Ulasan
A Shop for Killers Season 2: Pertarungan Sengit Murthehelp Melawan Babylon
“Happy ending, tapi nggak happy.”
Begitulah kesan banyak penonton di media sosial setelah melihat episode terakhir A Shop for Killers Season 2 yang tayang hari Rabu kemarin. Pertempuran antara Murthehelp dengan Babylon memang berakhir sesuai harapan mereka. Sayangnya, dari pertempuran tersebut banyak sekali tokoh yang harus ditumbalkan. Rupanya, sebagian penonton merasa kecewa karena itu, bisa jadi pula yang menjadi korban adalah karakter favorit mereka sejak awal season.
Di musim sebelumnya, kita melihat kerasnya didikan Jeong Jin-man (Lee Dong-wook) pada Jeong Ji-an (Kim Hye-jun) yang diakhiri dengan pertempuran Ji-an melawan Lee Seong-jo (Seo Hyun-woo). Setelah berhasil memenangkan pertempuran sekaligus memukul mundur tantara Babylon yang menyerang rumahnya, Ji-an akhirnya bertemu kembali dengan Jeong Jin-man yang ternyata masih hidup.
Namun, setelah mengetahui kebenaran tentang kehidupan gelap yang dijalani sang paman, Ji-an memilih pergi dan menggunakan nama Lee Arin sebagai identitas barunya. Ia menjalani hidupnya di pedesaan agar terhindar dari segala konflik yang melibatkan pamannya. Tetapi hal itu rupanya sia-sia saja. Pihak Babylon yang berhasil menemukan lokasi Ji-am kembali memburunya dengan mengirimkan langsung pasukan mereka yang sebelumnya berada di Jepang. Karena hal itu, ia akhirnya memilih kembali hidup bersama Jeong Jin-man dan menghadapi semuanya agar tak semakin banyak orang yang terluka untuk melindunginya.
Bicara tentang alur, A Shop for Killers 2 ini seru banget. Bahkan menurut saya jauh lebih seru dari musim pertama. Karena fokusnya sudah bukan lagi melatih Ji-an, tetapi melihat Ji-an yang terjun langsung ke beberapa pertempuran melawan Babylon.
Di season kedua ini, ada romansa tipis-tipis antara Ji-an dengan pemuda yang ia temui saat hidup sebagai Arin. Sayangnya, kisah cinta mereka harus kandas setelah penyerangan tiba-tiba oleh Babylon di desa tersebut. Apalagi setelah itu, Ji-an juga harus kembali menjalani hidup yang tidak mudah bersama pamannya. Meskipun begitu, cerita mereka berhasil memberikan warna baru di drama ini.
Atmosfer ketegangan di A Shop for Killers 2 pun semakin terasa akibat banyaknya adegan baku tembak dan pertempuran sengit Murthehelp dengan Babylon. Yang paling kerasa ketika Ji-an kabur dari kejaran Babylon bersama Woo-jin untuk pergi ke pelabuhan lewat jalan lain hingga pelarian mereka menggunakan kapal milik Woo-jin yang ternyata tetap dikejar melalui jalur air juga oleh pihak musuh. Kemudian waktu Jin-man dan timnya menyusup ke markas Babylon untuk mengambil server mereka. Yang nggak kalah menegangkan juga saat markas Murthehelp yang berada di kontainer diserang. Di sini Jin-man harus melawan Bale kembali yang sudah menjadi musuhnya sejak musim pertama.
Yang paling bikin saya terkesan di season 2 ini adalah cara Ji-an menghadapi Babylon di akhir cerita. Dia menggunakan strategi mereka untuk membalikkan serangan. Berkat itu, akhirnya pertempuran bisa selesai tanpa adanya korban lagi dari kode hijau. Kode merah yang kembali berpihak pada Murthehelp pun cukup banyak yang berhasil selamat.
Ada ucapan Jin-man pada keponakannya yang masih saya ingat: "Suatu hari nanti, satu lenganmu mungkin akan putus. Kalau hal itu terjadi, jangan kembali untuk menyambungkannya lagi. Kita harus melindungi lengan yang masih tersisa." Rupanya, pernyataan itu benar-benar dilakukan oleh Ji-an di beberapa adegan penutup drama dan membuat dirinya tetap selamat sampai akhir.
Dari segi karakter, di A Shop for Killers 2, Jeong Ji-an mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Ia mulai bisa menerima hidupnya yang berbeda dari remaja lain dan berani menghadapi takdirnya sebagai penerus Murthehelp. Berkat didikan keras pamannya, ia kini tumbuh menjadi pemimpin yang kuat, mandiri, dan bertanggung jawab. Dari sosoknya kita belajar bahwa takdir yang kita jalani mungkin tidak selalu sesuai dengan harapan. Namun, seberat apapun itu, memilih untuk menjalaninya jauh lebih baik daripada melarikan diri. Kemudian cara memimpin Ji-an yang lebih mengutamakan negosiasi menunjukkan bahwa perdamaian kedua belah pihak sebenarnya bisa dicapai melalui komunikasi yang tepat.
Selain itu, dari tim Murthehelp kita juga diingatkan tentang pentingnya solidaritas dalam tim. Sebagai satu kelompok yang sama sudah seharusnya saling melindungi. Kesetiaan rekan-rekan Jeong Jin-man ini seolah menunjukkan arti perlindungan keluarga. Hal itu juga selaras dengan tujuan Jeong Jin-man membentuk Murthehelp, yaitu untuk melindungi keluarganya.
Overall, A Shop for Killers Season 2 termasuk salah satu drama action-thriller terbaik di 2026. Meskipun dari awal sampai akhir berisi adegan aksi dan baku tembak yang intens, drama ini juga menyimpan banyak pelajaran.
Terakhir, sebagai penonton, sejujurnya saya cukup puas dengan akhir cerita di musim kedua kali ini. Tapi rasanya kayak ada yang belum selesai dan mungkin saja bakal ada season berikutnya nanti. Beberapa penonton lain ada juga yang menyatakan hal serupa di media sosial. Namun, tidak sedikit pula yang merasa sebaiknya cukup di dua musim saja, karena sudah terlalu banyak tokoh yang gugur.
Bagaimana kalau menurut Sobat Yoursay, apakah A Shop for Killers ada peluang untuk lanjut musim ketiga?