Kolom
Dari Desa Wisata Menuju Lestari, Cara Kemiren Belajar Mencintai Lingkungan
Desa Adat Osing Kemiren selama ini lebih dikenal sebagai wajah pariwisata budaya Banyuwangi. Orang datang untuk menyaksikan tradisi, mencicipi kuliner khas, hingga merasakan kehidupan masyarakat Osing yang masih lestari. Namun, di balik geliat pariwisata itu, ada perubahan lain yang perlahan tumbuh.
Perubahan tersebut tidak selalu tampak di hadapan wisatawan, tetapi justru terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakatmasyarakat yaitu kesadaran menjaga lingkungan.
Muhammad Edy Saputro atau Kang Edai, Ketua Desa Wisata Kemiren sekaligus local hero Desa Sejahtera Astra (DSA), menceritakan bahwa sebelum bergabung dengan program DSA, fokus pengembangan desa lebih banyak diarahkan pada kewirausahaan dan penguatan desa wisata.
"Awalnya kami memang hanya fokus mengembangkan desa wisata dan wirausaha masyarakat. Setelah bergabung dengan DSA, kami melihat pembangunan desa ternyata bisa jauh lebih luas karena ada empat bidang pengembangan yang saling mendukung," ujar Kang Edai saat wawancara, Sabtu (1/8/2026).
Dari Membakar Daun ke Membuat Kompos, Wajah Baru Desa Kemiren

Dari situlah lahir berbagai inisiatif yang sebelumnya belum banyak terpikirkan, mulai dari pembuatan pupuk organik hingga edukasi pemilahan sampah. Program tersebut tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi juga melibatkan berbagai elemen masyarakat. DSA menggandeng PAUD, SD Desa Kemiren, hingga Posyandu agar kesadaran menjaga lingkungan dapat ditanamkan sejak usia dini dan menjadi budaya baru di tengah masyarakat.
Langkah ini menarik karena persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar di banyak daerah di Indonesia. Baik di kota maupun di desa, sampah sering kali masih dipandang sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan, bukan dikelola. Akibatnya, praktik membakar sampah, terutama daun-daun kering, masih menjadi pemandangan yang lumrah setiap pagi.
Padahal, kebiasaan tersebut bukan hanya menyumbang polusi udara, tetapi juga menghilangkan potensi yang sebenarnya sangat berharga. Daun-daun kering dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Ketika Edukasi Lingkungan Tumbuh dari Desa Adat Kemiren

Kesadaran inilah yang perlahan mulai tumbuh di Kemiren. Melalui pendampingan DSA, masyarakat dikenalkan pada cara memilah sampah sesuai jenisnya dan mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan kembali. Edukasi sederhana ini perlahan mengubah cara pandang warga terhadap limbah rumah tangga.
"Meski masih baru, tapi kami mulai merasakan manfaatnya dan sudah ada rencana keberlanjutan," kata Kang Edai.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku memang tidak dapat terjadi dalam semalam. Edukasi lingkungan membutuhkan proses panjang, konsistensi, dan keterlibatan masyarakat. Namun, ketika masyarakat mulai merasakan manfaat secara langsung, peluang perubahan menjadi budaya akan semakin besar.
Yang patut diapresiasi, program ini tidak hanya menyasar orang dewasa. Anak-anak di PAUD dan sekolah dasar juga mulai dikenalkan pada pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Strategi ini penting karena membangun kesadaran ekologis jauh lebih efektif ketika dilakukan sejak dini. Anak-anak yang terbiasa memilah sampah di sekolah berpotensi membawa kebiasaan baik itu ke rumah, bahkan memengaruhi orang tuanya.
Mengubah Kebiasaan Warga, Misi Besar Desa Kemiren Menjaga Lingkungan

Kemiren memberi pelajaran bahwa desa wisata tidak cukup hanya menjual keindahan budaya kepada wisatawan. Desa juga perlu menjaga lingkungan yang menjadi penyangga seluruh aktivitas masyarakat. Lingkungan yang bersih bukan hanya meningkatkan kualitas hidup warga, tetapi juga memperkuat daya tarik wisata itu sendiri.
Di tengah persoalan sampah yang belum kunjung tuntas di banyak daerah, langkah kecil yang dilakukan Kemiren layak mendapat perhatian. Edukasi pemilahan sampah, pembuatan pupuk organik, hingga pelibatan sekolah dan Posyandu memang terdengar sederhana. Namun, justru dari langkah-langkah sederhana itulah perubahan besar sering kali bermula.
Kemiren menunjukkan bahwa pembangunan desa bukan hanya soal membangun jalan, mendatangkan wisatawan, atau meningkatkan pendapatan ekonomi. Membangun desa juga berarti membangun kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan.
Desa yang lestari bukan hanya menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi, melainkan juga tempat yang sehat untuk ditinggali oleh generasi hari ini dan masa depan.