Kolom
Membaca, Memahami, dan Merefleksi: Seni Menjaga Fokus di Tengah Serbuan Gawai
Di tengah derasnya arus informasi yang muncul setiap hari, seseorang sebenarnya bisa saja membaca banyak hal hanya dalam hitungan menit. Mulai dari berita, unggahan media sosial, utas, hingga berbagai konten pendek yang muncul saat scrolling.
Namun, hal ini bukan berarti seseorang benar-benar membaca, memahami, dan mengolah informasi secara mendalam.
Perubahan kebiasaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi. Dengan internet, informasi jadi semakin mudah diakses hingga memberikan jawaban yang cenderung cepat dan masif. Kondisi ini secara tidak langsung membuat orang terbiasa dengan informasi yang ringkas.
Co-Founder The Write & Wonder Club, Almira, menilai perubahan tersebut sebagai salah satu tantangan dalam kebiasaan membaca masyarakat saat ini. Menurutnya, internet mampu memberikan banyak pilihan dalam waktu singkat saat seseorang membutuhkan jawaban terhadap satu persoalan.
Berbeda dengan buku yang membutuhkan proses lebih panjang. Pembaca diharuskan menyelesaikan halaman demi halaman hanya untuk memilih informasi yang relevan dengan kebutuhannya.

"Kalau kita lagi bad mood, kita tinggal cari di internet, 'kenapa kita bad mood?' Langsung keluar jawabannya. Kalau buku, kita harus baca ratusan halaman dulu," kata Almira.
Lambat laun, kebiasaan mendapatkan informasi secara instan turut membuat perhatian lebih mudah terpecah. Misalnya, saat membaca suatu informasi, ada satu notifikasi atau merasa gelisah untuk beralih ke media sosial menjadikan attention span–kemampuan mempertahankan fokus atau konsentrasi pada suatu aktivitas–mereka berubah pendek.
Media Sosial Bikin Jadi Malas Membaca?
Ternyata persoalan terkait kebiasaan membaca dan penggunaan teknologi sebenarnya telah menjadi perhatian sejak beberapa waktu lalu. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui artikel Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos pada tahun 2020 menyoroti penggunaan gawai dengan rendahnya minat membaca buku.
Artikel itu mengingatkan risiko yang terjadi ketika masyarakat menerima dan menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya.
Namun, permasalahan tersebut tidak serta-merta sesederhana melabeli masyarakat sebagai "malas membaca". Ada perubahan cara manusia berinteraksi dengan informasi yang turut andil dalam memengaruhi kebiasaan tersebut.
Seseorang bisa dengan mudah memperoleh informasi hanya dengan beberapa kali sentuhan pada layar gawainya.
Berbeda dengan membaca buku, yang bahkan memerlukan waktu lebih panjang. Seseorang jadi tidak hanya dituntut untuk membaca, tetapi juga mempertahankan perhatian dan menyaring informasi yang ditemuinya.
Almira mengatakan bahwa kemudahan akses informasi ini juga sebenarnya tidak otomatis menjadikan seseorang punya kemampuan literasi yang sama. Ia memandang setiap orang memiliki cara berbeda-beda dalam mengolah dan memproses informasi yang sama sekalipun.
"Karena sebenarnya akses informasi itu kan enggak berarti kita langsung literate. Cara kita memproses informasi itu berbeda-beda," jelasnya.
Membaca Bukan Sekadar Tahu, Tetapi Juga Memahami
Itulah yang menjadi krusial, karena membaca bukan hanya aktivitas untuk mendapatkan informasi. Jauh daripada itu, membaca membuat seseorang mampu memahami konteks secara lebih mendalam. Selain itu, seseorang jadi lebih peka terhadap suatu pertimbangan jika bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Sebagai contoh, buku menyajikan wadah bagi pembaca untuk mengikuti pembahasan secara lebih menyeluruh. Tidak sekadar mengetahui apa yang terjadi, melainkan pembaca diajak memahami mengapa suatu hal terjadi dan bagaimana persoalan tersebut dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Lain halnya dengan media sosial yang cenderung memberikan informasi dalam potongan-potongan pendek. Pola itu dapat memengaruhi proses informasi jadi lebih dangkal dan membuat seseorang kesulitan berpikir kritis.
Karena itu, tantangan literasi di era digital bukan sekadar membuat orang kembali membaca buku. Lebih dari itu, ada desakan terkait pentingnya membangun kebiasaan untuk berhenti sejenak dari arus informasi dan memahami apa yang dibaca lalu direfleksikannya.

Membaca, Memahami, dan Merefleksikan
Konsep itu yang diterapkan di The Write & Wonder Club. Komunitas tersebut mengajak peserta untuk membaca satu buku. Kemudian peserta ini diminta menceritakan kembali apa yang telah dibacanya.
Menurut Almira, kegiatan itu dibuat karena membaca merupakan aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.
"Setelah itu kita bisa refleksiin, misal udah baca tulisan tertentu, yaudah dari situ apa nih refleksinya," tuturnya.
Dengan cara itu, membaca ini diposisikan sebagai bagian dari proses mengenali diri. Informasi-informasi yang diperoleh dari buku tidak berhenti ketika halaman terakhir selesai dibaca, tetapi dilanjutkan melalui obrolan ataupun refleksi.
Pada dasarnya, permasalahan membaca di era digital mungkin tidak bisa dijawab dengan pertanyaan yang jawabannya hitam-putih.
Teknologi sengaja dirancang untuk membuat informasi semakin dekat. Namun, perlu diingat bahwa kemampuan untuk memilih, memahami, mempertanyakan, dan merefleksikan informasi tetap membutuhkan proses.