Kolom
Bukan Sekadar Transportasi, KRL Mengubah Cara Saya Melihat Perjalanan Harian
Kalau dipikir-pikir, ada satu "teman" yang selalu hadir di berbagai fase hidup saya: KRL. Makanya, saya rasanya sudah cukup akrab dengan segala drama yang datang sepaket bersama KRL.
Jujur saja, saya pernah mengeluh. Pernah merasa gerbong terlalu penuh, perjalanan terlalu melelahkan, atau berharap bisa duduk setidaknya sekali dalam seminggu. Tapi setiap kali membandingkan dengan pilihan transportasi lain, saya selalu kembali ke KRL.
Alasan pertama tentu karena biayanya jauh lebih terjangkau. Waktu masih kuliah, ongkos transportasi adalah pengeluaran yang benar-benar saya perhitungkan. Sampai sekarang pun begitu. Dibanding harus membawa kendaraan pribadi atau menggunakan transportasi online setiap hari, naik KRL jauh lebih hemat.
Alasan kedua adalah soal waktu. Memang tidak selalu sempurna, tetapi jadwal perjalanan KRL relatif lebih bisa diprediksi dibanding harus menghadapi kemacetan jalan raya yang kadang sulit ditebak. Saya bisa memperkirakan kapan harus berangkat agar tiba sesuai rencana.
Yang ketiga, saya tidak perlu pusing mencari tempat parkir atau menghabiskan tenaga menyetir di tengah lalu lintas yang padat. Tinggal naik kereta, duduk kalau beruntung, atau berdiri kalau memang sedang ramai.
Selama ini, saya mengira alasan-alasan itu sudah cukup. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu saya mengikuti acara Lintas yang diselenggarakan Yoursay bersama Kementerian Perhubungan.
Para narasumber menjelaskan bagaimana transportasi publik berperan dalam mengurangi kemacetan, menekan emisi kendaraan, sekaligus membuat mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien.
Saat itu saya baru benar-benar menyadari sesuatu. Bayangkan kalau ribuan orang yang setiap pagi memenuhi satu rangkaian KRL memilih membawa mobil atau motor masing-masing. Jalanan tentu akan semakin padat. Waktu tempuh bertambah panjang, konsumsi bahan bakar meningkat, dan kualitas udara pun ikut memburuk.
Artinya, setiap kali saya memilih naik KRL, saya bukan hanya sedang memilih transportasi yang lebih hemat bagi diri sendiri. Saya juga ikut mengambil bagian, meski kecil, dalam mengurangi beban jalanan dan dampak lingkungan.
Kesadaran itu membuat saya melihat perjalanan harian dengan cara yang berbeda. Buat saya, KRL bukan transportasi yang sempurna. Gerbongnya masih sering penuh, antreannya masih panjang, dan kadang perjalanan juga tidak selalu berjalan mulus.
Namun, sejak zaman kuliah, mulai bekerja, sampai sekarang ketika bepergian untuk menikmati akhir pekan, KRL selalu berhasil membawa saya ke tujuan dengan biaya yang terjangkau, waktu yang cukup dapat diprediksi, dan tanpa harus ikut menambah kemacetan di jalan.
Mungkin itu sebabnya, sampai hari ini, setiap kali harus memilih cara pergi dari satu tempat ke tempat lain, saya masih akan melangkah ke peron, menunggu kereta datang, lalu bergabung bersama ratusan penumpang lainnya.
Karena di balik gerbong yang penuh itu, saya tahu saya sedang menjadi bagian dari perjalanan yang lebih besar—bukan hanya perjalanan saya sendiri, tetapi juga perjalanan kota agar bisa terus bergerak.