Kolom

Warteg dalam Perspektif Gender: Tempat Makan yang Tak Ramah Perempuan

Warteg dalam Perspektif Gender: Tempat Makan yang Tak Ramah Perempuan
Warteg (Suara.com/Dhia Sukmahadi Putra Nugraha)

Kalau bicara soal tempat makan murah, warteg hampir selalu masuk dalam daftar pilihan. Harganya terjangkau, menunya beragam, dan keberadaannya mudah ditemukan.

Tetapi, coba perhatikan siapa yang paling sering terlihat makan di sana. Dibandingkan laki-laki, perempuan cenderung jarang menjadikan warteg sebagai tempat makan sehari-hari.

Fenomena ini kemudian melahirkan anggapan yang cukup sederhana. Perempuan dianggap lebih suka tempat makan yang mahal, nyaman, estetik, atau sekadar fancy. Tidak jarang pula perempuan yang memilih restoran atau kafe daripada warteg dicap matre dan gengsian.

Padahal, keputusan untuk tidak makan di warteg tidak selalu berkaitan dengan harga makanan atau keinginan untuk terlihat berkelas. Ada pertimbangan lain yang sering tidak terlihat, yaitu soal kenyamanan dan rasa aman.

Saya pun sebenarnya suka jajan di warteg. Hanya saja, saya lebih sering membungkus makanan daripada makan di tempat. Ketika warteg sedang ramai, terutama kalau mayoritas pengunjungnya laki-laki, saya merasa kurang nyaman untuk duduk dan makan lama-lama.

Lantas, mengapa warteg yang terbuka untuk siapa saja justru bisa terasa tidak nyaman bagi perempuan?

Warteg dan Pengalaman Perempuan yang Berbeda

Menurut saya, masalahnya bukan berarti warteg adalah tempat yang buruk atau tidak aman bagi perempuan. Banyak juga perempuan yang tetap nyaman makan di warteg tanpa mengalami hal yang mengganggu. Namun, pengalaman setiap orang tentu bisa berbeda.

Ada warteg yang sebagian besar pengunjungnya laki-laki. Ada juga yang dipenuhi orang yang merokok sambil mengobrol.

Bagi perempuan yang datang sendiri atau hanya berdua dengan temannya, suasana seperti ini kadang bisa membuat tidak nyaman karena merasa menjadi satu-satunya atau salah satu dari sedikit perempuan di sana. Belum lagi jika ada yang melontarkan candaan kepada perempuan, menatap berlebihan, hingga melakukan catcalling.

Hal-hal seperti itu sering dianggap sepele. Bagi yang melakukannya, mungkin hanya candaan atau sekadar iseng. Namun, bagi perempuan yang mengalaminya, hal tersebut sangat mengganggu dan membuat mereka merasa tidak nyaman.

Bahkan sekadar berjalan melewati sekelompok laki-laki saja kadang sudah membuat perempuan waspada karena khawatir mendapat komentar tentang penampilan, tubuh, atau hal lain yang tidak mereka inginkan.

Pilihan yang Terbentuk dari Pengalaman

Menurut saya, anggapan bahwa perempuan jarang makan di warteg semata-mata karena gengsi perlu dilihat kembali. Pilihan tempat makan tidak hanya ditentukan oleh harga atau selera. Pengalaman yang pernah dialami seseorang, termasuk pengalaman yang membuat tidak nyaman, juga bisa ikut membentuk keputusan sederhana seperti memilih tempat untuk makan.

Perempuan yang pernah mendapat komentar ketika berjalan melewati sekelompok laki-laki, misalnya, mungkin akan lebih berhati-hati ketika melihat tempat yang ramai oleh laki-laki.

Bukan berarti ia menganggap semua laki-laki akan melakukan hal yang sama. Namun, pengalaman buruk membuat seseorang belajar mengenali situasi yang berpotensi membuatnya tidak nyaman.

Jangan Jadikan Perempuan sebagai Objek Masalah

Menurut saya, hal yang menarik justru terletak pada cara pembicaraan soal perempuan dan warteg sering kali hanya berfokus pada perempuan itu sendiri. Mereka disebut terlalu pilih-pilih, tidak mau makan murah, terbiasa dengan tempat yang nyaman, sampai dianggap matre. Padahal, jarang sekali kita membicarakan suasana yang membuat mereka mengambil pilihan tersebut.

Kalau memang ingin bertanya mengapa perempuan jarang makan di warteg, kita juga perlu melihat apa yang terjadi di dalam ruang tersebut dan bagaimana orang-orang di dalamnya memperlakukan satu sama lain.

Warteg tentu tidak harus berubah menjadi tempat makan yang eksklusif atau dibuat khusus untuk perempuan. Sebaliknya, warteg seharusnya tetap menjadi ruang yang sederhana dan terbuka untuk siapa saja.

Namun, terbuka untuk semua orang bukan berarti cukup dengan membiarkan siapa pun masuk. Cara orang berperilaku di dalamnya juga menentukan apakah seseorang merasa benar-benar diterima.

Hal yang sama sebenarnya berlaku di banyak ruang publik lain. Perempuan memang memiliki hak yang sama untuk berjalan di trotoar atau menggunakan transportasi umum. Tetapi hak untuk berada di sana tidak otomatis membuat pengalaman mereka terasa aman dan nyaman.

Oleh karena itu, menurut saya, pilihan perempuan untuk makan di restoran, kafe, atau bahkan memesan makanan untuk dibawa pulang tidak bisa langsung diartikan sebagai perilaku boros. Bisa saja pilihan tersebut terbentuk dari pengalaman dan pertimbangan yang tidak terlihat dari luar.

Ada semacam biaya kenyamanan yang sering luput diperhitungkan. Perempuan mungkin harus memilih tempat yang lebih mahal, berjalan sedikit lebih jauh, atau mengeluarkan ongkos pesan antar agar bisa makan tanpa terus merasa waspada.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda