Kolom
Tall Poppy Syndrome: Ketika Orang Berhasil Justru Dicari Kekurangannya
Pernah melihat seseorang yang terlalu menonjol kemudian tiba-tiba menjadi sasaran komentar? Ketika cantik, dibilang cuma mengandalkan penampilan. Ketika pintar, dianggap sok tahu. Ketika cantik sekaligus pintar, malah dicap sombong. Ketika sukses, dicurigai. Ketika percaya diri, disebut mencari perhatian. Kadang, apa pun yang dilakukan seseorang selalu dianggap salah ketika ia terlihat “lebih” dibandingkan orang-orang di sekitarnya.
Fenomena semacam ini memiliki istilah Tall Poppy Syndrome. Istilah tersebut berasal dari analogi bunga poppy yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan bunga lainnya. Dalam analogi ini, bunga yang menjulang justru dipotong agar kembali sejajar dengan yang lain. Dalam kehidupan sosial, “memotong” tentu bukan secara harfiah. Bentuknya bisa berupa meremehkan pencapaian, mencari-cari kekurangan, menyebarkan komentar negatif, mengecilkan kemampuan, atau membuat seseorang merasa bersalah karena keberhasilannya.
Masalahnya, masyarakat terkadang lebih nyaman melihat seseorang tetap berada dalam batas yang dianggap “wajar”. Orang yang terlalu berbeda dapat dianggap mengganggu keseimbangan sosial. Ia seolah merusak stereotip yang sudah lama tertanam. Misalnya, perempuan cantik dianggap tidak perlu pintar. Orang pintar dianggap kurang menarik. Orang yang memiliki keduanya kemudian dianggap terlalu percaya diri. Seolah-olah seseorang harus memilih satu kelebihan dan menyembunyikan kelebihan lainnya agar dapat diterima.
Padahal, manusia tidak bekerja dengan sistem seperti itu. Seseorang bisa cantik sekaligus cerdas. Bisa sukses sekaligus rendah hati. Bisa percaya diri tanpa bermaksud merendahkan orang lain. Bahkan seseorang dapat memiliki banyak kelebihan sekaligus tetap mempunyai kekurangan. Persoalannya kemudian bukan pada orang yang tumbuh tinggi, melainkan pada cara lingkungan meresponsnya.
Dalam banyak kasus, kritik memang diperlukan. Tidak semua komentar negatif merupakan bentuk Tall Poppy Syndrome. Seseorang yang sukses tetap bisa melakukan kesalahan dan layak mendapatkan kritik ketika memang ada perilaku yang perlu dikoreksi.
Namun, kritik dan upaya menjatuhkan adalah dua hal berbeda. Kritik membahas tindakan atau persoalan secara spesifik. Sementara upaya menjatuhkan sering kali menyerang pribadi, meremehkan pencapaian, atau mencari kesalahan hanya untuk mengembalikan seseorang ke posisi yang dianggap “setara”.
Di sinilah rasa tidak aman terhadap diri sendiri dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Ketika pencapaian orang lain membuat seseorang merasa dirinya tertinggal, respons yang muncul bisa berupa perbandingan sosial. Alih-alih bertanya, “Apa yang bisa saya pelajari?”, seseorang justru mencari alasan untuk membuktikan bahwa orang lain sebenarnya tidak sehebat itu.
Tetapi penting juga untuk tidak menggunakan Tall Poppy Syndrome sebagai label untuk membungkam semua kritik. Menuduh setiap orang yang tidak menyukai kita sebagai “insecure” juga merupakan bentuk penyederhanaan. Bisa saja seseorang memang memiliki alasan yang valid untuk tidak setuju atau memberikan penilaian berbeda.
Yang lebih sehat adalah belajar membedakan antara kritik yang membantu dan sikap yang sengaja mengecilkan. Sebab keberhasilan orang lain sebenarnya tidak mengambil jatah keberhasilan kita. Teman yang mendapatkan pekerjaan impian tidak membuat kesempatan kita menjadi lebih sedikit. Orang lain yang memiliki penampilan menarik tidak mengurangi nilai diri kita. Rekan yang berprestasi tidak otomatis membuat pencapaian kita menjadi tidak berarti.
Kita tidak harus menjadi bunga yang paling tinggi untuk memiliki nilai. Begitu pula, kita tidak perlu memotong bunga orang lain hanya agar merasa tidak tertinggal. Mungkin sudah waktunya mengubah kebiasaan membandingkan menjadi kebiasaan mengapresiasi. Ketika melihat seseorang tumbuh lebih tinggi, kita tidak selalu harus bertanya mengapa ia begitu menonjol.
Kita bisa bertanya bagaimana ia sampai di sana, apa yang dapat dipelajari, dan bagaimana kita bisa tumbuh dengan cara kita sendiri. Karena dunia tidak akan menjadi lebih baik ketika semua orang dipaksa memiliki tinggi yang sama. Biarkan bunga yang tumbuh tinggi tetap tumbuh. Kita tidak kehilangan apa pun hanya karena bunga lain sedang mekar lebih indah.