Kolom
'Binatang Jalang', Noda Chairul Anwar dalam Skema Korupsi Pakan Binatang
Ada yang pernah berwisata ke kebun binatang?
Di Surabaya, terdapat kebun binatang yang santer dan tersohor kemana-mana. Bahkan menjadi kebanggan tersendiri bagi kami anak-anak kabupaten. Kemudian sekarang, nama Kebun Binatang Surabaya naik daun dalam balutan stigma negatif, karena kelakuan salah satu petingginya.
Melansir Suara.com, direktur utama Kebun Binatang Surabaya periode 2016-2024 yakni Chairul Anwar ditetapkan menjadi tersangka atas kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PD TS KBS) oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Penetapan tersangka dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Nomor: KEP-863/M.5/Fd. 2/07/2026 pada 21 Juli 2026.
Modusnya adalah pengadaan pakan hewan fiktif yang merugikan negara sebesar Rp 10,2 M dengan dugaan dana Rp 7,4 M untuk kepentingan pribadi. Sudahlah setiap hari dicekoki berita korupsi besar-besaran yang dilakukan pemangku kebijakan terhadap rakyat, masih ada juga oknum yang berani merampas hak-hak binatang? Ampun...
Kebun Binatang adalah Wisata Edukasi Nyata
Sebagai orang yang pernah berkunjung ke Kebun Binatang Surabaya pada tahun 2007-an, saya akui bahwa kebun binatang adalah tempat yang keren. Di mana kita melihat satwa secara nyata, dan turut belajar lewat papan informasi di setiap kandang hewan. Pun berhasil menjawab rasa penasaran masa kecil, mengenai sebesar apa sih harimau itu? Atau, segagah apa sih singa asli?
Kebun binatang tidak hanya sekadar lokasi wisata akhir pekan, melainkan wisata edukasi menyenangkan yang seharusnya didukung penuh oleh pengelola. Para satwa seharusnya dilindungi, dipelihara, dan dipenuhi haknya sebagai makhluk hidup. Bukannya sibuk merongrong jatah pakan hewan sehingga mereka kurus bahkan mati kelaparan.
Binatang Jalang Secara Harfiah
Semula, saya tidak ingin menulis atau berkomentar apapun terkait kasus ini. Sebab, saya muak dengan berita korupsi terus-menerus. Namun kala mengetahui nama tersangka, tidak bisa dipungkiri bahwa otak langsung teringat pada suatu hal.
Pada puisi bertajuk ‘Aku’ karya Chairil Anwar yang terbit pada 1949. Bait-baitnya masih tersimpan apik di memori, bahkan hafal di luar kepala. Saya tidak bermaksud menyamakan tersangka korupsi dengan maestro sastra tersebut karena beda level. Pun makna dari puisi ‘Aku’ adalah tentang perjuangan, bukannya lakon korupsi.
Tetapi, bait ‘aku ini binatang jalang’ justru menjadi harfiah. Bila Chairil Anwar mengidentifikasikannya sebagai simbol strata sosial tentang orang-orang pribumi biasa yang berjuang mati-matian di jaman itu, Chairul Anwar justru menjadikannya secara harfiah sebagai binatang jalang itu sendiri. Sudahlah gaji besar, masih brutal mengambil hak pakan binatang?
Kebetulan atau Konspirasi
Saya kira tadinya hanya suatu kebetulan karena era puisi 'Aku' dan kasus korupsi pakan binatang ini terpaut sangat jauh. Namun entah mengapa, pilihan diksi Chairil Anwar betul-betul nyalang menusuk. Terutama diksi 'aku ini binatang jalang' yang semakin panas diperbincangkan mengingat kasus besar ini menyeret hak para binatang penghuni Kebun Binatang Surabaya.
Lewat viralnya kasus ini, masyarakat kembali disuguhi noda sosial yang kelam. Kasus-kasus korupsi sana-sini bukan cuma alarm bahaya bagi negara, tetapi diikuti dengan efek nyata yang keji. Terlebih, kasus korupsi ini terasa kian menyakitkan kala melibatkan binatang, yang tentu saja tidak bisa bersuara.
Bila sudah demikian, lantas siapakah binatang yang sesungguhnya? Apakah para penghuni Kebun Binatang Surabaya, ataukah ‘binatang jalang’ yang pernah menjabat sebagai eks direktur utamanya?
Bagaimana menurutmu?