Kolom

Kalau Semua Orang Mau Naik Transum, Mungkin Kota Kita Tak Semacet Sekarang?

Kalau Semua Orang Mau Naik Transum, Mungkin Kota Kita Tak Semacet Sekarang?
Ilustrasi kemacetan akibat tidak lakunya transportasi umum. [ChatGPT]

Pernahkah kita membayangkan bagaimana kondisi jalanan jika sebagian besar masyarakat memilih menggunakan transportasi umum dibanding kendaraan pribadi? Mungkin kemacetan tidak akan separah sekarang, kualitas udara menjadi lebih baik, dan perjalanan sehari-hari terasa lebih nyaman. Sayangnya, harapan itu masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Banyak orang masih menganggap kendaraan pribadi sebagai simbol kenyamanan. Padahal, di kota-kota besar, memiliki kendaraan sendiri tidak selalu berarti perjalanan menjadi lebih cepat. Tak jarang waktu justru habis di tengah antrean kendaraan yang mengular setiap pagi dan sore.

Karena itulah, kampanye mengenai pentingnya transportasi umum masih sangat relevan untuk terus digaungkan. Salah satunya melalui agenda "Pilihan Bijak, Naik Transportasi Umum" yang mengangkat tema "Transportasi Hijau dan Mobilitas Berkelanjutan." Kegiatan yang diinisiasi Kementerian Perhubungan ini akan digelar pada Jumat, 24 Juli 2026 di Al Jazeera Signature, Jakarta Pusat.

Bagi sebagian orang, ajakan seperti ini mungkin terdengar biasa. Namun jika dipikirkan lebih jauh, persoalan transportasi bukan sekadar soal bagaimana kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Cara kita memilih moda transportasi setiap hari ikut menentukan seperti apa wajah kota di masa depan.

Semakin banyak kendaraan pribadi yang memenuhi jalan, semakin besar pula konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang dilepaskan ke udara. Dampaknya bukan hanya kemacetan, tetapi juga kualitas lingkungan yang terus menurun. Pada akhirnya, masyarakat sendiri yang merasakan akibatnya melalui udara yang semakin tidak sehat hingga waktu produktif yang terbuang di jalan.

Sebaliknya, transportasi umum hadir sebagai solusi yang mampu menjawab berbagai persoalan sekaligus. Satu bus atau satu rangkaian kereta dapat mengangkut puluhan bahkan ratusan penumpang dalam satu perjalanan. Bayangkan jika seluruh penumpang tersebut memilih membawa kendaraan masing-masing. Jalanan tentu akan jauh lebih padat daripada sekarang.

Hal menarik lainnya adalah perubahan cara pandang generasi muda terhadap transportasi publik. Kini, menggunakan transportasi umum mulai dipandang sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran mengenai isu perubahan iklim membuat banyak anak muda tidak lagi hanya mempertimbangkan faktor kenyamanan, tetapi juga dampak yang ditimbulkan dari setiap pilihan yang mereka ambil.

Meski demikian, membangun budaya menggunakan transportasi umum tentu tidak bisa mengandalkan kesadaran masyarakat semata. Pemerintah tetap memiliki peran penting dalam menghadirkan layanan yang aman, nyaman, tepat waktu, dan mudah dijangkau. Ketika kualitas layanan meningkat, masyarakat pun akan lebih percaya untuk meninggalkan kendaraan pribadinya.

Yang menarik, perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Justru kebiasaan kecil yang dilakukan banyak orang sering kali menghasilkan dampak yang luar biasa. Misalnya, mulai menggunakan transportasi umum satu atau dua hari dalam seminggu. Jika dilakukan oleh jutaan orang, pengaruhnya terhadap kemacetan maupun kualitas udara tentu tidak bisa dianggap sepele.

Melalui agenda "Pilihan Bijak, Naik Transportasi Umum", pesan yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana. Menggunakan transportasi publik bukan berarti mengurangi kenyamanan, melainkan menunjukkan bahwa kita peduli terhadap lingkungan sekaligus masa depan kota tempat kita tinggal.

Pada akhirnya, kota yang nyaman bukan hanya ditentukan oleh banyaknya jalan layang atau pelebaran ruas jalan. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang masyarakatnya mau beralih ke transportasi umum karena merasa layanan tersebut memang layak dipilih. Mungkin perubahan itu tidak akan terjadi dalam semalam. Namun, setiap perjalanan yang dimulai dengan menaiki transportasi umum bisa menjadi langkah kecil menuju kota yang lebih sehat, lebih tertata, dan lebih berkelanjutan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda