ngggak sih kalian merasa saldo tetap terus menipis, padahal sudah berusaha berhemat?
Demi bisa menabung, tidak jarang seseorang rela mencoba banyak hal. Mulai dari membawa bekal setiap pergi ke kampus atau bekerja, kemudian mengurangi jajan dan ngopi di kafe, jarang ikut nongkrong, mengurangi belanja online, hingga memanfaatkan berbagai promo demi memperoleh harga yang lebih murah maupun cashback. Meskipun demikian, menjelang akhir bulan saldo di rekening tetap menipis dan nyaris tak bersisa.
Kondisi ini membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah mereka memang belum pandai mengelola keuangan, atau memang biaya hidup kini membuat ruang untuk menabung semakin sempit?
Selama ini, kesulitan menabung sering kali dikaitkan dengan gaya hidup konsumtif. Seseorang yang tidak memiliki tabungan kerap dianggap terlalu sering membeli kopi kekinian, terlalu sering nongkrong, gemar berbelanja, atau tidak mampu menahan keinginan untuk mengikuti tren. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Memang, saya akui bahwa perilaku konsumtif dapat menjadi salah satu penyebab seseorang kesulitan menyisihkan uang. Namun, menyederhanakan persoalan hanya pada kebiasaan individu juga berisiko mengabaikan realitas ekonomi yang tengah dihadapi banyak masyarakat. Sebab, tidak sedikit orang yang telah berupaya hidup lebih hemat, tetapi tetap merasa penghasilannya habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam beberapa tahun terakhir, biaya hidup terus mengalami kenaikan. Harga bahan pangan, biaya transportasi, tagihan listrik dan internet, biaya pendidikan, hingga kebutuhan kesehatan menjadi pengeluaran yang sulit dihindari. Data BPS bahkan mencatat inflasi tahunan kita pada Mei 2026 telah menyentuh angka 3,08%, dengan sektor pangan sebagai motor penggerak utamanya.
Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan tidak selalu mampu mengimbangi laju kenaikan berbagai kebutuhan tersebut. Akibatnya, ruang untuk menabung menjadi semakin sempit, bahkan bagi mereka yang sudah berusaha mengatur pengeluaran dengan sebaik mungkin. Hal ini diperkuat dengan data dari Bank Indonesia dan LPS yang mendeteksi bahwa porsi tabungan masyarakat terus menurun, artinya masih banyak masyarakat yang terpaksa menguras tabungan demi bertahan hidup.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: apakah kemampuan menabung saat ini masih sepenuhnya ditentukan oleh kedisiplinan mengelola keuangan, atau justru mulai dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang membuat tidak semua orang memiliki sisa penghasilan di akhir bulan?
Sebutan menabung sebagai privilege bukan berarti hanya orang dengan penghasilan tinggi yang mampu memiliki tabungan. Istilah ini lebih merujuk pada kenyataan bahwa memiliki sisa uang setelah seluruh kebutuhan pokok terpenuhi kini menjadi sesuatu yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang.
Bagi orang-orang yang pendapatannya habis untuk biaya hidup, persoalannya bukan terletak pada kurangnya niat untuk menabung, melainkan memang tidak adanya ruang finansial yang tersisa. Ini artinya orang dengan pendapatan stabil, tanggungan lebih sedikit, atau biaya hidup yang lebih ringan memiliki peluang menabung yang lebih besar dibanding mereka yang penghasilannya habis untuk kebutuhan dasar.
Sebagian orang mungkin bisa dengan mudah memberi saran untuk menyisihkan tabungan sejak awal gajian, tetapi faktanya tidak semua orang mampu melakukannya. Bagi mereka yang hidup dari gaji ke gaji, ditambah cicilan dan berbagai kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, hampir seluruh pendapatan habis untuk kebutuhan dasar.
Sebaliknya, mereka yang memiliki penghasilan lebih stabil, tanggungan lebih sedikit, atau biaya hidup lebih ringan tentu memiliki ruang yang lebih besar untuk menabung. Perbedaan kondisi inilah yang membuat kemampuan menabung tidak selalu dapat dijadikan ukuran baik atau buruknya seseorang dalam mengelola keuangan.
Meski demikian, meningkatnya biaya hidup tidak serta-merta membuat pengelolaan keuangan menjadi tidak penting. Upaya seperti menyusun anggaran, mencatat pengeluaran, dan menekan pembelian impulsif tetap dapat membantu seseorang memanfaatkan pendapatan yang dimiliki secara lebih bijak. Hanya saja, kemampuan menabung pada akhirnya juga dipengaruhi oleh seberapa besar ruang finansial yang tersisa setelah kebutuhan pokok terpenuhi.
Menabung memang masih menjadi kebiasaan finansial yang perlu dibangun. Namun, ketika biaya hidup terus meningkat sementara pendapatan tidak selalu bertambah sepadan, kemampuan menyisihkan uang bukan lagi sekadar soal disiplin. Mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggap semua orang yang belum bisa menabung sebagai pribadi yang boros, sebab bagi sebagian orang, kemampuan menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung mulai terasa sebagai sebuah privilege.