Kolom
Dari Penumpang Biasa Jadi Bagian Perubahan: Cerita Kecil Selamatkan Bumi Lewat KRL
Sebelum magang di Museum Mandiri, saya tidak pernah benar-benar memikirkan soal perjalanan. Selama bisa berangkat dan sampai tepat waktu, rasanya sudah cukup. Namun, sejak hampir setiap hari naik KRL dari Depok ke Jakarta Kota, saya mulai menyadari bahwa transportasi umum bukan sekadar alat untuk berpindah tempat. Ada banyak pengalaman dan pelajaran yang saya temui di sepanjang perjalanan itu.
Belajar Menjadi Anak Kereta

Rutinitas saya dimulai sejak pagi. Sebelum pukul 07.00 WIB, saya sudah berdiri di peron menunggu KRL tujuan Jakarta Kota. Suasananya hampir selalu sama. Ada pekerja kantoran yang sibuk melihat ponsel, mahasiswa yang masih menguap sambil memeluk ransel, sampai penumpang yang sesekali melirik papan informasi berharap keretanya segera datang. Meski tidak saling mengenal, pagi itu kami sama-sama sedang mengejar waktu.
Begitu kereta datang, suasana langsung berubah. Orang-orang bergerak hampir bersamaan mencari celah untuk masuk ke gerbong. Di jam sibuk, istilah "pepes" memang bukan sekadar candaan. Berdiri rapat, nyaris tanpa ruang untuk bergerak, sudah jadi pemandangan yang biasa. Kadang pintu baru saja terbuka, gerbong sudah terasa penuh.
Saya pernah memilih menunggu kereta berikutnya karena merasa gerbong yang datang terlalu sesak. Saya pikir selisih beberapa menit tidak akan berpengaruh. Ternyata saya salah. Hari itu saya terlambat sampai di tempat magang. Sejak kejadian itu, saya mulai paham kalau naik transportasi umum juga menuntut kita untuk memahami ritme perjalanan dan mengatur waktu dengan lebih baik.
Lama-kelamaan saya mulai hafal pola perjalanan setiap pagi. Saya tahu di bagian mana peron biasanya sedikit lebih lengang dan kapan harus bersiap sebelum kereta berhenti. Kelihatannya memang sepele, tetapi kebiasaan kecil seperti itu cukup membantu. Dari rutinitas yang terus berulang ini, saya sadar bahwa naik transportasi umum bukan hanya soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tanpa terasa, saya belajar datang tepat waktu, mengantre dengan tertib, dan berbagi ruang dengan orang-orang yang masing-masing sedang mengejar tujuan mereka.
Perjalanan yang Membuka Banyak Kesempatan

Setelah turun di Stasiun Jakarta Kota, saya tinggal berjalan kaki menuju Museum Mandiri. Jalannya memang tidak terlalu jauh. Setiap melewati kawasan Kota Tua, suasananya selalu berbeda dengan hiruk-pikuk yang baru saja saya lewati di dalam KRL. Rasanya menyenangkan bisa sampai tepat waktu dan memulai aktivitas tanpa terburu-buru.
Transportasi umum juga memudahkan saya mengikuti berbagai kegiatan di luar magang. Sebagai mahasiswa, saya cukup sering mengikuti kegiatan volunteer, diskusi komunitas, maupun acara kampus di berbagai tempat. Dengan KRL yang terhubung ke moda transportasi lain, saya bisa berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan yang terlalu besar.
Selama di perjalanan, saya sering iseng memperhatikan suasana di dalam gerbong. Ada yang fokus membalas pesan di ponselnya, ada yang membaca buku, ada juga yang memilih tidur karena mungkin harus berangkat sejak pagi sekali. Pemandangan seperti itu hampir selalu saya temui setiap hari.
Lebih dari Sekadar Hemat

Pandangan saya tentang transportasi umum semakin berubah setelah mengikuti acara LINTAS yang diselenggarakan Kementerian Perhubungan. Dari acara itu saya baru menyadari bahwa memilih transportasi umum bukan hanya soal menghindari macet atau menghemat biaya perjalanan. Ada dampak yang lebih besar, yaitu membantu mengurangi emisi dari sektor transportasi.
Sepulang dari acara tersebut, saya jadi penasaran dan mencoba mencari tahu lebih banyak. Dari situlah saya mengenal istilah Net Zero Emission, yaitu kondisi ketika emisi karbon yang dihasilkan manusia tidak melebihi kemampuan alam untuk menyerapnya kembali. Awalnya saya mengira isu seperti ini hanya berkaitan dengan kebijakan pemerintah atau perusahaan besar. Ternyata, kebiasaan sederhana seperti memilih naik KRL dibanding kendaraan pribadi juga menjadi bagian dari upaya tersebut.
Hal itu membuat saya melihat rutinitas berangkat magang dengan cara yang berbeda. Berdiri di peron setiap pagi mungkin terdengar biasa, bahkan melelahkan. Namun di balik rutinitas itu, ada pilihan kecil yang tanpa sadar memberi dampak. Saya memang hanya satu dari ribuan penumpang yang memenuhi KRL setiap hari. Tapi kalau semakin banyak orang melakukan pilihan yang sama, tentu manfaatnya juga akan terasa lebih besar.
Saya jadi semakin percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal-hal besar. Membiasakan diri naik KRL, bus, MRT, atau berjalan kaki untuk perjalanan yang memungkinkan memang terlihat sederhana. Namun justru kebiasaan seperti inilah yang jika dilakukan oleh banyak orang bisa membawa perubahan yang nyata.
Di sisi lain, saya juga masih merasakan beberapa tantangan sebagai pengguna transportasi umum. Gerbong yang sangat padat pada jam berangkat kerja masih sering menjadi tantangan. Saya berharap ke depan jumlah armada bisa terus ditambah, waktu tunggu semakin singkat, dan perpindahan antarmoda menjadi lebih mudah. Kalau pelayanannya semakin nyaman, saya yakin semakin banyak orang yang bersedia meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum.
Bagi saya, perjalanan dari Depok ke Kota Tua sekarang bukan lagi sekadar rutinitas untuk berangkat magang. Perjalanan itu mengajarkan saya datang lebih disiplin, lebih sabar, sekaligus membuat saya sadar bahwa keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari ternyata bisa memberi dampak yang lebih luas.
Besok pagi saya mungkin akan kembali berdiri di peron yang sama, menunggu kereta yang sama, dengan gerbong yang tetap penuh. Bedanya, sekarang saya tidak lagi menganggap perjalanan itu sekadar cara untuk sampai ke tempat tujuan. Setiap perjalanan mengingatkan saya bahwa memilih transportasi umum bukan hanya memudahkan mobilitas, tetapi juga menjadi salah satu cara sederhana untuk ikut menjaga kota yang kita tinggali.