Ulasan

Ulasan The Devil Judge: Ketika Pengadilan Jadi Tontonan Publik

Ulasan The Devil Judge: Ketika Pengadilan Jadi Tontonan Publik
The Devil Judge (IMDb)

Menurut Sobat Yoursay, gimana kalau persidangan terhadap pelaku kejahatan dilakukan dalam acara live reality show yang bisa disaksikan oleh seluruh masyarakat? Nggak cuma menonton, masyarakat juga punya kesempatan menentukan hukuman lewat sistem voting.

Di tengah kondisi masyarakat yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah dan sistem hukum, gagasan persidangan semacam itu ditawarkan oleh presiden. Dalam persidangan yang disiarkan secara langsung, Kang Yo-han hadir sebagai hakim ketua. Dia dikenal sebagai “hakim iblis” karena karakternya yang nggak kenal ampun terhadap penjahat. Bagi Yo-han, apa pun latar belakang seseorang, jika melakukan kejahatan, dia harus dihukum.

Sistem persidangan baru tersebut sekilas terlihat seperti bentuk demokratisasi hukum sekaligus transparansi proses persidangan. Masyarakat yang selama ini hanya menerima putusan kini memiliki ruang untuk ikut menentukan hukuman. Namun, benarkah keadilan bisa terwujud jika putusan pengadilan bergantung pada suara terbanyak?

Drama ini bercerita tentang masa ketika pemerintah dan sistem hukum Korea Selatan yang sudah kehilangan kepercayaan dari masyarakatnya akibat krisis dan kerusuhan yang terjadi. Untuk mengembalikan kepercayaan publik, pemerintah membentuk sebuah persidangan yang disiarkan secara langsung melalui stasiun televisi seperti live reality show.

Dalam persidangan tersebut, Kang Yo-han (Ji Sung) bertindak sebagai hakim ketua yang memimpin jalannya persidangan. Dia dibantu oleh dua hakim lainnya, yaitu Kim Ga-on (Park Jin-yeong) dan Oh Jin-joo (Kim Jae-kyung).

Namun, di balik semua itu, ada rahasia besar di antara para elite penguasa dan Hakim Kang yang tidak diketahui orang lain. Kedua belah pihak tersebut rupanya mempunyai agenda masing-masing yang memanfaatkan panggung persidangan di hadapan publik.

Sejujurnya, sebagai penonton saya cukup bisa memahami antusiasme masyarakat terhadap sistem persidangan live yang digagas oleh pemerintah. Saya pun pada awalnya juga merasa bahwa dengan cara seperti ini, keadilan mungkin lebih bisa ditegakkan karena hukum jadi terasa lebih dekat dengan masyarakat. Mereka bukan hanya bisa melihat jalannya persidangan secara langsung dan mengetahui argumen setiap pihak, tetapi juga bisa memberikan suara yang menentukan hukuman pelaku. 

Kita bisa coba bayangkan situasi yang terjadi di drama The Devil Judge ini. Hampir semua masyarakat sedang berada dalam situasi sulit. Krisis ekonomi dan kerusuhan terjadi di mana-mana. Kekecewaan terhadap pemerintah sudah menjadi sesuatu yang tak bisa dibendung lagi. Hukum pun tak bisa diandalkan untuk membela korban, bahkan terkadang bisa "dibeli" oleh kalangan elit.

Dalam kondisi seperti itu, melalui live sidang yang dipimpin oleh Hakim Kang, masyarakat seolah diberi secercah harapan bahwa para penjahat akan dihukum secara adil sesuai keinginan mereka. Dengan itu, mereka percaya kehidupan perlahan juga akan berubah menjadi lebih baik.

Namun, sistem peradilan semacam ini juga memiliki celah. Ketika putusan pengadilan ditentukan berdasarkan voting penonton, sangat mungkin terjadi bias dan subjektivitas. Tidak semua masyarakat memahami hukum sehingga keputusan mereka belum tentu didasarkan pada fakta dan bukti yang ada. Mereka bisa saja dipengaruhi oleh narasi media, emosi, atau kebencian terhadap jenis kejahatan tertentu.

Padahal, sesuatu yang didukung mayoritas orang tidak otomatis bisa disebut sebagai keadilan. Sistem seperti ini mungkin menghasilkan hukuman yang memuaskan penonton, tetapi bagaimana jika suara terbanyak justru bertentangan dengan fakta dan hukum yang ada?

Di sisi lain, Kang Yo-han sendiri bukanlah hakim yang sepenuhnya netral. Ia menyimpan dendam terhadap kelompok elite korup yang menghancurkan hidup keluarganya di masa lalu. Meskipun masyarakat menganggapnya sebagai pahlawan, hal itu tidak menghapus fakta bahwa Yo-han juga memanfaatkan panggung tersebut untuk membalaskan dendam sekaligus membuka topeng para penguasa elite di hadapan publik.

Terlepas dari semua itu, The Devil Judge menunjukkan bahwa ketika keadilan sudah dikemas sebagai tontonan, maka orang yang mampu mengendalikan panggung juga berpotensi memengaruhi bagaimana publik melihat sebuah kasus. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan sistem hukum memang penting. Tapi menggantungkan hukum pada popularitas juga bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.

Meskipun demikian, The Devil Judge tetap menjadi tontonan yang menarik bagi penggemar drama Korea bertema hukum. Selain didukung dengan akting pemainnya yang memukau dan sinematografi yang apik, drama ini juga mengangkat isu yang cukup menarik, yaitu tentang ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan manipulasi media. Jadi, buat penggemar drama hukum, The Devil Judge tetap layak masuk watchlist.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda