Ulasan
Spider-Man: Brand New Day dan Konsekuensi Sebuah Pilihan
Akhirnya saya berkesempatan juga menonton film Spider-Man: Brand New Day. Durasi dua jam lebih ternyata tidak terasa karena saya disuguhi rangkaian adegan seru dan menegangkan dari awal hingga akhir film. Mungkin karena jarak dengan film sebelumnya, Spider-Man: No Way Home cukup jauh, sekitar hampir lima tahun, saya sempat lupa mengapa Spider-Man tidak memberi tahu identitas aslinya kepada dua orang terdekatnya, MJ Watson, kekasihnya yang diperankan oleh Zendaya, dan Ned Leeds, sahabat dekatnya yang diperankan oleh Jacob Batalon.
Akibat spell dari Doctor Strange, yang terjadi setelah Peter Parker (Tom Holland) mengubah-ubah permintaannya, semua orang tetap mengingat keberadaan Spider-Man, tetapi tidak ada yang mengetahui bahwa Peter Parker adalah identitas asli manusia laba-laba tersebut. Bahkan, Peter seolah-olah telah terhapus dari ingatan orang-orang yang sebelumnya mengenalnya.
Konsekuensi dari keputusan tersebut menjadi salah satu persoalan menarik dalam film ini. Peter mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kehidupannya sebagai Spider-Man, tetapi harus menerima kenyataan bahwa orang-orang terdekatnya tidak lagi mengenal dirinya. Dalam film ini ditampilkan pula beberapa karakter tambahan, yaitu Bruce Banner alias Hulk (Mark Ruffalo), Frank Castle alias The Punisher (Jon Bernthal), Yelena Belova alias Black Widow (Florence Pugh), dan Jean Grey (Sadie Sink).
Dalam pandangan saya, sejauh ini penggambaran karakter Jean Grey di film ini merupakan salah satu yang paling menarik dibandingkan dengan dua penggambaran sebelumnya dalam film X-Men. Jean Grey awalnya digambarkan sebagai karakter berbahaya yang harus dihentikan. Peter Parker alias Spider-Man, dibantu The Punisher, harus berjibaku untuk menaklukkan Jean yang memiliki kekuatan luar biasa dan mampu memengaruhi pikiran orang lain.
Kekuatan Jean bahkan membuat Hulk berada di bawah kendalinya. Kondisi tersebut membuat kontrol Bruce Banner terhadap sisi Hulk dalam dirinya menjadi kacau. Di film ini kita bisa melihat kembali bagaimana wujud dan watak asli Hulk yang jauh lebih liar dibandingkan dengan kondisi yang kita lihat dalam Avengers: Endgame.
Namun, pandangan Spider-Man terhadap Jean kemudian berubah setelah ia mengetahui alasan di balik tindakan Jean menyerang Damage Control. Jean sedang mencari kakaknya, Sara Grey, yang diyakini memiliki kaitan dengan tindakan Damage Control terhadap keluarganya. Di sinilah dilema moral Peter muncul. Apakah seseorang yang melakukan tindakan berbahaya harus selalu dianggap sebagai orang jahat? Ataukah kita perlu mengetahui terlebih dahulu alasan yang membuat seseorang melakukan tindakan tersebut?
The Punisher mempunyai pandangan berbeda. Bagi Frank Castle, Jean tetap merupakan ancaman berbahaya yang harus dihentikan, bahkan jika cara yang digunakan adalah menembaknya. Ketika peluru dari senapan jarak jauh milik The Punisher diarahkan kepada Jean, Peter Parker yang menyadarinya langsung menjadikan dirinya sebagai perisai untuk melindungi Jean. Jean sempat masuk ke dalam pikiran Peter dan berbicara dengannya, termasuk dengan sosok mendiang Aunt May yang hadir dalam ingatannya. Tertembaknya Spider-Man membuat Peter terbaring kritis di rumah sakit.
Di film ini kita juga bisa menyaksikan kembali bagaimana jaring laba-laba dapat keluar secara organik dari tangan Spider-Man, seperti penggambaran Spider-Man era Tobey Maguire. Detail tersebut menjadi salah satu nostalgia menarik bagi penggemar Spider-Man.
Filsafat tersembunyi dalam film ini bagi saya adalah bahwa tidak ada kenyataan yang berdiri sendiri. Ada aksi, ada reaksi. Sikap dan perbuatan seseorang biasanya ditentukan oleh kondisi yang memengaruhinya dalam kehidupan. Jean marah karena apa yang terjadi pada kakaknya. Peter memilih menolong Jean karena melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Sebaliknya, The Punisher memilih menghentikannya karena menganggap ancaman harus dihilangkan sebelum menimbulkan korban yang lebih besar.
Tiga karakter tersebut memperlihatkan bagaimana manusia dapat mengambil keputusan berbeda ketika berhadapan dengan persoalan yang sama. Perbedaan itu tidak selalu muncul karena salah satu pihak tidak memiliki moral, tetapi karena mereka memiliki pengalaman, pengetahuan, dan pertimbangan yang berbeda. Hal inilah yang menurut saya membuat Spider-Man: Brand New Day lebih menarik daripada sekadar film superhero dengan pertarungan dan efek visual.
Akhir kata, melalui film Spider-Man: Brand New Day kita bisa belajar bahwa sebuah sikap dan tindakan yang krusial memang harus benar-benar berdasarkan atas perenungan yang mendalam supaya kita tidak keliru dalam menentukan apa yang harus diperbuat berikutnya.
Saya berharap film ini bisa berbicara kepada generasi muda—yang tampaknya menjadi salah satu kelompok audiens penting film ini—bahwa sebuah pilihan penting harus benar-benar dipikirkan. Sebab, sebuah keputusan yang dibuat dalam hitungan detik bisa membawa konsekuensi yang harus diterima selama bertahun-tahun setelahnya.
Pada akhirnya, menjadi pahlawan bukan hanya tentang memiliki kekuatan untuk menyelamatkan orang lain. Menjadi pahlawan juga berarti memiliki keberanian untuk memilih, sekaligus kesanggupan menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah keberanian untuk memperbaiki keadaan yang kacau akibat sebuah pilihan yang keliru. Seperti yang dilakukan oleh Peter Parker alias Spider-Man, yang tetap berusaha menyelamatkan Jean Grey walaupun harus mempertaruhkan nyawanya.