Kolom
Begadang demi Pekerjaan: Benarkah Bekerja di Malam Hari Lebih Efektif?
Pernah begadang demi menuntaskan pekerjaan atau mengerjakan tugas, Sobat Yoursay?
Kalau pernah, berarti kita sama. Kebiasaan ini mulai muncul ketika saya duduk di bangku perkuliahan. Tinggal di asrama dengan banyak orang sekaligus di satu ruangan yang sama, rasanya jarang sekali bisa menemukan waktu tenang untuk berpikir. Kadang ada berbagai distraksi yang juga sulit untuk dihindari. Karena itulah, saya terkadang memilih mengerjakan tugas tengah malam, ketika mayoritas orang sudah terlelap.
Namun, setelah lulus dan kembali ke rumah, rupanya saya ikut membawa pulang kebiasaan tersebut. Rumah memang jauh lebih sepi dari asrama, keheningan di malam hari seolah turut membuat pikiran terasa lebih tenang dan lebih mudah mengalir. Tidak jarang juga, saya merasa lebih baik mengajak pikiran untuk bekerja daripada overthinking tentang hal-hal yang tidak begitu penting saat malam.
Di tengah maraknya hustle culture di kalangan anak muda, begadang demi menyelesaikan pekerjaan kini seolah sudah menjadi hal yang umum dilakukan. Adakalanya beberapa pekerjaan terasa lebih nyaman diselesaikan di tengah malam yang tenang dan sunyi atau memang ada tuntutan jam kerja malam. Namun, yang ingin saya soroti adalah kondisi ketika pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan pada siang hari justru kita tuntaskan saat malam.
Seperti yang sempat saya singgung di awal, malam hari seolah menjadi waktu yang membuat kita bisa lebih produktif. Suasana sekitar lebih sepi dan distraksi pun jauh berkurang. Di waktu-waktu seperti itu, kita merasa lebih mudah fokus bekerja ketika banyak orang sudah beristirahat. Namun, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan di sini. Kerja di malam hari mungkin memang membuat kita fokus dengan minimnya gangguan yang mungkin muncul, tapi benarkah ini lebih efektif daripada bekerja di pagi atau siang hari?
Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu tidak sederhana. Setiap orang memiliki tuntutan dan kondisi pekerjaan yang berbeda. Ada yang memang bekerja malam karena tuntutan pekerjaan, ada pula yang memiliki fleksibilitas menentukan jam kerja sendiri dan merasa lebih nyaman bekerja ketika suasana sudah tenang.
Bagi pekerja lepas yang memiliki fleksibilitas menentukan jam kerjanya sendiri, mungkin malam terasa lebih efektif. Namun, masalahnya ketika perasaan semacam itu sudah muncul, ada kebiasaan lain yang cukup sulit untuk dihindari, yaitu menunda. Pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan sejak siang akhirnya dikerjakan tengah malam. Begadang kemudian terlihat seperti bentuk kerja keras, padahal sebagian waktunya bisa jadi habis karena kebiasaan menunda.
Selain itu, jika kita lihat dari sisi kesehatan, begadang bukan sesuatu yang bisa dikatakan baik untuk tubuh. Sesekali begadang mungkin masih terasa seperti hal yang bisa ditoleransi. Namun, jika terus-menerus dilakukan hingga menjadi rutinitas setiap malam, tubuh tentu bisa mengalami kelelahan dan kesulitan menanggung dampaknya. Bekerja dalam kondisi lelah dan mengantuk juga bisa membuat pekerjaan menjadi kurang maksimal.
Sesekali bekerja hingga larut malam karena harus mengejar deadline tentu berbeda dengan menjadikan begadang sebagai kebiasaan demi merasa lebih produktif. Sebab di balik semua kerja keras yang kita lakukan dari pagi hingga malam, ada tubuh yang juga perlu untuk diistirahatkan. Di sinilah kita mungkin perlu kembali mengingat bahwa tubuh menusia memiliki batas. Tentu, menuntaskan pekerjaan itu penting, tapi menjaga kesehatan tubuh kita sendiri juga tidak kalah penting.
Jika kembali pada pertanyaan tentang efektivitas, rasa fokus saat bekerja ternyata tidak selalu berarti kita bekerja dengan lebih efektif. Malam memang bisa membuat sebagian orang merasa lebih fokus karena suasana yang tenang. Namun, efektivitas tidak hanya diukur dari seberapa mudah kita berkonsentrasi. Hasil pekerjaan, waktu yang dibutuhkan, hingga kondisi tubuh setelahnya juga perlu dipertimbangkan.
Jadi, apakah bekerja di malam hari lebih efektif? Jawabannya mungkin berbeda bagi setiap orang. Namun, jika malam hari dipilih hanya karena pekerjaan terus ditunda atau produktivitas yang dikejar dengan mengorbankan waktu tidur, mungkin kitalah yang perlu memperbaiki cara mengatur pekerjaan dengan memanfaatkan setiap waktu yang ada sebaik mungkin.