Ulasan

Ulasan Killing Season: Saat Dendam Masa Lalu Berujung Perang Gerilya yang 'Lanang Tenan'

Ulasan Killing Season: Saat Dendam Masa Lalu Berujung Perang Gerilya yang 'Lanang Tenan'
Film Killing Season (IMDb)

Selepas menonton animasi di channel GTV, ternyata ada jadwal penayangan film bertajuk Killing Season yang premisnya bikin penasaran. Bukan tipe film petualangan seperti Jumanji, atau isekai ciamik macam Narnia, melainkan pertarungan jantan sebagaimana The Bodyguard From Beijing. Dan, ekspektasiku terpenuhi.

Melansir IMDb, Killing Season merupakan film besutan sutradara Mark Steven Johnson yang mengusung genre aksi, gore, psychological, dan crime. Film ini sendiri resmi rilis di Indonesia pada 31 Juli 2013, dengan durasi 91 menit yang bakal menyuguhkan apa makna perang yang sesungguhnya.

Dendam Para Veteran Perang yang Tak Berkesudahan

Killing Season mengisahkan Emil Kovac (John Travolta) seorang veteran berdarah Serbia yang mencari musuh bebuyutannya yakni Benjamin Ford (Robert De Niro) setelah Perang Bosnia untuk melampiaskan dendam.

Emil lantas menemukan keberadaan Benjamin yang tinggal sendirian di sebuah pondok di pegunungan, dan membantu memperbaiki mobilnya yang mogok. Mereka kemudian berbincang ala teman lama, mulai dari membahas busur panah dan senapan di pondok Benjamin sampai janji berburu rusa esok pagi.

Alhasil, keesokan harinya mereka berdua benar-benar masuk ke hutan dan mencari posisi untuk menembak rusa. Namun siapa sangka, bahwa pagi itu menjadi awal peperangan murni antara Emil dan Benjamin sebagai buntut dari dendam Perang Bosnia. Situasi semakin tegang tatkala anak dan menantu Benjamin yaitu Chris Ford (Milo Ventimiglia) dan Sarah Ford (Liz Olin) datang berkunjung di mana Emil siap membidik mereka dengan panah.

Akankah Emil mengeksekusi Chris dan Sarah? Atau akankah api dendamnya hanya mengincar Benjamin?

Masterpiece-nya Film Lanang Ini!

Masterpiece! Begitu komentarku setelah menonton film yang satu ini. Dengan plot slow burn dan konflik yang dibuka pelan, dan selingan flashback. Film ini secara gamblang menjelaskan dampak perang yang kejam. Baik luka fisik yang diwakili oleh sisa pecahan meriam di betis Benjamin, sampai esensi trauma perang berpadu dendam kesumat yang tak berkesudahan yang diwakili oleh Emil.

Lewat tagline film berbunyi: the purest war is one on one, Killing Season berupaya menyampaikan narasi bahwa perang yang adil dan murni adalah antar perseorangan. Bukannya jenis perang yang ditunggangi kepentingan politik semata, sampai menyasar golongan-golongan ‘terlarang’ seperti halnya paramedis, wanita, dan anak-anak. Bagiku, film ini adalah elemen nyata dari manifestasi peperangan yang murni, sportif, dan lanang tenan. Bukan tipikal film beraroma propaganda atau semacamnya, melainkan murni personal yang dieksekusi dengan jantan.

Ngarai Tallulah dan Aksen Serbia Travolta

Selain premisnya keren, konsep jelajah virtual dan sinematografi Peter Menzies JR. yang pekat telah membuatku kesengsem. Gaya take-nya ditunjang dengan nuansa yang berubah dari light, warm, sampai tone dark pekat begitu memasuki laga pertarungan lanang. Kendati demikian, yang membuatku merasa takjub dan lucu adalah bagaimana konsep musuh bebuyutan masih bisa memperbaiki mobil bersama.

Kemudian dari set lokasi syuting, aku mendapatkan nama Tallulah Falls setelah googling. Suatu hutan lindung dan kawasan wisata yang mewakili negara 4 musim di Georgia, Amerika Serikat. Dengan hutan dan flora khas, sungai bergemericik cantik, hingga rusa jantan bertanduk besar yang betul-betul membawaku jelajah virtual. Asli cakep parah!

Dari segi aktor, aku terkesima pada aksen John Travolta sebagai tentara Serbia. Aksennya mirip aksen Rusia, dan sorot mata yang bak anjing penyerang tuh menawan sekali. Peperangan mental dan fisik, beradu senjata dan strategi yang kontras. Bak dua rusa jantan yang bertarung di hutan.

Ketegangan Penonton dan Selipan Humor Elegan

Sepanjang film, aku dibuat terkesima dengan konsep pertarungan satu lawan satu ala gerilya yang menegangkan. Baik Benjamin dan Emil masing-masing membawa panah, bersembunyi di antara pepohonan atau ilalang, sambil memberikan kata-kata menohok lewat walkie talkie penghubung. Iya, sportif sih, tapi lucu juga saat menyaksikan musuh bebuyutan masih berkomunikasi di tengah perang. Humornya terasa elegan.

Gerilya sambil menjelajahi Ngarai Tallulah, diselipi dengan scene berdarah yang bikin ngilu tapi kian menambah daya estetika film laga, dan pelajaran moral mengenai simpatik dan beban mental dari para veteran perang.

Kendati begitu, film ini masih memberikan sentuhan nilai rohani yang kental. Walau dibenturkan pada esensi peperangan yang brutal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa aku mengagumi bagaimana film ini disuguhkan dengan rapi. Dalam bingkai aksi, pesona psychological brutal, dan sistemik sportivitas ala Lanang yang menawan hati. Yah meskipun daya gore-nya bikin ngilu, tetapi bisalah ditonton untuk usia 13 tahun ke atas. After all, aku memberikan nilai 9/10 untuk Killing Season.

Identitas Film

  • Judul: Killing Season
  • Sutradara: Mark Steven Johnson
  • Genre: aksi, laga, crime, gore, psychological
  • Rilis: 31 Juli 2013 (Indonesia)
  • Platform: Netflix
  • Negara Asal: Amerika Serikat, Bulgaria, Belgia
  • Bahasa: Bahasa Inggris, Bahasa Serbia
  • Durasi: 91 menit

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda