Kolom

Trauma Masa Kecil: Luka yang Berawal dari Hal-hal yang Dianggap Sepele

Trauma Masa Kecil: Luka yang Berawal dari Hal-hal yang Dianggap Sepele
Ilustrasi Kesedihan Anak (Unsplash/@dariakashleva)

Maklumi saja, mereka juga baru pertama kali jadi orang tuaMemang benar, tidak ada orang tua yang lahir langsung mahir membesarkan anak. Mereka juga belajar sambil menjalani perannya. Namun, kalau orang tua baru pertama kali menjadi orang tua, bukankah anak juga baru pertama kali menjadi anak?

Mengapa ekspektasi untuk memahami, memaafkan, dan mengerti hampir selalu dibebankan kepada anak, sementara kebutuhan emosional mereka sering dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda?

Salah satu bentuk pengabaian yang sering diremehkan adalah perhatian terhadap penampilan dasar anak. Bukan soal memakai pakaian bermerek atau mengikuti tren mode. Yang dimaksud adalah memastikan anak tampil bersih, rambut terawat, kuku dipotong, pakaian layak dipakai, dan masalah seperti kutu rambut atau kebersihan tubuh ditangani dengan serius.

Bagi orang dewasa, hal-hal itu mungkin terlihat sepele.

Bagi seorang anak, dampaknya bisa sangat besar.

Masa sekolah adalah periode ketika penerimaan sosial menjadi kebutuhan penting. Anak mulai membangun identitas dirinya melalui interaksi dengan teman sebaya. Cara lingkungan memperlakukan mereka ikut membentuk cara mereka memandang diri sendiri.

Psikolog perkembangan Erik Erikson menjelaskan bahwa pada usia sekolah, anak berada pada tahap industry versus inferiority. Pada fase ini, mereka sedang belajar merasa mampu, diterima, dan bernilai. Pengalaman berulang ditolak, diejek, atau dikucilkan dapat menumbuhkan rasa rendah diri yang bertahan hingga dewasa.

Tidak sedikit anak yang menjadi sasaran perundungan bukan karena kepribadiannya, tetapi karena penampilannya tampak tidak terawat. Rambut penuh kutu, pakaian selalu kotor, bau badan yang tidak ditangani, atau seragam yang sangat lusuh sering menjadi alasan teman-temannya menjauh.

Yang paling menyedihkan, anak tidak memiliki kendali atas semua itu.

Mereka tidak memilih siapa orang tuanya. Mereka tidak menentukan apakah rambutnya akan dibersihkan atau apakah pakaiannya dicuci. Semua keputusan tersebut berada di tangan orang dewasa.

Ketika lingkungan kemudian menjauhi mereka, anak sering menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak layak disukai. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kebutuhan dasarnya tidak dipenuhi oleh orang yang bertanggung jawab mengasuhnya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman penolakan sosial pada masa kanak-kanak berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan, rendahnya harga diri, serta kesulitan membangun hubungan interpersonal di masa dewasa. Sebagian orang menjadi sangat sensitif terhadap penolakan (rejection sensitivity).

Mereka mudah merasa diabaikan, takut ditinggalkan, atau terus-menerus mencari validasi dari orang lain.

Tentu, tidak semua orang yang pernah mengalami pengabaian akan mengalami masalah psikologis. Banyak yang tumbuh menjadi pribadi tangguh berkat dukungan keluarga lain, guru, atau lingkungan yang positif. Namun risiko tersebut memang nyata dan tidak boleh disepelekan.

Perlu ditekankan pula bahwa perhatian terhadap penampilan anak bukan berarti menuntut kemewahan. Orang tua yang hidup dalam keterbatasan ekonomi tetap dapat menunjukkan kepedulian melalui kebersihan, kerapian, dan perhatian. Anak tidak membutuhkan pakaian mahal untuk merasa dicintai. Mereka membutuhkan orang tua yang peduli terhadap kondisi mereka.

Sebaliknya, keluarga yang mampu secara finansial pun belum tentu memenuhi kebutuhan emosional anak jika menganggap semua urusan pengasuhan dapat diserahkan kepada orang lain.

Karena itu, alasan baru pertama kali jadi orang tua memang bisa menjelaskan mengapa seseorang melakukan kesalahan. Namun penjelasan tidak selalu berarti pembenaran.

Menjadi orang tua adalah proses belajar, tetapi proses belajar tersebut tidak boleh mengorbankan hak anak untuk tumbuh dengan aman, sehat, dan dihargai. Ketika menyadari telah melakukan kekeliruan, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memperbaikinya, bukan sekadar meminta anak memahami keadaan.

Pada akhirnya, anak bukanlah pihak yang memilih hadir ke dunia. Keputusan memiliki anak sepenuhnya diambil oleh orang dewasa. Maka konsekuensi terbesar dari keputusan itu juga seharusnya dipikul oleh orang dewasa.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadikan kalimat "mereka juga baru pertama kali jadi orang tua" sebagai tameng yang menutup ruang diskusi tentang pengasuhan. Sebab di balik setiap anak yang tumbuh dengan luka, ada pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: mengapa kita begitu mudah meminta anak memahami orang tuanya, tetapi begitu jarang meminta orang tua memahami kebutuhan anaknya?

Itulah titik awal dari pengasuhan yang benar-benar berpihak kepada mereka yang paling tidak memiliki pilihan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda