Kolom
Andai Lionel Messi Memilih Spanyol
Bagaimana jika Lionel Messi tidak pernah membela timnas Argentina? Pertanyaan itu terus muncul di kepala saya setelah menonton film dokumenter singkat berjudul Messi: The Forgotten Tape.
Hari ini saya menemukan film dokumenter tersebut. Jujur saja, saya baru mengetahui bahwa sebelum membela Argentina, ternyata Messi pernah berada sangat dekat dengan kemungkinan membela timnas Spanyol.
Padahal, jauh sebelum menjadi pemain Barcelona, Messi adalah anak Rosario yang menimba ilmu sepak bola di akademi Newell's Old Boys. Di sanalah bakatnya mulai terlihat. Akan tetapi, pada usia masih sangat muda ia didiagnosis mengalami gangguan hormon pertumbuhan (growth hormone deficiency) yang membuat perkembangan tubuhnya lebih lambat dibandingkan anak-anak seusianya.
Biaya terapi hormon yang harus dijalani Messi tidaklah murah. Newell's Old Boys sempat membantu sebagian biaya pengobatan, tetapi tidak mampu menanggungnya dalam jangka panjang. Dalam situasi seperti itulah Barcelona datang. Klub asal Catalunya tersebut bukan hanya melihat bakat luar biasa yang dimiliki Messi, tetapi juga bersedia membantu pembiayaan terapinya. Keputusan itulah yang akhirnya mengubah jalan hidup Messi. Bersama keluarganya, ia kemudian pindah ke Spanyol dan bergabung dengan akademi La Masia.
Sebagai pemain yang dibesarkan oleh La Masia, Messi berkembang menjadi salah satu talenta paling menjanjikan di generasinya. Anehnya, pada masa itu para petinggi Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) ternyata belum benar-benar mengenal pemain muda yang sedang berkembang di Barcelona tersebut.
Atas gagasan Jorge Messi, ayah Lionel Messi, dibuatlah sebuah rekaman VHS yang berisi beberapa cuplikan aksi Messi bersama tim muda Barcelona. Melalui Horacio Gaggioli, orang yang sejak awal membantu perjalanan karier Messi di Spanyol, rekaman itu kemudian sampai ke tangan tim kepelatihan Argentina yang dipimpin Marcelo Bielsa.
Konon, ketika pertama kali melihat rekaman tersebut, Bielsa bahkan sempat mengira video itu diputar dengan kecepatan yang lebih tinggi karena dribel Messi terlihat begitu cepat. Setelah mengetahui bahwa rekaman itu diputar dengan kecepatan normal, AFA langsung bergerak cepat. Mereka sadar sedang berhadapan dengan pemain yang memiliki bakat luar biasa.
Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) juga melihat potensi yang sama. Mereka berharap Messi bersedia membela La Roja. Waktu itu, Messi memang memenuhi syarat untuk membela Spanyol karena telah lama tinggal dan berkembang di negara tersebut.
Akan tetapi, Messi ternyata sudah mempunyai pilihan sendiri.
Dalam salah satu wawancara yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut, Messi mengatakan bahwa mengenakan seragam Argentina dan suatu hari membawa negaranya menjuarai Piala Dunia adalah impian terbesarnya.
Bagi saya, keputusan itu akhirnya ikut mengubah sejarah sepak bola dunia.
Saat itu timnas Spanyol sebenarnya sedang membangun generasi emas. Banyak pemain jebolan La Masia yang kemudian menjadi tulang punggung tim, seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Carles Puyol, Gerard Pique, Sergio Busquets, hingga Cesc Fabregas. Sulit membayangkan bagaimana kuatnya tim tersebut apabila Messi ikut bergabung.
Walaupun demikian, tanpa Messi pun Spanyol tetap berhasil menjuarai Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012. Mereka tetap dikenang sebagai salah satu tim nasional terbaik dalam sejarah sepak bola modern.
Di sisi lain, Argentina justru sedang membutuhkan sosok baru setelah era Diego Maradona. Kegagalan mereka pada Piala Dunia 2002, ketika tersingkir di fase grup, menjadi salah satu titik terendah dalam sejarah Albiceleste.
Empat tahun kemudian, pada Piala Dunia 2006 di Jerman, Messi yang baru berusia 19 tahun akhirnya menjalani debut di Piala Dunia. Ia bahkan berhasil mencetak gol ke gawang Serbia dan Montenegro. Saat itu Argentina masih mempunyai Juan Román Riquelme sebagai jenderal lapangan tengah yang mengatur ritme permainan.
Perjalanan Messi bersama Argentina ternyata tidak selalu mudah. Ia beberapa kali gagal membawa Argentina menjadi juara. Kekalahan di final Piala Dunia 2014 dan beberapa final Copa América membuat banyak orang meragukan kemampuannya di tim nasional. Bahkan, Messi pernah menyatakan pensiun dari tim nasional sebelum akhirnya memutuskan kembali.
Kurang lebih enam belas tahun sejak menjalani debut di Piala Dunia, Messi akhirnya berhasil mewujudkan impian terbesarnya. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia akhirnya mengangkat trofi yang selama ini selalu dikejarnya bersama Argentina.
Akan tetapi, perjalanan itu ternyata belum selesai. Pada final Piala Dunia 2026, Argentina kembali harus mengakui keunggulan Spanyol dengan skor 1-0. Kekalahan itu entah mengapa mengingatkan saya kepada Diego Maradona pada final Piala Dunia 1990 di Italia. Argentina waktu itu juga kalah 1-0 dari Jerman Barat, dan Maradona menangis setelah pertandingan usai.
Yang menarik, ada kemiripan perjalanan Maradona dan Messi. Keduanya sama-sama berhasil membawa Argentina menjadi juara dunia lebih dulu, Maradona pada 1986 dan Messi pada 2022. Empat tahun kemudian, keduanya kembali membawa Argentina ke partai final. Akan tetapi, keduanya juga sama-sama harus menerima kenyataan kalah 1-0 pada pertandingan terakhir mereka di Piala Dunia.
Kadang saya juga membayangkan, seandainya dulu Messi memilih membela Spanyol, mungkin saja ia sudah merasakan menjadi juara dunia pada usia 23 tahun ketika Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010. Akan tetapi, mungkin memang inilah jalan yang dipilih Messi. Sejak awal ia sudah mengatakan bahwa impian terbesarnya adalah membela Argentina dan membawa negaranya menjadi juara dunia. Jalan itu ternyata jauh lebih panjang, jauh lebih berliku, tetapi pada akhirnya benar-benar berhasil ia lalui.
Bagi saya, justru di situlah letak indahnya kisah Messi. Ia tidak memilih jalan yang mungkin lebih mudah, tetapi memilih jalan yang memang sejak kecil menjadi impiannya.