Kolom

Final Piala Dunia 2026 Mengingatkan Saya pada Pesan Ayah soal Judi Bola

Final Piala Dunia 2026 Mengingatkan Saya pada Pesan Ayah soal Judi Bola
Ronaldo (R9) tertunduk seusai kekalahan Brasil dari Prancis pada final Piala Dunia 1998. (Sumber Foto: tre-rj.jus.br)

Hasil final Piala Dunia 2026 membuat saya teringat apa yang dikatakan ayah saya setelah final Piala Dunia 1998: "Judi membuat sepak bola kehilangan keindahannya, sehingga tidak enak untuk ditonton lagi."

Waktu itu tim kesayangan beliau, Brasil, tak mampu berbuat apa-apa mengatasi gempuran tuan rumah Prancis. Ronaldo (R9) bermain seperti orang yang sudah kehilangan segala semangat dan kemampuannya.

Timnas Brasil boleh dikata lumpuh di segala lini. Saya hanya bisa shock sambil bikin bergelas-gelas teh manis dan kopi susu untuk menenangkan hati dan jiwa yang tertekan. Maklum, karena ayah saya dukung Brasil tahun 1994, saya juga ikut dukung Brasil, khususnya setelah Argentina tersingkir di babak 16 besar, setelah Maradona tersangkut kasus doping yang kontroversial dan dikeluarkan dari timnas Argentina.

Waktu itu saya tidak begitu memahami apa maksud perkataan ayah. Saya kira beliau hanya sedang kecewa karena tim kesayangannya kalah. Bukankah hampir semua pendukung sepak bola juga begitu? Kalau tim yang didukung kalah, biasanya apa pun bisa dijadikan alasan untuk melampiaskan rasa kecewa.

Beberapa tahun setelah itu, saya ternyata malah menemukan beberapa final sepak bola yang menurut saya terasa janggal. Tim yang sejak awal turnamen begitu meyakinkan, ketika sampai di final malah seperti kehilangan semuanya. Entah kehilangan keberanian, entah kehilangan semangat, atau entah memang sedang tidak beruntung. Saya sendiri tidak tahu.

Suatu kali, setelah menonton sebuah film tentang bagaimana judi merusak olahraga—saya lupa judulnya—, dalam film itu seorang atlet diminta untuk menyabotase performa timnya, sehingga timnya tak mampu berbuat apa-apa dalam perjuangan meraih kemenangan.

Kalau tidak salah, atlet tersebut diancam. Jika tidak membuat timnya kalah, maka akan terjadi sesuatu pada dirinya dan keluarganya.

Ada beberapa yang tidak mengerjakan perintah itu. Keluarganya kemudian mengalami sesuatu yang buruk dan tidak mengenakkan. Sejak saat itu saya jadi berpikir, jangan-jangan dunia olahraga memang tidak sesederhana yang selama ini saya bayangkan.

Saya jadi paham bagaimana judi bisa memengaruhi hasil pertandingan olahraga. Di sini saya tidak berbicara judi kelas bawah, yang paling taruhannya hanya semangkuk bakso atau maksimal hanya beberapa ratus ribu atau beberapa juta rupiah. Yang saya bahas adalah judi kelas atas, yang nominalnya mungkin triliunan rupiah atau bahkan ratusan juta dolar.

Kalau uang yang dipertaruhkan sebesar itu, saya membayangkan apa saja mungkin bisa terjadi. Orang bisa tergoda karena uang. Orang juga bisa takut karena ancaman. Ujung-ujungnya yang rusak bukan hanya pertandingan, tetapi juga kepercayaan penonton kepada olahraga itu sendiri.

Saya kemudian membayangkan sebuah kemungkinan. Misalnya, dari awal diciptakan sebuah tim yang kelihatan tidak terkalahkan dan menghasilkan banyak peluang untuk meraih kemenangan. Dalam sepak bola, mungkin selalu menang dengan jumlah gol yang cukup banyak. Akhirnya publik percaya bahwa tim itulah yang pasti akan menjadi juara.

Ketika sudah sampai final, tentu mayoritas petaruh akan memasang taruhan pada tim favorit tersebut. Lalu ada satu petaruh yang luar biasa kaya raya, yang justru memasang taruhan pada tim yang bukan favorit. Saya membayangkan, jangan-jangan orang seperti itu bukan hanya memasang taruhan, tetapi juga berusaha memengaruhi hasil pertandingan dengan berbagai cara.

Sekali lagi, ini hanya pikiran yang kadang muncul di kepala saya ketika mengingat perkataan ayah dulu. Saya tidak punya bukti bahwa hal seperti itu benar-benar terjadi pada pertandingan tertentu. Mungkin saja saya keliru. Mungkin juga memang semua pertandingan berlangsung dengan jujur. Saya tentu berharap yang terakhir itulah yang benar.

Begitulah kurang lebih mekanisme yang pernah saya bayangkan setelah menonton film tersebut dan setelah mendengar perkataan ayah bertahun-tahun yang lalu. Mungkin benar, mungkin juga tidak. Tetapi saya memahami mengapa ayah akhirnya merasa sepak bola kehilangan sebagian keindahannya.

Kesimpulannya, sepak bola atau olahraga secara umum seharusnya tidak dirusak oleh perjudian dalam skala besar. Menang dan kalah seharusnya ditentukan oleh kemampuan pemain, kecerdikan pelatih, dan strategi di lapangan, bukan oleh uang yang beredar di belakang pertandingan.

Hal itulah pula yang membuat saya selalu teringat pada kisah Andreas Escobar. Konon kabarnya, gol bunuh diri yang diciptakannya ketika Kolombia melawan Amerika Serikat pada Piala Dunia 1994 tidak bisa dilepaskan dari kuatnya pengaruh perjudian di sekitar sepak bola saat itu. Terlepas dari benar atau tidaknya semua cerita yang beredar, kisah tersebut sudah cukup membuat saya berharap agar sepak bola tetap menjadi permainan yang bersih dan indah untuk ditonton.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda