Kolom

Buku Fiksi vs Self-Improvement: Mana yang Lebih Mengasah Empati?

Buku Fiksi vs Self-Improvement: Mana yang Lebih Mengasah Empati?
Ilustrasi membaca buku (magnific)

Ada banyak alasan seseorang memilih sebuah buku untuk dibaca. Ada yang ingin menemukan jawaban atas masalah yang sedang dihadapi, ada yang ingin memahami dirinya sendiri, dan ada pula yang sekadar ingin tenggelam dalam cerita untuk beberapa waktu. Oleh karena itu, pengalaman membaca satu buku dengan buku lainnya tentu tidak pernah benar-benar sama.

Belakangan, pilihan bacaan juga kerap dikaitkan dengan proses seseorang untuk berkembang. Buku self-improvement dianggap dapat membantu pembaca mengenali pola pikir dan kebiasaannya, sementara buku fiksi menawarkan cerita tentang berbagai karakter dengan latar kehidupan yang beragam. Keduanya punya cara masing-masing untuk membawa pembaca melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.

Namun, ada satu hal yang menarik untuk dikulik lebih jauh. antara buku fiksi dan self-improvement, mana yang bisalebih mengasah empati kita sebagai manusia?

Self-Improvement Mengajarkan Cara Memahami Diri

Buku self-improvement biasanya datang dengan sesuatu yang cukup kita kenal dalam kehidupan sehari-hari, yaitu masalah tentang diri sendiri.

Kita diajak melihat kebiasaan, pola pikir, cara menghadapi emosi, sampai hubungan kita dengan orang lain. Penjelasannya pun sering dibuat lebih terstruktur supaya pembaca bisa mengikuti gagasan yang disampaikan dengan mudah.

Menurut saya, pendekatan seperti ini tetap punya nilai. Ada kalanya kita memang membutuhkan seseorang untuk membantu memberi nama pada sesuatu yang selama ini sulit kita pahami. Dari sebuah buku, kita mungkin baru sadar bahwa kebiasaan tertentu punya pola, bahwa cara berpikir kita tidak selalu netral, atau bahwa ada hal dalam diri yang perlu diperhatikan.

Namun, memahami sebuah konsep tidak otomatis membuat kita memahami manusia secara utuh. Kita bisa saja mengetahui istilah tentang trauma, boundaries, attachment, atau toxic relationship, tetapi kehidupan manusia tidak selalu berjalan serapi contoh yang ada di buku.

Fiksi Membawa Kita Masuk ke Kehidupan Orang Lain

Hal menarik dari buku fiksi adalah kita tidak selalu diberi penjelasan secara langsung tentang bagaimana seseorang seharusnya bersikap. Kita justru diajak mengikuti kehidupan tokohnya. Ada karakter yang mengambil keputusan buruk, menyimpan luka, atau melakukan sesuatu yang awalnya tidak kita mengerti.

Dari sana, pembaca punya kesempatan untuk melihat sebuah masalah dari sisi yang berbeda. Kita mungkin tidak setuju dengan keputusan seorang tokoh, tetapi cerita membuat kita mengetahui alasan di balik keputusan tersebut.

Kita belajar bahwa tindakan seseorang sering kali punya cerita di belakangnya. Bukan berarti semua tindakan harus dibenarkan, tetapi kita diberi ruang untuk memahami bahwa manusia memiliki pemikiran yang kompleks.

Meski begitu, bukan berarti membaca novel otomatis membuat seseorang lebih empatik. Kalau kita hanya mengikuti cerita tanpa mencoba memahami perspektif yang ditawarkan, pengalaman tersebut bisa saja berhenti sebagai hiburan.

Empati Bisa Dikembangkan dari Cara yang Berbeda

Buku self-improvement punya cara sendiri untuk mengajak kita mengenali diri, memahami pola pikir, dan merefleksikan kebiasaan. Sementara itu, fiksi membawa kita melihat kehidupan lewat tokoh, konflik, dan berbagai latar yang mungkin jauh dari pengalaman kita sendiri.

Hasilnya pun bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang merasa terbantu karena menemukan gagasan dalam buku self-improvement yang terasa dekat dengan kehidupannya. Ada juga yang justru lebih memahami orang lain setelah mengikuti perjalanan tokoh dalam sebuah novel.

Jadi, pengalaman membaca tidak hanya ditentukan oleh jenis bukunya, tetapi juga oleh bagaimana kita menangkap dan memaknai cerita atau gagasan yang ada di dalamnya.

Menurut saya, kita bisa membaca buku yang membahas cara memahami orang lain, tetapi pengetahuan itu tidak akan banyak berarti kalau berhenti sebagai teori. Empati juga terlihat dari hal-hal sederhana dalam keseharian, seperti mau mendengarkan, tidak buru-buru menilai, dan berusaha memahami alasan di balik tindakan seseorang.

Oleh karena itu, rasanya kurang tepat kalau fiksi dan self-improvement harus dipertentangkan untuk mencari mana yang paling mampu mengasah empati karena keduanya punya cara yang berbeda dalam membantu kita memahami manusia.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda