Kolom

Awalnya Skeptis, Pengalaman Naik MRT dan LRT Ternyata Jauh Lebih Nyaman dari Dugaan

Awalnya Skeptis, Pengalaman Naik MRT dan LRT Ternyata Jauh Lebih Nyaman dari Dugaan
LRT di Stasiun Jatimulya. (Dok. Suara.com)

Selama dua tahun jadi mahasiswa S2, transportasi andalan saya cuma satu: aplikasi taksi online. Buka aplikasi, ketik alamat, tunggu mobil datang, naik, duduk manis sambil ngerjain tugas atau rebahan mental sejenak. Praktis, nggak perlu mikir rute, nggak perlu jalan kaki jauh, dan yang paling penting buat saya yang gampang capek: nggak perlu berdiri desak-desakan sama orang asing.

Soal transportasi umum berbasis rel macam MRT atau LRT, jujur saya selalu skeptis duluan. Bayangan saya soal itu terbentuk dari cerita teman-teman yang naik KRL: berdesakan, panas, harus rebutan tempat duduk. Jadi walaupun MRT sudah beroperasi bertahun-tahun dan LRT juga sudah ada, saya nggak pernah tergerak buat nyoba. Toh ongkos taksi online masih kejangkau kantong mahasiswa yang kadang dapat honor jadi asisten riset.

Semua berubah bulan lalu, waktu jadwal bimbingan tesis bentrok sama macet parah di jam pulang kantor. Taksi online yang saya pesan estimasi sampainya lebih dari satu jam, padahal jarak ke kampus cuma beberapa kilometer. Panik, saya cari alternatif, dan seorang teman nyaranin, "sudah, naik MRT saja, lebih pasti." Dengan setengah hati dan banyak keraguan, saya coba.

Begitu masuk stasiun, kesan pertama saya: bersih dan teratur. Nggak ada bau apek, nggak ada sesak yang saya bayangkan. Peron rapi, ada garis antre, dan orang-orang beneran ngantre, bukan rebutan masuk begitu pintu kereta terbuka. Begitu di dalam gerbong, saya malah dapat tempat duduk, AC-nya dingin merata, dan yang bikin saya kaget, jadwalnya presisi banget. Saya sampai kampus lebih cepat dari perkiraan, dan yang penting, kepala saya nggak dipenuhi kecemasan telat kayak biasanya kalau naik mobil kena macet.

Dari situ saya jadi penasaran nyoba LRT juga, buat rute lain yang biasanya saya lewati naik taksi online. Pengalamannya nggak jauh beda: nyaman, stasiunnya modern, dan yang paling bikin saya sadar diri, harganya jauh lebih murah dibanding ongkos taksi online yang biasa saya keluarin tiap hari. Selama ini saya kira transportasi umum itu identik dengan ketidaknyamanan, padahal ternyata saya cuma menyamaratakan semua moda transportasi umum dengan satu gambaran yang belum tentu berlaku di semuanya.

Yang paling bikin saya malu sama diri sendiri adalah menyadari betapa lama saya menghindar dari sesuatu yang sebenarnya bisa bikin hidup saya lebih efisien, cuma karena asumsi yang belum pernah saya uji sendiri. Sebagai mahasiswa S2 yang katanya dilatih buat berpikir kritis dan nggak gampang percaya sama asumsi, ternyata saya sendiri kalah sama prasangka soal transportasi umum, sementara saya belum pernah benar-benar mencobanya.

Sekarang, kalau rute perjalanan saya bisa dijangkau MRT atau LRT, saya lebih milih itu ketimbang pesan taksi online. Bukan berarti saya berhenti total pakai aplikasi—kadang masih perlu buat rute yang nggak kejangkau rel, atau kalau lagi bawa banyak barang—tapi setidaknya sekarang saya punya opsi yang ternyata jauh lebih nyaman dari yang saya kira, sekaligus lebih ramah di kantong dan di kepala.

Kalau dipikir-pikir lagi, pengalaman ini juga ngajarin saya soal riset yang selama ini saya kerjain buat tesis: jangan gampang percaya sama asumsi awal sebelum benar-benar turun tangan ngecek sendiri. Ironisnya, saya butuh waktu dua tahun dan satu kali kepepet macet buat sadar hal sesederhana itu—bukan lewat jurnal ilmiah, tapi lewat naik kereta.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda