Ulasan

Masterpiece yang Carut Marut: Kelebihan dan Kekurangan Film Snake Eyes: G.I. Joe Origins

Masterpiece yang Carut Marut: Kelebihan dan Kekurangan Film Snake Eyes: G.I. Joe Origins
Film Snake Eyes: G. I. Joe Origins (IMDb)

Karena pernah membaca novel Mawar Merah: Metamorfosis karya Luna Torashyngu yang bernafaskan mata-mata dan crime, aku lagi-lagi terpesona pada film berunsur sama. Film itu sendiri berjudul Snake Eyes: G. I. Joe Origins yang memadukan budaya kuno dan modern, dengan aksi nyata.

Melansir IMDb, Snake Eyes: G. I. Joe Origins merupakan film besutan sutradara Robert Schwentke berdasarkan Snake Eyes oleh Larry Hama dan G. I. Joe oleh Hasbro. Film ini dengan gamblang membawa genre crime, aksi, martial arts, dan pertarungan yang dipadukan dengan estetika dan moral. Didistribusikan oleh Paramount Pictures, film ini resmi rilis pada 22 Juli 2021 dengan durasi 121 menit.

The Real ‘Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

Snake Eyes: G. I. Joe Origins mengisahkan seorang pemuda yang hidup dari pertarungan atau smackdown jalanan berjuluk Snake Eyes (Henry Goulding) yang mencari pembunuh ayahnya. Dia lantas bertemu dengan Kenta (Takehiro Hira), seorang penyelundup senjata ilegal yang merekrutnya dengan imbalan bantuan menemukan pelaku tersebut.

Hingga konflik internal terjadi. Di mana ada penyelundup dalam organisasi Kenta, yakni Tommy (Andrew Koji) yang merupakan musuh Kenta sekaligus pewaris klan kuno Jepang, Arashikage. Ketika Tommy tersudut, Snake Eyes lantas menolongnya dan mereka kabur ke Jepang.

Tommy secara pribadi merekrut Snake Eyes sebagai bagian dari Arashikage, termasuk mengenalkannya pada petinggi klan Sen (Eri Ishida), Hard Master (Iko Uwais), Blind Master (Peter Mensah), dan Akiko (Haruka Abe) sang kepala keamanan.

Namun, Snake Eyes membelot kepada Arashikage. Sehingga mengobarkan perang besar antara Arashikage yang bersekutu dengan Scarlett (Samara Weaving) terhadap Kenta yang bersekutu dengan Baroness (Ursula Corbero) seorang petinggi organisasi Cobra. Akankah Arashikage mampu mempertahankan kedaulatannya, atau berhasilkah Snake Eyes lari dari kekacauan tersebut dan menemukan pelaku pembunuhan ayahnya?

Rasanya Macam Roller Coaster Emosi

Carut marut sekaligus terpukau dan terpesona. Itulah yang kurasakan setelah beres menonton. Bagiku, film ini adalah masterpiece sekaligus ‘kacau’ dalam artian harfiah.

Dari awal, aku sudah luluh pada sinematografi Bojan Bazelli yang terasa pekat, misterius, tapi membara karena aksi dan martial arts-nya keren parah. Pemilihan aktornya pun nggak sembarangan atau hanya menjual pamor semata, melainkan memiliki background bela diri di real life. Sehingga nuansa aksinya tuh nggak palsu.

Ditunjang dengan eksplanasi mengenai Arashikage, termasuk perpaduan budaya kuno dengan teknologi modern yang kawin, poster film yang menyala, film ini betul-betul menjanjikan plot yang bikin adrenalin terpacu. Bak naik roller coaster lah, dan mengingatkanku pada sebagian eksplanasi plot novel Mawar Merah: Metamorfosis itu sendiri.

Jelajah Virtual Jepang dan Akting Menawan Andrew Koji

Film ini juga berhasil menyedot atensiku lewat jelajah virtualnya yang ciamik. Lokasi yang dipilih pun terbilang menawan dan niat riset banget sih. Bukan sekadar aroma light, melainkan nuansa Japanese lengkap dengan kebudayaan yang dijaga secara turun temurun.

Pada scene nuansa kota metropolitan gemerlap, penonton disuguhi lanskap kota Tokyo yang nggak pernah tidur. Termasuk persimpangan legendaris yakni Shibuya Street yang tersohor ke penjuru dunia, sebagai perwakilan sisi teknologi modern.

Kemudian sisi budaya kuno disajikan lewat lanskap Kastil Kishiwada di Osaka yang menjadi rumah tinggal klan Arashikage. Diselingi juga dengan lokasi kuil kuno yaitu Kuil Senso-ji di Asakusa, dan juga Kuil Zojo-ji di Minato-ku.

Dari segi akting pemeran, fokus utamaku bukan kepada Henry Goulding selaku tokoh utama, melainkan Andrew Koji yang betul-betul mewakili karakter Tommy, terutama pada ekspresi pekat dan sorot mata tajam khas Asia. Apalagi sewaktu bekerja sama dengan Haruka Abe, pesonanya sebagai Tuan Muda Arashikage ngena banget. Jujurly sampai film berakhir, bagiku Andrew Koji sukses mengeksekusi karakter dengan totalitas, baik dari akting sampai scene pertarungan.

Story Diacak-acak, Villain Sengaja Diciptakan!

Seperti yang kubilang, film ini adalah masterpiece yang juga carut marut. Aku sendiri mengagumi bagaimana sinematografinya kawin dengan eksplanasi budaya dan jelajah virtual Jepang. Namun, ada buanyak hal yang malah menurunkan penilaian.

Pertama, Tommy polos atau bodoh? Hanya karena diselamatkan sekali oleh Snake Eyes, dia langsung menjelma people pleaser jor-joran. Maksudku, kalau dia memang dididik secara ketat, instingnya haruslah kuat dan akurat. Namun, dalam film ini dia justru di-nerf, dibuat ala kutu buku bodoh, dan dibuang begitu saja.

Kedua, nyaris tidak ada bahasa Jepang padahal sedang berada di markas klan Arashikage. Bahkan pada dialog mereka sekalipun, sehingga film terkesan kian light.

Ketiga, blunder plot fatal. Aku geram sewaktu Tommy dibuang oleh Arashikage karena dia menggunakan kekuatan Batu Matahari demi mengalahkan Kenta. Namun, ‘memungut’ Snake Eyes bahkan memfasilitasinya sebagai G. I. Joe setelah dia membelot pada Arashikage, mencuri Batu Matahari, dan menyerahkannya pada Kenta. Like, waras nggak sih?

Representasi Kehidupan yang Penuh Plot Twist

Kendati plotnya acakadut dengan sekian blunder, aku akui bahwa film ini merepresentasikan kehidupan nyata. Tidak ada yang benar-benar bisa diprediksi. Siapa yang terpuruk bisa bangkit, yang sedang di puncak bisa jatuh, dan kawan bisa menjadi musuh dalam sekejap. Namun dalam karya sebuah film, kekacauan plot betulan mengganggu sih.

Walau begitu, aku respect pada sajian martial arts yang totalitas. Film ini bisalah ditonton oleh usia 13 tahun ke atas, mengingat nuansa misterius ala genre crime dan petualangan yang cukup seru.

Menilik dari berbagai sisi, Snake Eyes: G. I. Joe Origins layak mendapat nilai 6.7/10.

Identitas Film

  • Judul: Snake Eyes: G. I. Joe Origins
  • Sutradara: Robert Schwentke
  • Genre: crime, misteri, martial arts, aksi
  • Rilis: 22 Juli 2021
  • Distributor: Paramount Pictures
  • Negara Asal: Amerika Serikat
  • Bahasa: Bahasa Inggris, Bahasa Jepang (sebagian kecil)
  • Durasi: 121 menit

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda